Popular Posts

Selasa, 15 Mei 2012

Cerita Motivasi 1


“Your successes and happiness are forgiven you only if you generously consent to share them. – Kesuksesan dan kebahagiaan akan sangat berarti jika kau mau berbagi dengan orang lain.” Albert Camus
Untuk dapat sekedar hidup, mungkin kita tidak perlu bersusah payah mencari peluang ataupun memikirkan bagaimana meningkatkan kualitas dan manfaat diri kita. Namun sebagai mahluk yang paling spesial diantara mahluk ciptaan Tuhan YME, kita berkewajiban untuk mendapatkan kehidupan yang berarti. Kita harus berupaya semaksimal mungkin. Sebuah pepatah bijak menyebutkan, “Find a meaningful need and fill it better than anyone else. – Kejarlah sesuatu yang bermakna, dan gunakanlah setiap peluang yang ada secara lebih baik dari siapapun.”
Ada beberapa langkah untuk menjadikan kehidupan kita menjadi lebih berarti. Langkah pertama adalah memperbesar kemauan untuk belajar. Manusia mempunyai pikiran yang luar biasa, maka gunakan pikiran tersebut untuk belajar menciptakan kemajuan-kemajuan dalam hidup. Kita dapat belajar dari berbagai hal, diantaranya adalah belajar kepada pengalaman hidup, kegagalan, kejadian sehari-hari, orang lain dan sebagainya. Maka tingkatkan terus kemauan belajar.
Langkah kedua supaya kehidupan kita lebih berati adalah mencoba melakukan sesuatu agar lebih dekat dengan impian yang diidamkan. Bekerjalah lebih keras, lebih aktif atau produktif. Langkah ini sangat efektif dalam meningkatkan kemungkinan mendapatkan uang, kekayaan atau segala sesuatu yang berharga bagi manusia.
Satu hal yang patut dijadikan pedoman bahwasanya kerja keras itu bukan semata-mata mengejar 5 P, yaitu power (kekuasaan), position (posisi), pleasure (kesenangan), prestige (kewibawaan) dan prosperity (kekayaan). Setiap usaha yang hanya berorientasi kepada lima hal tersebut memang menjamin kesuksesan atau bahkan hasil yang melimpah
ruah, tetapi tidak menjamin sebuah akhir yang menyenangkan. Contohnya adalah sebuah fakta tentang delapan orang miliarder di Amerika Serikat yang berkumpul di Hotel Edge Water Beach di Chicago, Illionis pada tahun 1923. Mereka adalah orang-orang yang sangat sukses, tetapi mengalami nasib tragis 25 tahun kemudian.
Salah seorang diantara mereka adalah Charles Schwab, CEO perusahaan besi baja ternama pada waktu itu, yaitu Bethlehem Steel. Tetapi Charles Schwab mengalami kebangkrutan total. Sehingga ia terpaksa berhutang untuk membiayai hidupnya selama 5 tahun sebelum meninggal. Yang kedua adalah Richard Whitney, President New York Stock Exchange. Namun pria ini ternyata menghabiskan sisa hidupnya dipenjara Sing Sing. Orang ketiga adalah Jesse Livermore, raja saham “The Great Bear” di Wall Street. Tetapi Jesse mati bunuh diri.
Orang ke empat adalah “The Match King”, Ivar Krueger, CEO perusahaan hak cipta, yang juga mati bunuh diri. Begitu juga dengan Leon Fraser, Chairman of Bank of International Settlement, ia mati bunuh diri. Yang keenam adalah Howard Hupson, CEO perusahaan gas terbesar di Amerika Utara. Tetapi ia sakit jiwa dan dirawat di rumah sakit jiwa
hingga akhir hidupnya. Arthur Cutton sebelumnya adalah pemilik pabrik tepung terbesar di dunia, tetapi ia meninggal di negri orang lain. Sedangkan Albert Fall, waktu itu ia adalah anggota kabinet presiden
Amerika Serikat. Namun ia meninggal di rumahnya di Texas ketika baru saja keluar dari penjara.
Di dunia ini tidak sedikit orang yang semula sangat sukses, tetapi merana di tahun-tahun terakhir kehidupan mereka. Kehidupan mereka seakan-akan tidak berarti meskipun sebelumnya sangat kaya raya. Upaya terbaik memang dapat menghasilkan kesuksesan besar, tetapi bukan berarti merupakan jaminan sebuah akhir kehidupan sebagai manusia yang penuh arti.
Karena itu langkah berikutnya yang harus kita lakukan adalah mengimbangi kerja keras dengan berbuat kebaikan. Seorang penulis pada abad 20-an yang berkebangsaan Perancis, André Gide, mendefinisikan kebaikan itu sebagai berikut; “True kindness presupposes the faculty of imagining as one’s own the suffering and joys of others. –
Kebaikan yang sesungguhnya adalah kemampuan merasakan penderitaan maupun kebahagiaan orang lain.”
Kerja keras yang diimbangi dengan berbuat kebaikan akan menghasilkan semangat yang tinggi untuk mendapatkan lebih dari apa yang dibutuhkan. Hal itu terdorong oleh keinginan untuk dapat berbagi kebahagiaan dengan orang lain. Pada akhirnya kebaikan tersebut berpengaruh positif terhadap semangat hidup, motivasi, dan kemajuan
sikap dan ekonomi. James Allen, penulis buku berjudul As a Man Thinketh mengatakan, “Pemikiran serta perbuatan baik tidak mungkin mendatangkan hasil yang buruk; pemikiran dan perbuatan buruk tidak
mungkin mendatangkan hasil baik.”
Dengan belajar, bekerja keras dan berbuat kebaikan maka kita akan dapat menciptakan kehidupan yang jauh lebih berarti. Langkah-langkah sebagaimana dijelaskan diatas terbukti juga sangat efektif menjadikan kesan positif tentang diri kita tidak mudah dilupakan orang. Saya meyakini bahwa kita masih mempunyai banyak kesempatan dan potensi untuk mendapatkan kehidupan berharga itu dimanapun dan apapun pekerjaan kita.
Sumber: Make A Life, Not Merely A Living – Ciptakan Kehidupan, Bukan Sekedar Hidup  oleh Andrew Ho.
MENGUBAH DUNIA
Ketika aku masih muda dan bebas berhayal, aku bermimpi ingin mengubah dunia, seiring dengan bertambahnya usia dan kearifanku, kudapati bahwa dunia tidak kunjung berubah.
Maka cita-cita itu pun agak kupersempit, lalu ku putuskan untuk hanya mengubah negriku namun tampaknya, hasrat itupun tiada hasilnya.
Ketika usiaku semakin senja, dengan semangatku yang masih tersisa, kuputuskan untuk mengubah keluargaku, orang yang paling dekat denganku. tetapi celakanya, merekapun tidak mau diubah! dan kini, sementara aku berbaring saat ajal menjelang, tiba-tiba ku sadari:
“Andaikan yang pertama -tama kuubah adalah Diriku,
Maka dengan menjadikan diriku sebagai panutan, mungkin aku bisa mengubah keluargaku.
Lalu berkat inspirasi dan dorongan mereka, bisa jadi aku pun mampu memperbaiki Negriku
Kemudian siapa tahu, aku bahkan bisa mengubah dunia!”

PERCAYA DIRI

WAKTU masih kecil, Anda mungkin pernah mendengar kisah adaptasi ‘The Little Engine That Could’? Buku itu bercerita tentang kereta api yang bergerak ke bukit dengan perlahan dan tersendat. Lokomotifnya berkata pada diri sendiri, “Aku bisa, aku bisa, aku bisa.” Kereta pun terus bergerak perlahan naik hingga tiba di bukit dengan selamat.
Pelajaran sederhana yang dapat diberikan ialah: percayalah pada kemampuan diri sendiri. Seandainya lokomotif itu tidak percaya akan kemampuannya tiba di atas bukit, bisa jadi kisah dalam buku itu berakhir menyedihkan.
Bukan hanya lokomotif itu saja yang dapat mengatakan, “Aku bisa, aku bisa, aku bisa”, tetapi Anda pun dapat melakukan yang sama. William Arthur Ward, penulis kondang asal Amerika mengatakan, ”Saya adalah pemenang karena saya berpikir seperti pemenang, bersiap jadi pemenang, dan bekerja serupa pemenang.” Ward betul, jika Anda berpikir menjadi seorang pemenang, maka memang benar Anda seorang pemenang.
Kisah heroik lokomotif itu dalam dunia nyata dibuktikan sendiri oleh Hendrawan, atlet bulutangkis Indonesia. Tahun 1997, Hendrawan dinyatakan sudah habis oleh PBSI. Karena faktor usia dan prestasinya yang menurun, PBSI bermaksud mengeluarkan Hendrawan dari Tim Pelatnas. Tapi Hendrawan punya keyakinan sendiri, bahwa ia percaya kemampuannya dan belumlah habis. Hendrawan masih percaya bahwa ia dapat meraih prestasi yang lebih baik lagi. Dengan keyakinan dan kepercayaan diri yang tinggi, dan diiringi kerja keras yang tidak lelah, Hendrawan menunjukkan kepada dunia bahwa ia memang mampu meraih prestasi luar biasa.
Hendrawan membuktikan kemampuannya telah sempat dinyatakan sudah habis. Tahun 1998, Hendrawan menjadi penentu kemenangan Tim Thomas Indonesia. Juga ia menjuarai Singapura Terbuka. Kemudian di tahun 2000, Hendrawan kembali menjadi penentu kemenangan Tim Thomas Indonesia. Di tahun itu pula ia mengukir namanya dengan meraih medali perak dalam Olimpiade Sydney. Masih di tahun yang sama, ia menjadi runner up Jepang Terbuka. Dan pada tahun 2001, ia menjadi Juara Dunia Tunggal Putra, sebuah gelar yang menjadi idaman pebulutangkis manapun di dunia. Tahun 2002, ia kembali membawa Indonesia mempertahankan Piala Thomas ke Tanah Air.
Percaya kemampuan diri sendiri tak harus ditunjukkan oleh mereka yang berprofesi sebagai atlet, yang bekerja di kantoran, yang mempunyai stamina fisik yang prima, atau mereka yang masih muda dan memiliki semangat menggebu-gebu. Percaya pada diri sendiri, percaya akan kemampuannya, dapat ditunjukkan oleh siapa pun. Tanpa mengenal pekerjaan, status, umur, dan jenis kelamin.
Generasi sekarang mungkin hanya mengenal nama Mak Erot. Seorang tokoh pengobatan khusus laki-laki yang telah tiada. Nama lain yang tak kalah kesohornya yang hampir mirip adalah Mak Eroh. Generasi sekarang mungkin tak mengenal nama ini. Tahun 1988, nama Mak Eroh sempat menyedot publik nasional. Saat itu, semua orang ramai memperbincangkannya . Mak Eroh, waktu itu berumur 50 tahun, perempuan dari Kampung Pasirkadu, Desa Santana Mekar, Kecamatan Cisayong, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat memang telah mengukir prestasi besar.
Apa yang membuat nama Mak Eroh melambung? Mak Eroh, bergelantungan seorang diri di lereng yang tegak di tebing cadas, di lereng timur laut Gunung Galunggung. Mak Eroh berhasil berjuang sendirian membuat saluran air sepanjang 47 hari. Ketika pertama kali Mak Eroh melakukannya, banyak masyarakat sekitar yang mencibir tindakannya. Tapi hal itu tidak menyurutkan langkahnya untuk terus bekerja. Mak Eroh percaya akan kemampuan nya, walau saat itu usianya boleh dibilang tidak muda. Seorang wanita yang mustinya menikmati hari tuanya dengan menimang atau bermain dengan cucu.
Mak Eroh yang hanya mengecap pendidikan hingga kelas III SD dan memiliki tiga orang anak, dalam aksinya menggunakan tali areuy, tali sejenis rotan sebagai penahan ketika bergelantungan. Sedangkan alat yang dipakai untuk ‘mengebor’ tebing cadas hanyalah cangkul dan balincong, serupa linggis pendek.
Saluran untuk mengalirkan air dari Sungai Cilutung akhirnya berhasil diselesaikan. Berhentikah tindakan Mak Eroh mengebor tebing cadas? Belum. Dengan semangat yang tak kenal menyerah, Mak Eroh melanjutkan membuat saluran air berikutnya sepanjang 4,5 kilometer mengitari 8 bukit dengan kemiringan 60-90 derajat. Bukan main! Pengerjaannya kali ini dibantu oleh warga desa yang mau membantunya, setelah melihat dengan mata kepala sendiri hasil yang telah dilakukan Mak Eroh. Dalam waktu 2,5 tahun, pekerjaan lanjutan itu terselesaikan dengan baik. Hasilnya? Bukan hanya lahan pertanian sawah Desa Santana Mekar yang terairi sepanjang tahun. Tapi juga dua desa tetangga yang ikut menikmati kucuran air hasil kerja keras Mak Eroh setelah warganya membuat saluran penerus, yaitu Desa Indrajaya dan Sukaratu.
Aksi Mak Eroh akhirnya sampai juga ketelinga Presiden Suharto. Atas aksinya yang tergolong berani dan memberikan manfaat yang besar bagi masyarakat sekitar, Mak Eroh mendapat penghargaan Upakarti Lingkungan Hidup pada tahun 1988. Setahun kemudian, dia juga meraih penghargaan lingkungan dari PBB.
Dua kisah di atas memberi hikmah bahwa sebenarnya kita memiliki kepercayaan diri yang tinggi atas kemampuan yang dimiliki. Seperti yang dikatakan oleh Mary Kay Ash, pengusaha kosmetik sukses asal Amerika, ”Anda bisa melakukannya jika Anda berpikir demikian, dan jika Anda kira tidak dapat melakukannya, Anda benar.” Percaya akan kemampuan diri sendiri. Jadilah lokomotif, dan teruslah bergerak untuk maju. (210708)
“Jika ada keyakinan yang dapat menggerakkan gunung, itu adalah keyakinan dalam diri Anda.”
– Marie von Ebner-Eschenbach, penulis, 1830-1916
Sumber: Percaya Pada Kemampuan Diri Sendiri oleh Sonny Wibisono, penulis, tinggal di Jakarta
BAWAAN LAHIR ATAU BISA DI PELAJARI
Pertanyaan-pertanyaan berikut cukup menarik dan banyak menjadi bahan pemikiran para ahli. Apakah seseorang memang dilahirkan sebagai penjahat?. Sungguh adakah orang yang dilahirkan sebagai pemimpin?. Bila anda terlahir pemalu, bukankah itu berarti anda menjadi pemalu selamanya? Pertanyaan-pertanyaan semacam itu juga berkembang di berbagai bidang psikologi, seperti misal, apakah intelegensi sudah ada sejak lahir – sebagai sifat bawaan si anak – atau dapat berkembang melalui pola pengasuhan yang tepat. Silang pendapat ini dikenal sebagai perdebatan “bawaan – perkembangan (nature – nurture)”. Semua jawaban yang pernah diberikan tidak sepenuhnya menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Namun demikian, dalam kaitannya dengan bersikap positif ini kita mengetengahkan empat asumsi yang merupakan tema pembicaraan.
- Sikap Positif bukan bawaan lahir;
– Sikap Positif bisa dipelajari;
– Sikap Positif adalah pilihan;
– Kita bisa mempraktekkan sikap positif, bisa juga tidak – itu pilihan anda.

Keempat asumsi ini penting bagi pembahasan kita, karena jika anda tidak sependapat bahwa sikap positif merupakan sesuatu yang adapat anda pilih, maka kecil kemungkinan bagi anda untuk berubah.
Bila anda masih ragu-ragu, cobalah mengerjakan latihan berikut ini:
  1. Renungkan sejumlah aspek kehidupan anda. Berilah jawaban, apakah sikap anda sekarang ini memang karena anda terlahir demikian; atau semata-matamerupakan hasil pelajaran atau
  2. Pengaruh yang anda terima
  3. Atau merupakan campuran antara sikap bawaan lahir dan perkembangan kehidupan anda ?
  • Cara anda mengambil keputusan [1] [2] [3]
  • Sikap anda terhadap uang [1] [2] [3]
  • Sikap anda terhadap ras [1] [2] [3]
  • Pendapat anda mengenai masalah lingkungan [1] [2] [3]
  • Rasa humor anda [1] [2] [3]
  • Selera musik anda [1] [2] [3]
  • Semangat dan energi anda [1] [2] [3]
  • Surat kabar yang anda baca [1] [2] [3]
Pada dasarnya, cara anda berpikir, selera dan sikap politik anda adalah hasil belajar dan akan terus berkembang selama hidup. Sedangkan rasa humor, semangat dan energi anda – yang merupakan sedikit campuran antara bawaan lahir dan pilihan – merupakan pengecualian.
Mungkin anda berpendapat bahwa semua ini agak ekstrim. Bila anda yakin bahwa sikap positif atau negatif adalah bawaan sejak lahir, dan kebetulan anda sendiri atau karyawan anda mempunyai sikap negatif, maka tidak ada sesuatu pun yang dapat dilakukan untuk mengubahnya. Sebenarnya tidaklah demikian.
Memang faktor genetis juga berperan. Sebagian besar orang bisa menyanyi, namun sedikit sekali yang mampu melantunkan lagu sekaliber Ruth Sahanaya. Banyak orang bisa menggambar, namun hanya segelintir orang yang mampu menggambar sebagus Basuki Abdullah. Semua orang bisa berlari, namun hanya sedikit sekali yang bisa menjadi pelari kelas dunia.

Sekali pun demikian, melalui praktek dan latihan kita akan mampu menyanyi lebih baik, menggambar lebih baik atau berlari lebih cepat. Jadi dengan bersikap positif, anda akan dapat menjadi semakin baik dalam hal-hal yang anda geluti. Sebagai langkah awal, anda perlu bersikap positif pada kemungkinan terjadinya perubahan.
Sikap positif dalam manajemen merupakan suatu sifat yang dapat meningkatkan setiap atau semua bentuk kecakapan manajemen. Namun demikian, sikap positif tidak dapat berdiri sendiri. Oleh karena itu sikap positif berkaitan timbal balik dengan berbagai bentuk kecakapan manajemen.
Mari kita tutup sesi ini dengan mengandaikan anda sebagai manajer personalia yang sedang menghadapi pemogokan karyawan. Bagaimana kecakapan anda dalam menangani masalah tersebut dikaitkan dengan ciri-ciri bersikap positif yang pernah kita bahas di sesi 2? Berilah skor pada setiap ciri mulai dari
negatif hingga positif:

1  2  3  4  5  6  7  8  9   10
1. Sangat tidak netral———————————-Netral
2. Tidak mampu menguasai———–Mampu menguasai
3. Tidak berpikir kreatif——————-Berpikir Kreatif
4. Pesimis———————————————Optimis
5. Tidak efektif berkomunikasi—Efektif Berkomunikasi
Tentu saja kita tidak bisa memberi angka yang pasti untuk mengukur tingkat sikap positif anda. Namun, pada taraf tertentu anda harus menilai seberapa positif sikap anda pada saat ini, dan apakah ada hal yang harus diubah agar anda dapat mengingkatkan sikap positif anda. Boleh jadi anda berpikir ada indikasi yang menjadi ciri-ciri lain bersikap positif dan itu sah-sah saja. Yang penting di sini, semakin tinggi nilai yang anda berikan pada latihan di atas atau ciri-ciri lain yang anda tambahkan, maka semakin besar kemungkinannya anda dapat bersikap positif dalam manajemen anda.

SI TUKANG KAYU DAN RUMAHNYA

Seorang tukang kayu tua bermaksud pensiun dari pekerjaannya di sebuah
perusahaan konstruksi real estate. Ia menyampaikan keinginannya tersebut
pada pemilik perusahaan. Tentu saja, karena tak bekerja, ia akan kehilangan
penghasilan bulanannya, tetapi keputusan itu sudah bulat. Ia merasa lelah.
Ia ingin beristirahat dan menikmati sisa hari tuanya dengan penuh kedamaian
bersama istri dan keluarganya.

Pemilik perusahaan merasa sedih kehilangan salah seorang pekerja terbaiknya.
Ia lalu memohon pada tukang kayu tersebut untuk membuatkan sebuah rumah
untuk dirinya.

Tukang kayu mengangguk menyetujui permohonan pribadi pemilik perusahaan itu.
Tapi, sebenarnya ia merasa terpaksa. Ia ingin segera berhenti. Hatinya tidak
sepenuhnya dicurahkan. Dengan ogah-ogahan ia mengerjakan proyek itu. Ia cuma
menggunakan bahan-bahan sekedarnya. Akhirnya selesailah rumah yang diminta.
Hasilnya bukanlah sebuah rumah baik. Sungguh sayang ia harus mengakhiri
kariernya dengan prestasi yang tidak begitu mengagumkan.

Ketika pemilik perusahaan itu datang melihat rumah yang dimintanya, ia
menyerahkan sebuah kunci rumah pada si tukang kayu.
“Ini adalah rumahmu, ”
katanya, “hadiah dari kami.”
Betapa terkejutnya si tukang kayu. Betapa malu dan menyesalnya. Seandainya
saja ia mengetahui bahwa ia sesungguhnya mengerjakan rumah untuk dirinya
sendiri, ia tentu akan mengerjakannya dengan cara yang lain sama sekali.
Kini ia harus tinggal di sebuah rumah yang tak terlalu bagus hasil karyanya
sendiri.

Itulah yang terjadi pada kehidupan kita. Kadangkala, banyak dari kita yang
membangun kehidupan dengan cara yang membingungkan. Lebih memilih berusaha
ala kadarnya ketimbang mengupayakan yang baik. Bahkan, pada bagian-bagian
terpenting dalam hidup kita tidak memberikan yang terbaik. Pada akhir
perjalanan kita terkejut saat melihat apa yang telah kita lakukan dan
menemukan diri kita hidup di dalam sebuah rumah yang kita ciptakan sendiri.
Seandainya kita menyadarinya sejak semula kita akan menjalani hidup ini
dengan cara yang jauh berbeda.

Renungkan bahwa kita adalah si tukang kayu. Renungkan rumah yang sedang kita
bangun. Setiap hari kita memukul paku, memasang papan, mendirikan dinding
dan atap. Mari kita selesaikan rumah kita dengan sebaik-baiknya seolah-olah
hanya mengerjakannya sekali saja dalam seumur hidup. Biarpun kita hanya
hidup satu hari, maka dalam satu hari itu kita pantas untuk hidup penuh
keagungan dan kejayaan. Apa yang bisa diterangkan lebih jelas lagi. Hidup
kita esok adalah akibat sikap dan pilihan yang kita perbuat hari ini. Hari
perhitungan adalah milik Tuhan, bukan kita, karenanya pastikan kita pun akan
masuk dalam barisan kemenangan.

Pojok Renungan:
“Hidup adalah proyek yang kau kerjakan sendiri”.
(Adapted from The Builder -
Cecilia Attal)
ALAM PIKIRAN
“All things, whatever you ask, praying, believe that you shall receive them, and it will be to you.”
Pikiran “Apakah ada perasaan putus asa sewaktu terapung di laut sendirian? Misalnya, berpikir ‘habislah sudah hidupku’ …?” tanya wartawan MetroTV kepada Ari Afrizal, 21, korban gelombang Tsunami, selama 15 hari 14 malam terapung-apung di lautan lepas. “Tidak!” jawabnya tegas, “Yang terpikir saya waktu itu, saya mau hidup, saya tidak mau mati!”
Ternyata tekad serta apa yang dipikirkan Ari menjadi kenyataan. Pemuda yang berasal dari desa Kabong, Aceh Jaya, berhasil diselamatkan kapal Al-Yamamah yang lewat di lokasi 320 kilometer dari pantai barat Sumatera, 15 hari setelah bencana Tsunami Aceh 26 Desember 2004. Selama terapung di lautan Ari melawan terik matahari, dinginnya hujan serta pekatnya malam dengan hanya memakan buah kelapa serta bantuan kayu dan sampan yang hanyut bersama-sama ke laut. Tekadnya untuk hidup telah membuatnya bertahan selama 15 hari sebelum akhirnya ditolong awak kapal Al-Yamamah.
Dalam kehidupan sehari-hari, perasaan ragu, takut atau pesimis, seringkali menghantui pikiran kita. Padahal, pikiran positif, semangat serta tekad merupakan modal awal yang barangkali 50% akan menjamin keberhasilan pekerjaan dan tugas-tugas kita? Pernahkah kita sadari bahwa sesungguhnya kekuatan pikiran kita luar biasa “dahsyat”?
Dalam khasanah psikologis ini disebut sebagai “Self-fullfiling Phropecy” atau “Pygmalion Effect”. Adalah Robert Merton, seorang profesor sosiologi di Universitas Columbia yang pada tahun 1957 mengembangkan konsep ini. Dalam kajiannya yang terkenal dengan sebutan “Social Theory and Social Structure”, Merton mengatakan (dengan bahasa sederhana) ketika sebuah ekspetasi sudah dibuat, bahkan ketika itu tidak akurat, kita akan cenderung untuk bertindak melakukan sesuatu yang konsisten dengan ekspetasi itu. Dan herannya, kebanyakan ekspetasi itu akan membuahkan hasil nyata, layaknya sebuah proses mejik.
Bukankah Ari Afrizal, korban Tsunami yang terapung di lautan lepas selama 15 hari itu telah membuktikannya?

Oleh sebab itu, jangan bermain-main dengan pikiran Anda sendiri, Anda harus mengarahkan pikiran secara positif dan sistematis, karena pikiran Anda akan membawa Anda ke mana akan menuju. Percayalah, ” … All things, whatever you ask, praying, believe that you shall receive them, and it will be to you.”
Sumber: Unknown (Tidak Diketahui)
JADILAH MAGNET UNTUK SUKSESMU

“What you see in your mind, you’re going to hold it in your hand” (Bob Proctor)
Sekarang ini, di mana-mana begitu ramai dibicarakan The Secret, buku yang ditulis oleh penulis kelahiran Australia Rhonda Byrne. Buku yang menggemparkan ini telah memopulerkan nama Rhonda Byrne dan menobatkan dirinya menjadi salah satu perempuan berpengaruh di dunia saat ini. Apakah yang menarik dari buku The Secret ini?
Intisari The Secret adalah The Law of Attraction atau hukum daya tarik. Inti dari hukum daya tarik ini adalah like attract like. Artinya, sesuatu akan menarik sesuatu yang mirip dengannya. Jadi, saat kita memikirkan sesuatu, dikatakan bahwa kita sedang menarik
sesuatu itu ke arah diri kita.
Bayangkanlah seorang ibu yang seringkali mengalami kecopetan. Masalahnya, setiap kali ke pasar, ia selalu membayangkan dan dihantui bayangan para pencopet. Setiap kali mengalami kecopetan, ia semakin ketakutan dan semakin membayangkan hal itu terjadi lagi berulang kali. Pikiran si ibu itu menjadi magnet bagi para pencopet untuk mendekatinya.
Di sisi lain, ada seorang mahasiswa teologi yang mengatakan saat dirinya melancong ke luar negeri, ia tidak memiliki tabungan cukup dan tidak kenal siapa pun. Modalnya hanya berdoa dan membayangkan jalan mulus membentang di hadapannya. Anehnya, banyak kemudahan dan jalan ‘bantuan’ datang menghampirinya saat ia membutuhkan.
Dalam hukum daya tarik ini, pikiran kita bereksistensi ibarat magnet. Pikiran kita memiliki getaran frekuensi yang kita pancarkan ke sekeliling kita. Akibatnya, getaran ini mulai memengaruhi lingkungan sekitar kita dan mulai menarik alam semesta (universe) terkait
berbagai hal kembali kepada diri kita.

Jadi, kalau getaran frekuensi yang kita pancarkan merupakan getaran kesuksesan dan kebahagiaan, alam semesta akan mengatur kesuksesan dan kebahagiaan itu sesuai dengan apa yang kita pikirkan. Sebaliknya, bila yang kita pikirkan adalah marabahaya, maka kemungkinan besar hal-hal yang tidak kita inginkan itulah yang bakalan menghampiri kita.
Mendukung mimpi
Seperti dikatakan DR.Joe Vitale, salah seorang pembicara dan penulis yang turut memberikan kontribusi dalam buku The Secret, “Alam semesta akan mulai mengatur dirinya, untuk membuat apa pun yang terpikirkan olehmu, mulai termanifestasikan bagi dirimu”.
Persis seperti pesan Sang Alkemis, novel spiritual Paulo Coelho. Di sana, dikisahkan tentang Santiago, seorang bocah penggembala domba dari Padang Andalusia, yang mengelana mewujudkan mimpi-mimpinya. Pesan utamanya, “Orang yang meyakini seluruh mimpi-mimpinya, maka seluruh alam semesta akan membantunya dalam mewujudkan mimpi-mimpi itu menjadi kenyataan.”
Bayangkan dengan mereka yang phobia dengan cecak dan takut kalau- kalau ada cecak. Akibatnya, jutsru mereka ‘menarik’ cecak di mana-mana. Demikian pula yang takut kegagalan, justru mereka menarik energi kegagalan dalam diri mereka. Sebaliknya, kalau kita menarik kekayaan, kesuksesan, uluran tangan, dan kebahagiaan, maka itulah
yang akan tertarik ke arah dirimu.

James Ray, salah satu pemikir terkenal dan kontributor buku ini memakai metafora menarik. Bayangkanlah dunia ini seperti kisah lampu Aladin dalam dongeng 1001 Malam. Bayangkan, saat dirimu membutuhkan sesuatu dirimu tinggal menggosok lampunya, maka akan muncul jin ajaib dan berkata pada Anda, “Your wish is my command” (harapan Anda adalah perintah untuk saya). Bayangkanlah alam semesta mengatakan hal tersebut kepada diri Anda.
3 Langkah
Ada tiga langkah dalam proses the Law of Attraction ini. Ketiga langkah tersebut mencakup keberanian meminta (ask), keyakinan akan menerima (believe), dan kemampuan dan perasaan telah menerima (receive). Kalau dicermati prosesnya kembali, maka dikatakan, segala sesuatu dimulai dari keinginan dan kemauan kita untuk meminta dan
mengharapkan hal yang positif terjadi dalam hidup kita.
Seperti dikatakan Jack Canfield dalam bukunya The Aladdin Factor, “Jika kamu tidak pernah meminta, maka kamu tidak akan pernah menerimanya” . Setelah meminta, maka dibutuhkan keyakinan bahwa kita bisa menerimanya.
Banyak orang meminta sesuatu, tetapi kemudian menjadi ragu-ragu sehingga apa yang ada tidak betul-betul termanifestasikan. Tanpa sadar terjadi energi ‘penolakan’ akibat keragu-raguannya.
Langkah terakhir adalah kemampuan kita untuk menerima atau, kalaupun belum terasakan sekarang, tetapi merasa telah mulai dalam proses menerima apa yang diharapkan. Masalahnya, banyak orang tidak sabar dan berhenti saat apa yang diharapkan tidak langsung terjadi. Otak membutuhkan penyesuaian dan alam semesta membutuhkan waktu
mewujudkannya, tetapi kita sendiri harus meyakininya.
Lagi pula, penting pula kita untuk mendoakan dan mengharapkan bantuan tangan dan izin Tuhan sehingga apa yang kita pikirkan terwujud. Sebab, bagaimanapun hukum ini kita imani berjalan sesuai dengan kehendak-Nya. Karena itu, doa dan keyakinan atas berlakunya the law of attraction ini tetaplah menjadi hal penting.
Akhirnya, the law of attraction ini mengingatkan kita satu hal penting. Marilah kita selalu sadar dengan apa yang kita pikirkan. Hal ini akan menjadi sebuah medan magnet yang luar biasa.
Bayangkan, melalui pikiran itulah kita sedang membuat lukisan kehidupan kita sendiri. Kesimpulannya, kita, adalah apa yang kita bayangkan setiap hari.
Sumber: Jadilah Magnet Atas Suksesmu oleh Anthony Dio Martin, Director HR Excellency





KETEGUHAN
Ketika Raja Louis XVI digulingkan dari takhtanya dan dijebloskan ke dalam penjara, puteranya yang merupakan pangeran penerus takhta kerajaan diculik oleh orang-orang yang mengkudeta kerajaan.
Sang pangeran dihadapkan pada hal-hal yang paling menjijikan secara moral. Mereka pikir, jika sang pangeran terpengaruh pada godaan duniawi maka ia tidak akan bisa mencapai takdirnya sebagai raja.
Setiap hari, sang pangeran disuguhi berbagai makanan yang mewah yang jumlahnya sangatlah banyak, minuman anggur, para pelacur yang sangat erotis, bahkan kata-kata jorok dan kasar yang tidak layak diucapkan oleh bangsawan seperti dia.
Hari berganti hari, hingga akhirnya setelah enam bulan, mereka menyerah. Sang pangeran ternyata tidak tergoda sedikit pun terhadap godaan dunia. Mereka pun bertanya kenapa sang pangeran begitu teguh. Sang pangeran berujar, ”Aku tidak mungkin melakukan hal-hal menjijikan seperti itu, karena sejak dilahirkan Aku telah ditakdirkan sebagai seorang raja“.
Kita harus mempunyai keteguhan dalam mempertahankan impian kita. Tidak dapat dimungkiri bahwa perjalanan menuju ke tangga sukses penuh onak dan duri.
Lantas bagaiamana kita bisa memiliki keteguhan? Yang terpenting kita harus mempunyai paradigma atau citra diri yang positif kepada diri kita. Siapakah kita? Apa takdir kita di dunia ini?
Diri Anda andalah makhluk Tuhan yang paling sempurna. Takdir Anda adalah mengabdikan dirinya. Menyerukan namanya di dunia ini. Apapun impian Anda, berjuanglah atas nama Dia. Maka, rintangan apapun tidak akan bisa menghalangi Anda.
Jika Dia hendak mengangkat Anda, tidak ada seorang pun yang bisa menjatuhkan Anda. Begitupun jika Dia hendak menjatuhkan Anda, maka tak seorang pun di dunia ini yang bisa mengangkat Anda.
HASRAT KETEGUHAN DAN KEBERANIAN
Namanya Hani. Hani Irmawati. Ia adalah gadis pemalu, berusia 17 tahun. Tinggal di rumah berkamar dua bersama dua saudara dan orangtuanya. Ayahnya adalah penjaga gedung dan ibunya pembantu rumah tangga. Pendapatan tahunan mereka, tidak setara dengan biaya kuliah sebulan di Amerika.
Pada suatu hari, dengan baju lusuh, ia berdiri sendirian di tempat parkir sebuah sekolah internasional. Sekolah itu mahal, dan tidak menerima murid Indonesia. Ia menghampiri seorang guru yang mengajar bahasa Inggris di sana. Sebuah tindakan yang membutuhkan keberanian besar untuk ukuran gadis Indonesia.

“Aku ingin kuliah di Amerika,” tuturnya, terdengar hampir tak masuk akal. Membuat sang guru tercengang, ingin menangis mendengar impian gadis belia yang bagai pungguk merindukan bulan.
Untuk beberapa bulan berikutnya, Hani bangun setiap pagi pada pukul lima dan naik bis kota ke SMU-nya. Selama satu jam perjalanan itu, ia belajar untuk pelajaran biasa dan menyiapkan tambahan pelajaran bahasa Inggris yang didapatnya dari sang guru sekolah internasional itu sehari sebelumnya. Lalu pada jam empat sore, ia tiba di kelas sang guru. Lelah, tapi siap belajar.
“Ia belajar lebih giat daripada kebanyakan siswa ekspatriatku yang kaya-kaya,” tutur sang guru. “Semangat Hani meningkat seiring dengan meningkatnya kemampuan bahasanya, tetapi aku makin patah semangat.”
Hani tak mungkin memenuhi syarat untuk mendapatkan beasiswa dari universitas besar di Amerika. Ia belum pernah memimpin klub atau organisasi, karena di sekolahnya tak ada hal-hal seperti itu. Ia tak memiliki pembimbing dan nilai tes standar yang mengesankan, karena tes semacam itu tak ada.
Namun, Hani memiliki tekad lebih kuat daripada murid mana pun.
“Maukah Anda mengirimkan namaku?” pintanya untuk didaftarkan sebagai
penerima beasiswa.
“Aku tak tega menolak. Aku mengisi pendaftaran, mengisi setiap titik-titik
dengan kebenaran yang menyakitkan tentang kehidupan akademisnya, tetapi juga
dengan pujianku tentang keberanian dan kegigihannya,” ujar sang guru.
“Kurekatkan amplop itu dan mengatakan kepada Hani bahwa peluangnya untuk
diterima itu tipis, mungkin nihil.”
Pada minggu-minggu berikutnya, Hani meningkatkan pelajarannya dalam bahasa
Inggris. Seluruh tes komputerisasi menjadi tantangan besar bagi seseorang
yang belum pernah menyentuh komputer. Selama dua minggu ia belajar
bagian-bagian komputer dan cara kerjanya.

Lalu, tepat sebelum Hani ke Jakarta untuk mengambil TOEFL, ia menerima surat
dari asosiasi beasiswa itu.

“Inilah saat yang kejam. Penolakan,” pikir sang guru.
Sebagai upaya mencoba mempersiapkannya untuk menghadapi kekecewaan, sang
guru lalu membuka surat dan mulai membacakannya: Ia diterima! Hani diterima
….
“Akhirnya aku menyadari bahwa akulah yang baru memahami sesuatu yang sudah
diketahui Hani sejak awal: bukan kecerdasan saja yang membawa sukses, tapi
juga hasrat untuk sukses, komitmen untuk bekerja keras, dan keberanian untuk
percaya akan dirimu sendiri,” tutur sang guru menutup kisahnya.
Kisah Hani ini diungkap oleh sang guru bahasa Inggris itu, Jamie Winship,
dan dimuat di buku “Chicken Soup for the College Soul”, yang edisi
Indonesianya telah diterbitkan.
Tentu kisah ini tidak dipandang sebagai kisah biasa oleh Jack Canfield, Mark
Victor Hansen, Kimberly Kirberger, dan Dan Clark. Ia terpilih diantara lebih
dari delapan ribu kisah lainnya. Namun, bukan ini yang membuatnya istimewa.
Yang istimewa, Hani menampilkan sosoknya yang berbeda. Ia punya tekad. Tekad
untuk maju. Maka, sebagaimana diucapkan Tommy Lasorda, “Perbedaan antara
yang mustahil dan yang tidak mustahil terletak pada tekad seseorang.”

Anda memilikinya?
Sumber: Disadur dari Chicken Soup for the College Soul by Jack Canfield, Mark
Victor Hansen, Kimberly Kirberger, and Dan Clark
PEMATUNG RAJA
Suatu ketika, hiduplah seorang pematung. Pematung ini, bekerja pada seorang raja
yang masyhur dengan tanah kekuasaannya. Wilayah pemerintahannya sangatlah luas.
Hal itu membuat siapapun yang mengenalnya, menaruh hormat pada raja ini.
Sang pematung, sudah lama sekali bekerja pada raja ini. Tugasnya adalah membuat
patung-patung yang diletakkan menghiasi taman-taman istana. Pahatannya indah,
karena itulah, ia menjadi kepercayaan raja itu sejak lama. Ada banyak raja-raja
sahabat yang mengagumi keindahan pahatannya saat mengunjungi taman istana.

Suatu hari, sang raja mempunyai rencana besar. Baginda ingin membuat patung dari
seluruh keluarga dan pembantu-pembantu terbaiknya. Jumlahnya cukup banyak, ada
100 buah. Patung-patung keluarga raja akan di letakkan di tengah taman istana,
sementara patung prajurit dan pembantunya akan di letakkan di sekeliling taman.
Baginda ingin, patung prajurit itu tampak sedang melindungi dirinya.

Sang pematung pun mulai bekerja keras, siang dan malam. Beberapa bulan kemudian,
tugas itu hampir selesai. Sang Raja kemudian datang memeriksa tugas yang di
perintahkannya. “Bagus. Bagus sekali, ujar sang Raja. “Sebelum aku lupa, buatlah
juga patung dirimu sendiri, untuk melengkapi monumen ini.”

Mendengar perintah itu, pematung ini pun mulai bekerja kembali. Setelah beberapa
lama, ia pun selesai membuat patung dirinya sendiri. Namun sayang, pahatannya
tak halus. Sisi-sisinya pun kasar tampak tak dipoles dengan rapi. Ia berpikir,
untuk apa membuat patung yang bagus, kalau hanya untuk di letakkan di luar
taman.
“Patung itu akan lebih sering terkena hujan dan panas,” ucapnya dalam
hati, pasti, akan cepat rusak.”
Waktu yang dimintapun telah usai. Sang raja kembali datang, untuk melihat
pekerjaan pematung. Ia pun puas. Namun, ada satu hal kecil yang menarik
perhatiannya. “Mengapa patung dirimu tak sehalus patung diriku? Padahal, aku
ingin sekali meletakkan patung dirimu di dekat patungku. Kalau ini yang terjadi,
tentu aku akan membatalkannya, dan menempatkan mu bersama patung prajurit yang
lain di depan sana.”
Menyesal dengan perrbuatannya, sang pematung hanya bisa pasrah. Patung dirinya,
hanya bisa hadir di depan, terkena panas dan hujan, seperti harapan yang
dimilikinya.

***
Teman, seperti apakah kita menghargai diri sendiri? Seperti apakah kita
bercermin pada diri kita? Bagaimanakah kita menempatkan kebanggaan atas diri
kita? Ada kalanya memang, ada orang-orang yang selalu pesimis dengan dirinya
sendiri. Mereka, kerap memandang rendah kemuliaan yang mereka miliki.

Namun, apakah kita mau dimasukkan ke dalam bagian itu. Saya percaya, tak banyak
orang yang menghendaki dirinya mau dimasukkan sebagai orang yang pesimis. Kita
akan lebih suka menjadi orang yang bernilai lebih. Sebab, Allah pun menciptakan
kita tak dengan cara yang main-main.
Allah menciptakan kita dengan kemuliaan
mahluk yang sempurna.
Dan teman, sesungguhnya, kita sedang memahat patung diri kita saat ini. Tapi
patung seperti apakah yang sedang kita buat? Patung yang kasar, yang tak halus
pahatannya, ataukah patung yang indah, yang memancarkan kemuliaan-Nya? Patung
yang bernilai mahal, yang menjadi hiasan terindah, atau patung yang berharga
murah yang tak layak diletakkan di tempat utama?
Memang, tak ada yang tahu akan ditempatkan dimana patung-patung diri kita kelak.
Karena hanya Allah lah Maha Tahu. Karenanya, bentuklah patung-patung itu dengan
indah. Pahatlah dengan halus, agar kita bisa ditempatkan di tempat yang terbaik,
di sisi-Nya. Poleslah setiap sisinya dengan kearifan budi, dan kebijakan hati,
agar memancarkan keindahan. Susuri setiap lekuknya dengan kesabaran, dan
keikhlasan.
Pahatan yang kita torehkan saat ini, akan menentukan tempat kita di akhirat
kelak. Bentuklah “patung” diri Anda dengan indah!
RELAWAN ELIT ATAU RELAWAN POLITISI

Bahwa sebuah bencana bisa menjadi sebuah kesempatan politis, agaknya telah sejak awal kekhawatiran itu sudah banyak disampaikan oleh para elite sendiri. Dalam rangkaian perjalanan ke Aceh ini, Tim Relawan IT Air Putih menjumpai sendiri kenyataan tersebut.
Kita merasakan sejak awal hal ini. Banyak pengiriman relawan ditumpangi oleh kepentingan politis. Demikian juga motif2 operasional mereka di lokasi bencana. Semua seperti berlomba mendapatkan kredit point dengan tingkah egosentrisme yang keterlaluan, bahkan cenderung memalukan dan bikin muak.
Banyak pihak memanfaatkan situasi ini untuk tujuan yang kurang tulus, memperoleh simpati dan kepahlawanan. Sesuatu yang absurd dalam kondisi darurat dan kritis semacam ini. Sebab pahlawan sesungguhnya, adalah para korban dan survivor, bukan relawan atau petugas dan pejabat publik.
Menjadi relawan adalah panggilan kewajiban kemanusiaan, bukan sebuah sikap untuk tujuan lain. Para petugas dan pejabat publik, bahkan politisi, mereka harus melakukan ini karena itulah tugasnya. Mereka digaji oleh negara, uang rakyat dan menjalankan kewajiban politis dari jabatan yang harus dipertanggungjawabkan pada publik. Sekali lagi, itu juga bukan bagian dari sikap kepahlawanan.
Sehingga ketika mereka ini, memposisikan diri sebagai elite yang harus dapat prioritas dan karenanya membuat misi2 yang lebih tulus terpaksa minggir atau dijadwal ulang bahkan batal berangkat, maka itu adalah suatu pengkhianatan terhadap saudara2 kita yang sedang menderita. Tim AirPutih mengalami dan melihat kenyataan ini dengan sangat sedih.
Di halim, tumpukan bantuan seperti tidak ada yang memperhatikan ataupun mengurusnya. Baik di terminal maupun dalam area runaway lanud. Sejumlah pesawat TNI justru sibuk memfasilitasi pejabat dan rombongannya serta para relawan elite yang tidak jelas apa urusannya ke Aceh. Bahkan menjadi suatu acara selebritis ketika media elektronik meliputnya dengan skenario ekspose dan dramatisasi. Melupakan etika jurnalistik terdistorsi pesanan politis.
Di sisi lain, puluhan dan ratusan relawan dari segenap penjuru negeri, nampak terlantar menunggu giliran pemberangkatan yang tidak pasti. Bahkan dengan semena2 di-cancel, diusir bahkan dimarahi oleh petugas2 yang sok kuasa. Apa mereka itu sudah tidak memiliki nurani lagi dan memandang dirinya jauh lebih mulia dari para relawan yang menyediakan jiwa raga serta harta bendanya itu? Mereka mengulurkan tangan dengan tulus sementara para petugas itu hanya menjalankan tugas yang itupun tidak dilakukannya dengan becus!
Kondisi di daerah pun sama, dari Jogja, Malang dan daerah2 lain masuk kabar bahwa mereka tidak mendapatkan jadwal keberangkatan yang pasti baik itu melalui jalur komersial maupun pemerintah/militer. Padahal konsentrasi bantuan dan relawan menumpuk dimana2. Semua butuh segera ke Aceh dan tak ada satu pun lini birokrasi yang mampu memberikan solusi. Akhirnya mereka harus berangkat dengan berbagai cara, persis supporter bola yang hendak “ngelurug”, menonton kesebelasan pujaannya bertanding.
Sesungguhnya para petugas dan pejabat itu mereka jauh hina, karena dalam situasi genting semacam ini tak melakukan apa2 sementara mereka punya kekuasaan yang memungkinkan mereka menyediakan resource dan manfaat yang besar bagi semua pihak demi pertolongan pada Aceh yang sedang menangis darah.
Setiap detik di Aceh harus dibayar dengan nyawa! Dan sangat sedikit birokrasi di negeri ini yang memiliki kesadaran intelektual semacam ini.
Justru armada asing (Australia, AS) dengan tegas memprioritaskan angkutan bantuan serta relawan. Tanpa seleksi dan diskriminasi politis bahkan dengan sikap pelayanan bak maskapai Internasional kelas utama!
Tim AirPutih merasakan sendiri, bagaimana sebuah tim militer Australia dapat bersikap sangat ramah dan perhatian walaupun terkendala bahasa dan budaya. Jauh lebih ramah dari layanan penerbangan kelas utama negeri ini. Sebelum dan selama perjalanan mereka sangat melayani, bahkan urusan toilet dalam pesawat Hercules pun mereka perhatikan dan memberi notice pada setiap relawan yang menumpang.
Ketika lewat sepanjang garis pantai barat Aceh, mereka memberi kesempatan para relawan untuk melakukan observasi medan dari udara. Terbang dalam jarak dekat dengan ketinggian rendah yang kita tahu itu sangat beresiko dan mereka tetap lakukan! Sehingga mereka menunjukkan kualitas mental sesungguhnya sebagai Tim yang bekerja untuk tugas kemanusiaan. Saya dan sejumlah rekan relawan Air Putih maupun PMI yang ada di situ, sesungguhnya merasa malu, karena bangsa kita sendiri ternyata tidak memililiki kesadaran dan mental persaudaraan dalam kemanusiaan semacam itu.
Di bandara Aceh, kondisi serupa kita alami lagi. Di satu sisi, sejumlah besar petugas asing, helikopter US Navy dan alat2 angkut barang nampak bekerja tanpa henti tanpa banyak ba bi bu, bahkan mereka seperti robot yang sudah tahu persis apa yang harus dilakukan secara efektif dan efisien. Tanpa banyak bicara!
Di sisi lain, sejumlah besar petugas dan pejabat kita justru nampak sibuk dan saling bersitegang hanya untuk mengurusi kunjungan para pejabat termasuk presiden SBY. Mereka bekerja keras hanya agar Bapak senang. Sementara sejumlah besar bantuan untuk rakyatnya, tidak mereka urus. Bahkan justru sejumlah birokrasi rumit tetap dilakukan dan menjadi hambatan luar biasa.
Penulis menjumpai banyak sekali Tim Relawan yang sudah menunggu berjam2 bahkan berhari2 dan harus bolak balik ke bandara hanya untuk mendapatkan barang2 mereka, termasuk distribusi obat2an yang sangat diperlukan. Sedang angkutan berat sangat sulit didapatkan. Semua petugas yang seharusnya bertanggung jawab nampak lepas tangan.
Sejumlah Tim Relawan, nampak bekerja dengan inisiatif sendiri tanpa suatu koordinasi. Misalnya dari PMI gabungan dari berbagai daerah, bekerja keras merawat pengungsi dg. kondisi mengenaskan dan serba seadanya. Tenda darurat mereka nampak sudah tak mampu lagi menampung, sementara tidak jauh dari lokasi itu, sejumlah tenda mentereng berdiri untuk supporting kunjungan pejabat dan kelompok relawan elite. Yang bahkan untuk melayani masyarakat pun mereka mendapat suatu pengawalan khusus. Sungguh sebuah situasi paradoks.
Tim PMI gabungan di bandara, mengaku, sejak mereka tiba (dengan berbagai kesulitan yang sama), beberapa hari yang lalu, mereka belum sekalipun ke lokasi utama bencana (pusat kota Banda Aceh). Pertama, mereka tidak memiliki supporting tim di lokasi, kedua tak ada transportasi dan ketiga tak ada yang mengkoordinir penyaluran relawan. Mereka bekerja dengan inisiatif sendiri dan tidak tahu kemana harus pergi untuk mendapatkan peralatan medis dan obat2an yang mereka perlukan. Padahal di seberang mereka tumpukan barang bantuan dan tentu saja di dalamnya ada obat2an, teronggok begitu saja tak terurus.
Mereka akhirnya memutuskan menugaskan diri sendiri di areal bandara karena tak tersedia tim medis yang memadai di situ meskipun pengungsi banyak bertebaran di sekitar bandara. Termasuk orang2 terlantar yang ingin keluar dari Aceh.
Demikian juga sejumlah besar Tim Relawan yang baru tiba, nampak bingung, tak tahu harus kemana dan bagaimana. Transportasi tak tersedia dan tidak ada satupun petugas bandara maupun birokrasi yang merasa bertanggung jawab melayani mereka. Sekali lagi, mereka lebih concern pada kunjungan pejabat ataupun hanya mau melayani tim relawan elite yang disponsori oleh pejabat ataupun membawa misi2 poilitis.
Jawaban yang sangat menyedihkan kami terima, semua transportasi bahkan truk militer seluruhnya habis digunakan untuk evakuasi jenazah disekitar lokasi dimana presiden SBY akan berkunjung. Bahkan sejumlah besar mayat ini direlokasi ke tempat2 yang tak terlihat. Jalan2 dibersihkan dengan effort yang luar biasa. Mendadak, semua fasilitas tersedia, listrik, air, komunikasi dsb. pendeknya semua barang langka yang sebelumnya seperti mustahil bisa diselenggarakan di Banda Aceh.
Pertanyaannya, apabila mereka mampu melakukan itu, mengapa baru saat ini dilakukan? Hanya karena pejabat berkunjung? Dan mengapa upaya dan juga fasilitas itu lantas dihentikan lagi ketika presiden sudah kembali ke Jakarta? Padahal jenazah2 itu bagaimanapun tetap harus secepatnya dievakuasi.
Padahal, rakyat membutuhkan itu semua justru setelah semua pejabat minggat dari bumi Aceh.
Kami melihat dan mendengar cerita, bahwa posko2 resmi di pusat kota kini dikuasai oleh tim relawan elite dengan pakaian seragam mentereng dan juga mendapatkan fasilitas luar biasa. Ketika rakyat kesulitan air bersih, mereka justru masih bisa mandi dan berdandan. Mereka bisa makan di depan rakyat yang telah kelaparan selama seminggu penuh. Bahkan posko gubernuran, dari laporan Anjar dan Valens, sudah berubah menjadi studio infotainment multinasional dengan fasilitas yang luar biasa lengkap dan relawan2 kosmetik yang bekerja untuk kepentingan politis, pencitraan, dramatisasi, kapitalisasi media dsb.
Sementara diseluruh penjuru lokasi bencana, relawan, para jurnalis, juga relawan asing sesungguhnya bekerja keras dengan kondisi yang sama lusuhnya dengan korban yang mereka layani dan terus berjuang mendapatkan resource2 yang selalu diprioritaskan untuk kepentingan2 yang tidak jelas. Resource yang dibutuhkan untuk rakyat Aceh.
Semalam, saya sempat merenung di posko dan menitikkan airmata, melihat kemalangan Aceh, sebuah negeri yang sangat indah dengan rakyatnya yang demikian kuat dan tabah namun terjebak dalam kebusukan pengelolaan bencana di sebuah negara yang luar biasa brengsek. Saya berdoa, semoga para korban dan relawan sejati mendapatkan kekuatan dan jalan untuk menuntaskan misi kemanusian ini.
Saya dan teman2 di Tim AirPutih merasa malu dan kecil dihadapan pekerjaan kemanusiaan besar yang telah, sedang dan akan terus mereka (relawan dan korban) lakukan. Kami sama sekali belum melakukan apa2 dan merasa tidak pantas hadir di sini. (Salahuddien)
Sumber: M. Salahuddien (PatakaID), Tim Relawan IT di Aceh – www.acehmediacenter.or.id
MIMIPI SEKOLAH DI ITB
Perawakannnya kecil dan kurus, penampilannya sederhana, dan bicaranya agak malu-malu. Ia berasal dari sebuah desa yang dikelilingi ladang jagung di Dusun Ngampel Kurung, Kecamatan Papar, Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Sekalipun tidak banyak orang yang tahu, ia adalah seorang yang turut mengharumkan nama bangsa Indonesia di kancah internasional.
Mulyono (18) adalah salah seorang peraih medali perunggu dalam Olimpiade Biologi Internasional (IBO) 2004 di Brisbane Autralia, Juli 2004. Sebelumnya, ia meraih penghargaan honorable mention DALAM IBO 2003 di Belarusia. Untuk sampai ke tingkat internasional, Mul, demikian panggilan akrabnya, telah menjadi juara di tingkat kabupaten, provinsi, dan nasional.

Prestasi membanggakan itu membuatnya diterima di Program Studi Mikrobiologi Institut Teknologi Bandung (ITB) melalui program ujian saringan masuk (USM). Kenyataan itu bukannya membuat dia gembira, malah bingung.  “Waktu dikasih tahu saya diterima, seketika dhueeeeng .. Saya langsung berpikir mengenai biaya SPP dan biaya hidup disana”  paparnya ketika ditemui di rumahnya hari Minggu (1/8) lalu.
Mul bercerita, kesulitan terbesar yang dialami selama hidupnya selalu berkenaan dengan masalah keuangan. Ia berasal dari keluarga sangat sederhana. Sejak ayahnya meninggal, ketika ia masih berusia selapan (35 hari), ibunya harus bekerja keras di Surabaya, sementara Mul hanya tinggal bersama neneknya yang sudah tua.  Karena pada dasarnya ia anak yang pandai, sejak bersekolah di Sekolah Dasar Negeri (SDN) Srikaton I hingga Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 2 Pare, Mul selalu mendapatkan beasiswa, untuk meringankan beban biaya sekolah yang harus ditanggung ibunya.
“Beasiswa itu hanya cukup untuk membayar BP3, sedangkan untuk buku-buku harus mengeluarkan uang sendiri. Saya bekerja sejak Mul kecil hingga sebesar sekarang, dan jarang bertemu dengannya,” tutur sang ibu, Mujiyati, yang ditemui beberapa hari sebelumnya.
Ia bercerita tentang keinginan besar Mul untuk sekolah di SMAN 2 Pare yang merupakan sekolah lanjutan tingkat atas (SLTA) terbaik di Kabupaten Kediri. “Ia tidak mau sekolah kalau tidak di SMAN 2 Pare”  katanya.
Maka, dengan berbekal uang Rp 2.200 setiap hari, Mul mengayuh sepeda yang dia miliki sejak kelas empat SD menuju ke jalan besar di Maduretno – yang berjarak sekitar empat kilometer – ke tempat angkutan yang akan membawanya ke Pare. Sepedanya dia titipkan dengan ongkos Rp 200. Lalu ia naik angkutan umum ke sekolahnya – Sekitar 10  kilometer jauhnya – dan untuk itu harus membayar Rp 2.000 untuk pergi pulang. “Ia tidak membawa uang untuk jajan, hanya cukup untuk naik angkutan kota. Biasanya, untuk sarapan saja dia makan masakan  yang saya masak sore sebelumnya,” tutur Mujiyati menceritakan.
Waktu itu kehidupan begitu sulitnya bagi mereka, tetapi Mul tidak pernah mengeluh. Begitu seringnya Mul bolak balik ke Bandung membuat ibunya berhenti bekerja untuk menemani neneknya. Sekarang ia mengerjakan apa saja di ladang para tetangganya. “Waktu tahu Mul diterima di ITB, saya juga ikut bingung. Saya sudah tidak bekerja lagi di Surabaya, sementara biaya yang ada belum cukup,” kenang Mujiyati.
Biaya yang harus dibayarkan untuk masuk ITB sebesar Rp 45 juta, sementara biaya persemester Rp 1,7 juta. Belum lagi biaya untuk kos setiap bulan dan biaya makan setiap harinya. Jika biaya itu tidak bisa dipenuhi, ia terancam tak bisa memenuhi cita-citanya yang baru, menjadi seorang peneliti.
Sebelumnya ia sangat ingin menjadi dokter. Namun cita-cita mulia itu harus ditinggalkan karena ia tidak bisa lolos di Penjaringan Bibit Unggul Berprestasi (PBUB) Universitas Gajah Mada, Yogyakarta. “Saya  heran, mengapa tidak bisa lolos. Padahal, syarat utamanya adalah  juara olimpiade nasional atau finalis olimpiade internasional. Waktu  itu saya memenuhi kedua kriteria tersebut, tapi entah mengapa tidak  diterima,” kenang Mul dengan nada penasaran. Padahal, jika diterima  di PBUB itu, semua biaya kuliah selama 4 tahun gratis. Ia sudah  membayangkan beberapa kemudahan yang bisa dinikmatinya, apalagi biaya hidup di Yogyakarta tak setinggi di Bandung.
Namun cita-cita itu  harus kandas dan Mul harus banting setir ke ITB yang kemudian  membawanya ke berbagai kebingungan. Akan tetapi, kebingungan itu  tidak membuatnya putus asa. Mul mengajukan beasiswa ke PT Sampoerna,  yang juga berakhir dengan penolakan. “Mungkin mereka salah tangkap,  mengira saya meminta beasiswa untuk kuliah S1 di luar negeri. Karena  itu, mereka memberi syarat, saya harus meraih medali emas di olimpiade international itu untuk bisa mendapat beasiswa dari mereka.  Padahal yang saya inginkan adalah beasiswa untuk kuliah S1 di dalam  negeri,” paparnya.
Mul sendiri selalu menabungkan uang yang diperolehnya dari berbagai kompetisi yang diikutinya. “Saya mendapat uang saku, uang transpor  selama di pembinaan, juga dari dari juara olimpiade. Semua saya  tabung. Saya harus sangat hemat,” kata Mul. Namun sehemat-hematnya  Mul mengeluarkan uang, tetap saja tabungannya tidak mencukupi biaya  kuliah persemester dan biaya hidup di Bandung.
Api semangat Mul tidak padam, apalagi dukungan dari orang-orang di sekitarnya sangat besar. “Anak itu memang pandai dan selalu juara kelas. Mul juga aktif dan lincah meskipun agak tertutup. Ia juga senang membantu menerangkan teman-temannya jika ada yang bertanya tentang berbagai pelajaran, sampai kadang-kadang merelakan jam istirahatnya ,” ujar guru pembimbing Biologi SMAN 2 Pare, Isrowiyati.
Dengan sukarela, para guru pembimbing mengarahkannya dan membantu kebutuhannya jika Mul akan berangkat ke Bandung untuk pembinaan di ITB. Para guru pembimbing adalah tempat bertanya bagi Mul. Kepada mereka, Mul bisa berterus terang tentang berbagai hal, termasuk kesulitan yang dialaminya. “Kami sedang mengupayakan bantuan dari berbagai pihak, seperti Dinas Pendidikan. Karena kepada dinas sedang sakit, belum ada kelanjutannya. Kabar terakhir, alumni SMAN 2 Pare dan SMAN 2 Kediri bersedia memberikan bantuan untuk biaya hidup Mul sampai tamat di Bandung,” ujar kepala SMAN 2 Pare Sukadi.
Sekarang, Mul boleh berlega hati. Banyak pihak sudah bersedia membantunya. Ia tidak lagi berpikir tentang uang yang harus dia keluarkan untuk biaya kuliah maupun biaya hidup selama di Bandung. Setidaknya, ia bisa mulai mencapai idealismenya untuk menjadi orang yang berguna bagi banyak orang. “Setidaknya apa yang saya hasilkan  bisa membuat orang lain senang meskipun mereka tidak mengenal saya.  Dan itu sudah membuat saya puas,” ujar Mul mantap.
Mulyono, dengan motto hidupnya “Badai pasti berlalu” penuh percaya  diri menyongsong hidupnya. Ladang-ladang jagung di sekitar desanya  menunggu untuk diteliti. “Saya percaya, jika sekarang saya  berada  dalam kesulitan, beberapa jam, menit, atau detik lagi saya  akan  keluar dari masalah itu,” katanya menutup perbincangan.
Dikutip dari Kompas, Rabu 4 Agustus 2004 hal. 1
Coba bayangkan, seandainya anda berada pada posisi Mulyono diatas, kira-kira apa yang akan anda lakukan ? Hidup miskin di sebuah kota kecil, bersepeda 8 kilometer PP setiap hari, dengan uang Rp 2.200 yang hanya cukup untuk transportasi, dan tidak ada sisa untuk uang jajan. Pulang sekolah dalam keadaan lelah, masih punya kewajiban untuk merawat neneknya yang telah lanjut usia. Kehidupan seperti ini anda lakukan setiap hari selama bertahun-tahun. Dalam keadaan seperti itu, adakah anda masih punya impian untuk melangkah ke kehidupan yang lebih baik ?
Hampir setiap orang mungkin akan menjawab,”. Saya ini kan Cuma anak  seorang miskin dari desa. Jangankan mikirin kuliah di ITB, untuk  makan sehari-hari aja susah.  Ya sudah, ini adalah takdir dari Tuhan.  Kita terima saja dan kita syukuri, karena masih diberi hidup sampai  hari ini”. Memang benar takdir berasal dari Tuhan. Namun jangan lupa, bahwa kita juga diberi akal budi untuk MENGUBAH takdir kita tersebut.  Masalahnya, apakah kita akan MENGGUNAKAN KESEMPATAN untuk mengubah  takdir tersebut atau tidak.
Dalam menggunakan kesempatan inipun, masih ada lagi halangannya. Ada orang yang berkata “Saya akan coba” dan ada pula yang bertekad “Saya  harus berhasil”. Saya akan coba berarti “Saya akan mengerjakannya,  tapi mungkin bisa gagal lho ….”. Masih ada  pesimisme dalam kalimat  tersebut. “Saya harus berhasil” menunjukkan  total komitmen untuk  menyelesaikan apa yang ditelah dimulai sampai  selesai.  Untuk  mencapai impian memang tidak mudah. Anda harus berani MEMBAYAR harganya. Harga itu bisa berupa uang, waktu, atau kerja keras.
Mulyono, dalam artikel diatas, hanya sedikit orang yang menggunakan kesempatan tersebut dan membayar harganya dengan kerja keras yang luar biasa.
Rekan-2 Resensinet sekalian, saya yakin sebagian besar dari anda saat ini mempunyai kondisi jauh diatas kondisi Mulyono. Lalu, apa yang menghalangi anda untuk sukses ?
Mungkin saat ini anda mempunyai impian, tapi anda melihat kondisi anda saat ini tidak memungkinkan untuk mencapai impian anda tersebut. Dan mungkin impian anda saat ini sudah terkubur jauh di dalam hati anda. Gali kembali impian itu dan kejar, karena masalahnya bukan DIMANA anda sekarang, tapi KEMANA anda ingin melangkah.
HANYA ORANG YANG BERANI MEMBAYAR HARGANYA DENGAN PENGORBANAN YANG AKAN MENCAPAI IMPIANNYA.
TAHTA UNTUK SANG PUTRI
Seorang ayah, kebetulan pengusaha kaya multi-usaha, menghadapi soal yang amat pelik. Siapakah yang harus dipilihnya menjadi President & CEO menggantikan dirinya memimpin kerajaan bisnisnya yang sudah dibangun susah payah lebih dari setengah abad?
Kini usianya sudah berkepala tujuh dan penyakit-penyakit tua sudah mulai menggerogoti dirinya. Ia tahu sebentar lagi dirinya akan mengikuti jejak nenek-moyangnya menuju lorong hidup manusia fana.
Anaknya tiga orang. Si sulung amat cerdas, meraih MSc. dan MBA luar negeri, ia berselera canggih, senang glamour, ambisius, dan punya pergaulan yang luas di kalangan jet set. Cuma si ayah cukup khawatir karena si sulung ini punya bakat bercumbu dengan bahaya seperti (konon) keluarga Kennedy. Naluri jdinya gede, dan niat curangnya pun cukup kuat. Singkatnya, ia cerdas, kreatif, namun lihai dan licin.
Si tengah, lebih hebat lagi. Bergelar PhD. bidang kimia dari universitas beken di Amerika, ia lulus dengan predikat magna cum laude. Papernya bertebaran di jurnal-jurnal internasional. Bangga sekali hati si ayah yang cuma lulus SMP zaman Jepang. Dia dosen dan peneliti. Dan di perusahaan ayahnya dia menjabat sebagai Direktur Riset dan Pengembangan. Tetapi menjadi CEO, ia terlalu akademis.
Kurang cocok dengan bisnis mereka yang kini berspektrum sangat lebar.
Si bungsu, satu-satunya perempuan, cuma lulus S1 dalam negeri.
Meskipun sejak lima tahun terakhir ia bergabung dengan usaha ayahnya sebagai Direktur Grup Konsumer, tetapi ia memulai karirnya di perusahaan asing sebagai wiraniaga (marketing executive). Ia merangkak dari bawah hingga 15 tahun kemudian bisa mencapai posisi General Manager. Otaknya kalah brilian dbanding kedua kakaknya.
Meskipun cenderung hemat berkata-kata, namun ia menunjukkan bakat memimpin yang baik. Ia mampu mendengar dengan intens. Berbagai pendapat dan gagasan bisa diolahnya dengan dalam.
Gaya hidupnya biasa saja. Ia disenangi sekaligus disegani orang karena sikapnya yang fair, jujur, dan mampu merakyat dengan para bawahannya.
Nah, jika Anda adalah konsultan independen, siapakah pilih an Anda menggantikan sang patriarch menjadi President & CEO? Saya bertaruh, sebagian besar Anda akan menominasikan si bungsu. Dan si ayah juga demikian. Masalah ini menjadi pelik, karena menurut adat-istiadat, si sulunglah pewaris takhta. Dan, ia sangat berambisi untuk itu. Sedang si bungsu, selain paling buncit, perempuan lagi. Jadi ia kalah status, gelar dan gender. Bagaimana jalan keluarnya? Konsultan angkat tangan. Rujukan buku teks tidak ada. Sang patriarch akhirnya hanya bisa mengandalkan wibawa dan hikmatnya sebagai ayah.
Lalu dipanggilnya ketiga anaknya. Dibentangkannya persoalan secara gamblang. Diuraikannya plus-minus setiap anaknya. Dianalisisnya kemungkinan sukses masing-masing memimpin grup usaha itu menuju milenium ketiga. Dialog pun dimulai. Dan si ayah segera maklum, dead lock akan terjadi. “Sudahlah, aku akan memutuskan sendiri siapa penggantiku,” kata orangtua itu akhirnya. Ketiganya takzim menurut. Seminggu kemudian, si ayah datang dengan sebuah ujian. “Barangsiapa bisa mengisi ruang ini sepenuh-penuhnya, maka dialah penggantiku,” katanya sambil menunjuk ruang rapat yang cuma terisi empat kursi dan sebuah meja bundar. “Budget maksimum Rp1 juta,” tambahnya lagi.
Kesempatan pertama jatuh pada si sulung. Enteng, pikirnya. Besoknya, dipenuhinya ruangan itu dengan cacahan kertas berkarung-karung. Dan memang ruangan itu menjadi padat. “Bagus, besok giliranmu,” kata si ayah kepada anak keduanya.
Duapuluh empat jam kemudian, ruangan itu pun dipenuhinya dengan butiran styro- foam yang diperolehnya dengan menghancurkan bekas-bekas packaging. “Oke, besok giliranmu,” kata sang patriarch menunjuk putrinya.
Esoknya, ketika acara inspeksi dimulai, ternyata ruangan masih kosong. “Lho, kok kosong?” tanya ketiganya hampir serempak. Sang putri diam saja. Dimatikannya saklar lampu. Dari sakunya dia keluarkan sebatang lilin. Ditaruhnya di atas meja. Lalu disulutnya dengan sebatang korek api. “Lihat, ruangan ini penuh dengan terang. Silahkan dinilai, apakah ada celah kosong tak tersinari,” katanya kalem. Tak terbantah siapa pun, dia dinyatakan menang dan sang putri pun berhak menduduki kursi tertinggi. Problem solved.
Kualitas yang ditunjukkan sang ayah dan putrinya adalah apa yang saya sebut sebagai hikmat. Ciri utama orang berhikmat (wise person) ialah kemampuan memecahkan masalah secara genuine dan memuaskan. Ini selaras dengan Jerry Pino yang merumuskan hikmat sebagai kemampuan membuat the best decision at any given situation.
Pintar, di pihak lain, adalah kemampuan mencerna dan mengolah informasi secara cepat. Ciri-cirinya, rasional, metodik, linier, dan analitik. Kepintaran umumnya diperoleh dengan olah otak sampai botak.
Dari dulu botak memang ciri orang pintar. Tetapi hikmat (wisdom) tidak hanya memerlukan olah otak tetapi terutama olah hati. Jarang kita sadari, hati kita sebenarnya bisa berpikir. Dalam tradisi literatur kuno, terutama kitab-kitab suci, hati adalah lokasi kebijaksanaan, hikmat dan kepandaian. Lebih spesifik, hati adalah access point kita kepada the higher knowledge, yakni kepada Tuhan sendiri. Dalam arti ini, orang bijak selalu berkonotasi orang alim dan saleh.
Kini, ketika rasionalisme warisan Descartes dan Immanuel Kant menjadi panglima, kebijaksanaan yang berasal dari hati (nurani atau suara hati) cenderung dinomorduakan. Yang utama adalah kepala. Dunia politik, bisnis dan kemasyarakatan kita kemudian didominasi oleh para pakar dan teknokrat bergelar master, doktor, dan profesor.
PAKU DAN KEMARAHANYA
Suatu ketika, ada seorang anak laki-laki yang bersifat pemarah. Untuk mengurangi kebiasaan marah sang anak, ayahnya memberikan sekantong paku dan mengatakan pada anak itu untuk memakukan sebuah paku di pagar belakang setiap kali dia marah …
Hari pertama anak itu telah memakukan 48 paku ke pagar setiap kali dia marah … Lalu secara bertahap jumlah itu berkurang. Dia mendapati bahwa ternyata lebih mudah menahan amarahnya daripada memakukan paku ke pagar.
Akhirnya tibalah hari dimana anak tersebut merasa sama sekali bisa mengendalikan amarahnya dan tidak cepat kehilangan kesabarannya. Dia memberitahukan hal ini kepada ayahnya, yang kemudian mengusulkan agar dia mencabut satu paku untuk setiap hari dimana dia tidak marah.

Hari-hari berlalu dan anak laki-laki itu akhirnya memberitahu ayahnya bahwa semua paku telah tercabut olehnya. Lalu sang ayah menuntun anaknya ke pagar. “Hmm, kamu telah berhasil dengan baik anakku, tapi, lihatlah lubang-lubang di pagar ini. Pagar ini tidak akan pernah bisa sama seperti sebelumnya. “Ketika kamu mengatakan sesuatu dalam kemarahan. Kata-katamu meninggalkan bekas seperti lubang ini … di hati orang lain.
Kamu dapat menusukkan pisau pada seseorang, lalu mencabut pisau itu … Tetapi tidak peduli beberapa kali kamu minta maaf, luka itu akan tetap ada … DAN luka karena kata-kata adalah sama buruknya dengan luka fisik …”
~Author Unknown
***
Sahabat Resensi.net, Situs cerita motivasi
memang, sebuah permintaan maaf bisa mengobati banyak hal. Namun, agaknya kita juga harus mengingat, bahwa semua itu tak akan ada artinya, saat kita mengulangi kesalahan itu kembali.
Cerita ini, adalah sebuah tamsil, sebuah amsal, sebuah ibarat dan sebuah wira-kisah. Tentang, berbuat kesalahan memang wajar, namun, ia juga mengajarkan, menghindarinya adalah hal lain yang bisa kita lakukan.
MAMA JANGAN TINGGALKAN ADE

Suatu siang di tenda penampungan pengungsi di Blang Bintang, Banda Aceh. Seperti hari-hari lalu, banyak orang lalu lalang diantara barisan pengungsi yang tercerai berai dari keluarganya. Ada pejabat-pejabat yang menghibur dan membesarkan hati mereka. Juga relawan yang hilir mudik mengemasi sumbangan para penderma. Diantara kesibukan itu, suara tangis terdengar lamat-lamat. Seorang gadis kecil duduk di pojok tenda, berbaju tidur motif kembang. Wajahnya suram, air matanya mengalir bak sungai kecil.
Kepalanya dililit perban, menutupi rambutnya yang pendek. Diantara tangisnya berulang kali gadis itu menyebut “Papa … Mama” dan air matanya berurai deras lagi setelahnya.Hari memang tiba-tiba amat cepat bergulir bagi Putri. Sepuluh tahun masa lalunya di Lampasah, Banda Aceh, digulung ombak dalam waktu setengah jam, di sebuah hari menjelang pagi lima hari sebelumnya. Sekejap saja, gadis kecil bermata bulat itu kehilangan semuanya. Rumah, boneka, empat saudara dan sepasang orang tua. Juga mal di Banda Aceh tempatnya makan ayam KFC jika akhir pekan bersama keluarganya, yang hancur diterjang gelombang tsunami.
“Ada boneka banyak ..juga terbawa. mama dan papa juga,” bisiknya lirih. Matanya menatap tayangan televisi. Minggu (2/1), ketika sebuah stasiun televisi menayangkan gambar Banda Aceh dengan hiruk pikuk terakhir,Youlanda Putri justru sudah ribuan kilo jauh dari sana. Tangisannya di pengungsian, memilukan banyak orang yang mendengarnya. Beruntung, tiba-tiba seseorang mendekat, mengajaknya ikut terbang ke Jakarta.
“Melihatnya nangis terus, saya tanya itu anak siapa. Katanya anak polisi juga, tapi sudah nggak ada semua. Entah gimana, saya merasa ada sesuatu disini dan lalu ingin membawanya,” kata Didi Widayadi, menunjuk dadanya. Selama bertahun-tahun, ia dan Siti Aisyah, istrinya, berangan memiliki anak perempuan, setelah putra semata wayangnya, Endi, beranjak dewasa.
*****
Siapa nyana, anak perempuan itu `disiapkan’ Tuhan bagi keluarga Didi, di pengungsian. Gadis kecil yang kurus dengan luka menganga di dahi sampai pangkal kepala. Luka itu justru baru diketahuinya ketika sudah membawa Putri ke Jakarta. Sabtu (1/1) malam ketika sampai di Jakarta, Didi curiga melihat cairan yang terus meleleh di dahi Putri. Meski anak adopsinya itu tak mengeluh, rasa penasaran membuatnya ingin tahu seperti apa luka di dahi Putri.

“Ketika dibuka perbannya, lukanya begitu dalam. Ketika disana katanya sudah dijahit, jadi saya tenang. Nggak tahunya lukanya hanya disumpel kapas lalu diperban. Ketika kita buka, luka itu sudah busuk dan bau, nanahnya juga banyak sekali sampai habis tisue di kamar,” urai Didi sembari menggeleng-gelengkan kepala. Putri juga nangis terus sambil menjerit-jerit “Papa, tolong Ade. Papa nggak sayang Ade. Papa nggak sayang Ade!” Putri pun dilarikan ke rumah sakit Soekanto, Kramat Jati Jakarta Timur. Hasil rontgen, Sabtu (2/1) siang memperlihatkan ada sebuah paku sepanjang 3 cm di pelipis kanan Putri. “Menurut ceritanya, ketika badai itu kepala Putri terhantam meja yang melaju deras digulung ombak. Mungkin paku dari situ yang masuk kepalanya,” kata dr. Harry Sugiarto SpB, ahli bedah yang mengoperasi kepala dan kaki Putri di rumah sakit Soekanto Kramat Jati, Jakarta Timur.
Khawatir ada infeksi yang bisa menjalarlah yang membuat kepala Putri di rontgen. Ternyata, tengkorak kepalanya bagus, hanya dahi sampai pangkal kepala yang terluka parah. Beberapa jam setelah rontgen, meski resminya hari itu libur, diputuskan untuk mengoperasi kepala Putri, mengeluarkan paku di pelipis kanan dan menjahit luka menganga di dahinya.
*****
“Beberapa kali ada bayi di rumah sakit, gemuk, lucu. Anak saya bilang `Ma, lucu bayinya. Adopsi aja.’ Tapi saya selalu bilang `Nggak ah, saya belum sreg,’” kenang Siti Aisyah. Tapi Jum’at (31/12) itu, ia merasa takdir menyiapkannya bertemu Putri, gadis yang selamat karena susah payah `menunggang’ bantal ketika gelombang air dahsyat hendak menggulungnya. Melihat gadis itu begitu ketakutan, menderita dan butuh perlindungan, hatinya luluh.
“Saya nggak ada pikiran apa-apa lagi. Tahu-tahu hati kecil saya bilang `iya’ dan kami bulat membawa anak itu ke Jakarta,” lanjutnya. Dalam waktu beberapa jam saja, ia merasa Putri bagai terlahir sebagai anak kandungnya. Setiap kali, tangan Putri seperti tak ingin lepas bertautan dengan tangan orang tua barunya. “Mama jangan tinggalin Ade ya,” bisik Putri selalu. Beberapa kali, kalimat itu sempat membuat mata Siti Aisyah berkaca-kaca.
Diakuinya, banyak penyesuaian yang harus dilakukan. Sifat Putri yang keras kepala, rasa trauma yang dalam karena kehilangan keluarga asalnya, menjadi masalah yang kelak harus dihadapi pasangan ini terhadap anak adopsinya. “Tapi saya sudah ikhlas mengambilnya sebagai anak saya. Selama ini sama Endy nggak pernah sekalipun saya nangis. Tapi pas liat dia (Putri) kesakitan, saya betul-betul sedih dan nangis,” kata Didi. Apalagi ketika ia tanya apa yang bisa membuat Putri bahagia, gadis kecil itu menjawab “Aku ingin Mama dan Papaku.Mereka sudah ketemu belum?” .
*****
Meski dalam kondisi tertekan, Putri cenderung tenang untuk ukuran anak seusianya. Sepintas, kecepatannya beradaptasi di keluarga barunya seperti menjelaskan gadis kecil itu cukup cerdas. Syahdan, anak keempat dari lima bersaudara itu selalu ranking di sekolahnya di Lampasah, Banda Aceh. Ayahnya Brigadir Sudirman, adalah anggota Intel Polda NAD. Ibunya, Juariah, lebih sering menemaninya main boneka di rumah. Kini, hanya kenangan yang hidup dalam dirinya, setelah kelaurganya hilang belum tentu rimbanya. “Mama pintar bikin asam manis. Ikan asam manis. Kita juga suka ke mal makan KFC (Kentucky Fried Chicken),” kata Putri sambil tersenyum kecil. Sesekali, tangannya sibuk berkonsentrasi memencet tombol-tombol handphone barunya. “Lagi sms-an sama kak Sasha,” lanjutnya ketika ditanya asyik ngobrol sama siapa.Kadang, ketika rasa kehilangannya muncul, Putri yang semula pendiam berubah menjadi rewel dan keras kepala. Ia merengek-rengek minta boneka atau makanan kesukaannya. “Tapi setelah dibelikan, boneka itu cuma diliatin. Makanan juga cuma beberapa sendok lalu dia nggak mau lagi,” keluh Siti Aisyah. Jika sudah begitu, yang bisa dilakukan hanya bersabar.
Karena kini, cuma itu satu-satunya jalan. “Saya cuma ingin menolongnya. Semoga saya mampu menyekolahkannya sampai selesai,” bisik Siti Aisyah, Senin (3/1) siang itu. Sesekali, ia mengintip Putri yang terbaring tenang dalam tidur “Memang harus sabar, ini menyangkut kondisi psikisnya juga. Untuk luka di kepalanya itu butuh waktu 1 bulan. Tapi operasi kosmetiknya lebih baik dilakukan nanti 6 bulan lagi setelah benar-benar pulih,” ujar dr Harry Sugiarto, ahli bedah yang menangani Putri. Pun demikian, garis luka di dahi Putri diyakini tak bisa hilang benar. Kalaupun bisa, hanya disamarkan dengan bedak.Daging di ujung pergelangan kaki kiri Putri pun sebagian harus di buang karena sudah busuk. Pertumbuhan kulit barunya juga harus menunggu 1 sampai 2 bulan lagi.
******
“Papa sayang Ade nggak?” kalimat pelan itu seperti memecah malam. Padahal saat itu, Minggu (2/1), Putri sedang nonton film kartun di televisi, sambil tangan kirinya memegang erat tangan kanan Didi Widayadi, papa barunya “Sayang sekali dong. Ade kan anak Papa,” Didi tersenyum, menyembunyikan rasa haru yang mulai terlihat di matanya. Diluar, malam mulai merayap tanpa suara Setelah beberapa tamu datang menjenguk Ade, panggilan sayang Putri, gadis kecil itu tampak lelah. Makan malam dari rumah sakit hanya dicicipinya sedikit.
“Asin. Nasinya lembek,” keluhnya sambil menjauhkan mulutnya dari piring makannya. Sekilas, bibirnya cemberut. Lalu tersenyum lagi ketika disinggung umurnya. “11 tahun … mmm … 8 Mei nanti. Masih lama ya?”katanya sambil matanya sekilas menerawang. Mungkin ia sadar, ketika tiba saat yang empat bulan itu, umurnya bertambah dalam kesendirian. Tanpa Sudirman dan Juariah, orangtua sedarahnya Tanpa empat saudara kandungnya.Tapi Putri punya orang tua dan saudara-saudara baru, yang mungkin belum dimiliki anak-anak lain di tempat pengungsian Aceh, sampai saat ini. Ada boneka pink berbentuk tulang yang hangat menyangga kaki kirinya yang masih sakit dibelit perban. Juga kawanan boneka lain yang mulai berdatangan di kamar sejuknya di rumah sakit.
Malam itu, Putri tidur mengapit tangan papa barunya. Ayah dan anak itu sama-sama baru mengakhiri penantian. Di tempat tidur yang hangat, tanpa takut kedinginan dan kehilangan perlindungan lagi, mata Putri beberapa kali mengerjap, lalu tidur lagi. Masa kecilnya masih bisa ditempuhnya dengan indah, segera setelah pulih lahir dan bathin. Sementara ribuan kilo dari sisinya, ribuan anak menanti nasib baik,di berbagai pelosok Aceh. Mereka pasti menanti suatu malam dimana mereka bisa tidur dalam pelukan hangat orang tua – orang tua yang tulus, yang membuat masa kecil mereka bisa berlanjut. Seperti Putri. (Lily Bertha Kartika)
Sumber: Kompas – Selasa, 04 Januari 2005
TIPS MERANCANG HOME OFFICE
Sepertinya anda sudah siap untuk bekerja di rumah sendiri. Dan, memang kini
semakin banyak orang yang memilih untuk bekerja di rumah sendiri. Apalagi
sekarang teknologi komunikasi semakin canggih dan mudah untuk diperoleh.
Sebelum anda memulai berusaha, ada baiknya anda simak beberapa tips berikut
bagaimana anda merancang home office di rumah anda sendiri.
1–Siapkan ruang kerja yang terpisah.
Jangan biarkan anda bekerja sambil terganggu oleh suara tv, aroma dapur atau
keributan rumah tangga lainnya. Anda bisa menyiapkannya di garasi, kamar
atau loteng. Jika anda tidak mempunyai ruangan yang cukup luas,
pertimbangkan untuk menggunakan sekat, misal yang juga berfungsi sebagai
filling cabinet, papan tulis, dan lain-lain.
2–Tentukan bentuk ruang kerja sesuai kebutuhan.
Anda bisa memilih untuk menyusun perabot/furniture dengan bentuk U, agar
anda bisa meraih segala sesuatu dengan mudah. Untuk itu anda perlu ruangan
yang cukup luas. Atau anda bisa menyusun seperti hurup L yang cocok untuk
ruangan yang terbatas. Yang jelas, perhatikan bagaimana anda harus bergerak
dan memerlukan benda-benda. Anda bisa mengintip bagaimana sebuah kantor
dirancang untuk mendapatkan ide.

3–Gunakan perabot/furniture kantor.

Perabotan kantor dirancang sedemikian rupa agar anda bisa bekerja dengan
baik, tidak mudah lelah dan efisien. Jangan ragu untuk mengeluarkan dana
lebih untuk membeli meja yang cukup luas untuk bekerja, terutama jika anda
bekerja dengan komputer atau kertas-kertas. Belilah juga kursi kerja yang
berroda dan nyaman diduduki. Jangan lupa filling cabinet sesuai kebutuhan.

4–Sediakan jalur telepon yang terpisah.
Tentu anda tak ingin jika telpon dari rekan bisnis anda diterima oleh suara
anak-anak anda bukan? Siapkan dua jalur telepon untuk bisnis dan rumah yang
berbeda. Jika tidak mudah untuk memperoleh jaringan baru, siapkan saja
jaringan paralel dan letakkan telepon anda dekat dengan ruang kerja,
sehingga memudahkan anda untuk meraihnya di saat berdering. Tapi, biasanya
anda perlu sedikitnya dua jaringan telepon, yaitu untuk telpon, fax atau
internet.

5–Jangan lupa mesin fax.
Fax adalah sepenting telepon juga. Anda bisa menerima dan mengirim dokumen
melalui fax. Pertimbangkan baik-baik saat anda membeli fax. Ada mesin fax
yang berfungsi juga sebagai mesin penjawab dan mesin fotocopy. Ada mesin fax
yang mencetak di atas kertas fax atau kertas biasa. Tentukan mana yang
benar-benar anda butuhkan. Mesin fax yang canggih mungkin tidak terlalu
perlu bila anda baru memulai usaha anda.

6–Sediakan komputer juga.
Lengkapi peralatan kerja anda dengan seperangkat komputer dan printer.
Isilah komputer anda dengan berbagai software yang pintar, seperti software
fax, internet, yang memudahkan anda berkomunikasi dan bekerja. Komputer
nyaris menjadi perlengkapan utama dalam setiap kantor.

7–Pastikan ruang kerja anda cukup nyaman.
Yang jelas, anda harus merasa nyaman bekerja di situ selama berjam-jam.
Apakah anda memerlukan pendingin udara (AC) atau mungkin cukup sebuah kipas
angin kecil, yang juga berfungsi sebagai pendingin perlengkapan komputer
anda? Atau mungkin anda bisa memilih bekerja dekat dengan jendela dan
membiarkan udara bersikulasi dengan baik.

8–Last but not least: perlengkapan staitionery.
Ini biasanya banyak terlupakan. Luangkan waktu untuk berbelanja kebutuhan
stationery. Memang ini barang-barang kecil, namun sangat bermanfaat, seperti
klip, staples, perfurator, kalkulator (anda masih perlu kalkulator meski
anda punya komputer bukan), tray kertas, gunting, tape dispenser dan
macam-macam yang lain. Jangan biarkan kerja anda terhambat hanya karena anda
tidak mempunyai cukup supplies, misal, isi pulpe
KISAH CINTA SEORANG ANAK
Dua puluh tahun yang lalu saya melahirkan seorang anak laki-laki,
wajahnya lumayan tampan namun terlihat agak bodoh. Sam, suamiku,
memberinya nama Eric. Semakin lama semakin nampak jelas bahwa anak ini
memang agak terbelakang. Saya berniat memberikannya kepada orang lain
saja.
Namun Sam mencegah niat buruk itu. Akhirnya terpaksa saya
membesarkannya juga. Di tahun kedua setelah Eric dilahirkan saya pun
melahirkan kembali seorang anak perempuan yang cantik mungil. Saya
menamainya Angelica. Saya sangat menyayangi Angelica, demikian juga
Sam. Seringkali kami mengajaknya pergi ke taman hiburan dan
membelikannya pakaian anak-anak yang indah-indah.

Namun tidak demikian halnya dengan Eric. Ia hanya memiliki beberapa
stel pakaian butut. Sam berniat membelikannya, namun saya selalu
melarangnya dengan dalih penghematan uang keluarga.
Sam selalu
menuruti perkataan saya. Saat usia Angelica 2 tahun, Sam meninggal
dunia. Eric sudah berumur 4 tahun kala itu. Keluarga kami menjadi
semakin miskin dengan hutang yang semakin menumpuk. Akhirnya saya
mengambil tindakan yang akan membuat saya menyesal seumur hidup. Saya
pergi meninggalkan kampung kelahiran saya beserta Angelica. Eric yang
sedang tertidur lelap saya tinggalkan begitu saja. Kemudian saya
tinggal di sebuah gubuk setelah rumah kami laku terjual untuk membayar
hutang. Setahun, 2 tahun, 5 tahun, 10 tahun.. telah berlalu sejak
kejadian itu.
Saya telah menikah kembali dengan Brad, seorang pria dewasa. Usia
Pernikahan kami telah menginjak tahun kelima. Berkat Brad, sifat-sifat
buruk saya yang semula pemarah, egois, dan tinggi hati, berubah
sedikit demi sedikit menjadi lebih sabar dan penyayang. Angelica telah
berumur 12 tahun dan kami menyekolahkan dia di asrama putri sekolah
perawatan. Tidak ada lagi yang ingat tentang Eric dan tidak ada lagi
yang mengingatnya.

Tiba-tiba terlintas kembali kisah ironis yang terjadi dulu seperti
sebuah film yang diputar dikepala saya. Baru sekarang saya menyadari
betapa jahatnya perbuatan saya dulu.tiba-tiba bayangan Eric melintas
kembali di pikiran saya. Ya Eric, Mommy akan menjemputmu Eric. Sore
itu saya memarkir mobil biru saya di samping sebuah gubuk, dan Brad
dengan pandangan heran menatap saya dari samping. “Mary, apa yang
sebenarnya terjadi?”

“Oh, Brad, kau pasti akan membenciku setelah saya menceritakan hal
yang telah saya lakukan dulu.” aku menceritakannya juga dengan
terisak-isak. Ternyata Tuhan sungguh baik kepada saya. Ia telah
memberikan suami yang begitu baik dan penuh pengertian. Setelah tangis
saya reda, saya keluar dari mobil diikuti oleh Brad dari belakang.
Mata saya menatap lekat pada gubuk yang terbentang dua meter dari
hadapan saya. Saya mulai teringat betapa gubuk itu pernah saya
tinggali beberapa bulan lamanya dan Eric.. Eric…

Namun saya tidak menemukan siapapun juga di dalamnya. Hanya ada
sepotong kain butut tergeletak di lantai tanah. Saya mengambil seraya
mengamatinya dengan seksama… Mata mulai berkaca-kaca, saya mengenali
potongan kain tersebut sebagai bekas baju butut yang dulu dikenakan
Eric sehari-harinya. Saya sempat kaget sebab suasana saat itu gelap
sekali. Kemudian terlihatlah wajah orang itu yang demikian kotor.
Ternyata ia seorang wanita tua. Kembali saya tersentak kaget manakala
ia tiba-tiba menegur saya dengan suaranya yang parau.

“Heii…! Siapa kamu?! Mau apa kau kemari?!”
Dengan memberanikan diri, saya pun bertanya, “Ibu, apa ibu kenal
dengan seorang anak bernama Eric yang dulu tinggal di sini?”

Ia menjawab, “Kalau kamu ibunya, kamu sungguh tega, Tahukah kamu, 10
tahun yang lalu sejak kamu meninggalkannya di sini, Eric terus
menunggu ibunya dan memanggil, ‘Mommy…, mommy!’ Karena tidak tega,
saya terkadang memberinya makan dan mengajaknya tinggal Bersama saya.
Walaupun saya orang miskin dan hanya bekerja sebagai pemulung sampah,
namun saya tidak akan meninggalkan anak saya seperti itu! Tiga bulan
yang lalu Eric meninggalkan secarik kertas ini. Ia belajar menulis
setiap hari selama bertahun-tahun hanya untuk menulis ini untukmu…”

Saya pun membaca tulisan di kertas itu…
“Mommy, mengapa Mommy tidak pernah kembali lagi…? Mommy marah sama
Eric, ya? Mom, biarlah Eric yang pergi saja, tapi Mommy harus berjanji
kalau Mommy tidak akan marah lagi sama Eric.
Bye, Mom…”
Saya menjerit histeris membaca surat itu. “Bu, tolong katakan…
katakan di mana ia sekarang? Saya berjanji akan meyayanginya sekarang!
Saya tidak akan meninggalkannya lagi, Bu! Tolong katakan..!!”
Brad memeluk tubuh saya yang bergetar keras.
“Nyonya, semua sudah terlambat. Sehari sebelum nyonya datang, Eric
telah meninggal dunia. Ia meninggal di belakang gubuk ini. Tubuhnya
sangat kurus, ia sangat lemah. Hanya demi menunggumu ia rela bertahan
di belakang gubuk ini tanpa ia berani masuk ke dalamnya. Ia takut
apabila Mommy-nya datang, Mommy-nya akan pergi lagi bila melihatnya
ada di dalam sana…
Ia hanya berharap dapat melihat Mommy-nya dari
belakang gubuk ini… Meskipun hujan deras, dengan kondisinya yang
lemah ia terus bersikeras menunggu Nyonya di sana.”

KESUNYIAN POHON CEMARA
SEORANG anak kecil berumur empat tahun menarik-narik tangan ayahnya untuk dibelikan pohon natal besar yang berdiri tegak di sebuah supermarket.
“AKU mau ini.”
“Jangan, sayang. Itu tidak dijual.”
“Kok di situ?”
“Untuk hiasan. Kita nonton saja sebentar. Itu tidak dijual.”
Seperti malaikat, seorang pelayan dengan seragam penuh aksesori Natal tiba-tiba sudah berdiri di samping sang anak.

“Ini tidak dijual, Adik,” sambil memandang pohon natal. Sambil mengambil kardus panjang berwarna putih, ia tersenyum sambil menawarkan, “Kalau ini boleh, tingginya 60 cm, juga pakai lampu. Boneka Sinterklas itu juga boleh.”

Dengan pandangan setengah menggugat, anak itu menarik tangan ayahnya agar mendekat pada “malaikat” supermarket itu.
“Baik, ambil satu,” kata sang ayah sambil mengusap punggung anaknya.
Sesampai di rumah, si kecil tidak sabar mengeluarkan seluruh isi kardus pohon Natal bertuliskan “Decorated Table Tree” itu: satu set pohon cemara superfisial yang terbuat dari kawat dan potongan-potongan kain hijau, satu set lampu hias, hiasan bola-bola salju, dan tiga atau empat bintang berwarna kuning keemasan. Sambil berbisik “wi wis yu, e meri krimet” (maksudnya we wish you a merry Christmas), ia sibuk membantu ayahnya merangkai pohon natal.
Supaya lebih meriah, sang ayah memasukkan kaset natal ke dalam tape. Satu per satu anggota keluarga bermunculan mendekati “huru-hara” yang tiba-tiba itu. Tiba-tiba ia berhenti di sudut ruangan menghampiri kotak besar yang sedikit berdebu. Puluhan boneka yang sudah lama disimpan di kotak dikeluarkan. Patung Bunda Maria yang sudah retak pun dipasang tidak jauh dari pohon natal. Sinterklas berwarna putih-merah ditaruh di baris paling depan, seperti patung Betara Kala sang penjaga.
POHON cemara, kaset Malam Kudus, boneka Sinterklas, adalah beberapa bahan pokok dalam perayaan Natal. Mudahnya mendapatkan pohon natal di supermarket menjauhkan keinginan anak untuk melihat “kerja bakti” membuat pohon natal di gereja. Banyaknya kaset menjauhkan keinginan anak untuk “nonton” latihan koor persiapan Natal. Murahnya boneka Sinterklas mengakrabkan anak-anak dengan simbol-simbol Natal di tempat lain (yang sebelumnya hampir tidak dikenal di Indonesia).
Untuk mengingatkan bahwa sekarang ini Natal, rasanya lebih mudah pergi ke supermarket daripada pergi ke gereja atau tempat-tempat latihan koor (yang semakin sulit dicari anggotanya!). Semakin banyak memborong atribut-atribut Natal rasanya kita semakin berhasil menghadirkan Natal.
Membeli rasanya seperti beribadat. Tidak membeli sepertinya tidak menghormati Natal. Memang, menjelang perayaan Natal pusat-pusat belanja menjadi semacam sanctuaria untuk memproduksi dan mengonsumsi berbagai atribut atas nama Natal atau, persisnya, bentuk-bentuk simbolik budaya pop Natal. Sebagai bentuk, atribut-atribut itu siap kita pakai sesuai dengan kepentingan kita (dari bisnis, keagamaan, pergaulan, sampai dengan gengsi). Bentuk-bentuk itu bersifat simbolik karena semuanya mengatasi nilai fungsionalnya.
Pohon natal yang semula berdiri di gereja untuk kepentingan upacara misa atau kebaktian, kini berdiri di rumah-rumah, di supermarket, dan di tempat-tempat publik seperti kantor dan rumah sakit dengan fungsinya masing-masing. Topi berjambul yang dikenakan pada kakek Sinterklas bisa juga dipakai untuk seragam sekelompok anak muda untuk pesta Natal maupun Tahun Baru.
Bentuk-bentuk simbolik itu juga memiliki karakter budaya pop dalam arti menduduki posisi komoditas dalam sebuah perekonomian kapitalis. Komoditas tersebut menjadi impian siapa saja yang ingin hadir sekarang dan di sini, yaitu saat Natal. Tanpa pohon natal seakan kita tidak natalan seperti halnya tanpa sampo rambut seakan rambut kita penuh ketombe. Anehnya, pohon cemara yang ditanam di depan rumah tiba-tiba menjadi kurang afdal daripada pohon cemara artifisial itu! Status aksesori Natal sebagai komoditas ternyata bukan hanya memperluas para pengguna aksesori (dengan berbagai kekuatan promosionalnya) melainkan juga memasukkan unsur baru, yaitu membeli. Kenikmatan membeli bercampur baur dengan kekhusukan berbakti, kenikmatan mengonsumsi bercampur baur dengan kenikmatan promosi dan gengsi.
BEGITULAH Natal masuk dalam logika budaya pop Natal. Gloria in excelsis Deo (Kemuliaan pada Allah di surga) seakan habis dimaterialisasikan dalam gemerlapan lampu-lampu indah dan rumbai-rumbai pintu yang menghiasi pusat-pusat perbelanjaan. Kita seakan tidak lagi mendapatkan kesempatan untuk memilih cara lain untuk merayakan Natal di luar cara yang dijualbelikan. Kalau toh ada, perayaan kita rasanya belum komplet kalau belum dilengkapi dengan berbagai aksesori yang ada (entah karena keterbatasan ekonomi maupun keterbatasan keyakinan untuk mengonsumsinya!). Poros Natal dari rumah ke gereja digeser oleh poros dari rumah ke pusat belanja.
Apakah dengan demikian kita kehilangan kesempatan untuk mengalami Natal kita sendiri? Belum tentu. Sebagai bentuk-bentuk simbolik, atribut-atribut Natal bebas kita pakai untuk menggubah cerita Natal kita sendiri. Kisah Natal adalah kisah tentang pengalaman keterbatasan sekaligus kebebasan manusia. Kisah Natal pasti bukan kisah tentang pohon natal bersalju yang tidak pernah kita lihat wujud aslinya, juga bukan kisah tentang tokoh mistis Sinterklas yang barang kali tidak pernah kita dengar sejarahnya, juga bukan kisah tentang lagu Malam Kudus yang kita nyanyikan dengan empat suara. Perayaan Natal di negeri lain menghasilkan pohon natal, bukan sebaliknya; perayaan Natal anak-anak di negeri lain menghasilkan kisah tentang Sinterklas, bukan sebaliknya; pengalaman Natal juga menghasilkan lagu Malam Sunyi yang terkenal itu.
Orang bilang, salah satu ciri pengalaman konsumsi zaman sekarang adalah ephemeral, sesaat, cepat berlalu, minta konsumsi lagi dan lagi. Pengalaman ini barangkali juga kita alami saat membeli pohon natal. Hanya dalam dua atau tiga hari, pohon natal mungkin saja berdiri kesepian di pojok ruang, bisu tidak bisa bicara karena sudah menjauh dari pengalaman nikmat membeli.
Jangan-jangan kesunyian pasca-konsumsi ini yang paling dekat dengan ungkapan “malam sunyi” yang kita nyanyikan. Orang butuh pengalaman lain yang pantas dikenang, yang pantas menghias kehidupan, yang tidak hanya mengalir dari pengalaman pembelian, melainkan dilakukan bersama orang lain, yang tidak muncul dari menyaksikan (voyeuristic) melainkan kesaksian.
Kita pertama-tama tidak butuh popular culture yang diproduksi oleh satu mesin ideologi konsumsi massa, melainkan culture of the people dengan berbagai ragamnya, bukan popular culture yang senantiasa minta disaksikan melainkan culture of the people yang menuntut kesaksian, bukan popular culture yang kita capai lewat konsumsi (sendirian) melainkan culture of the people yang kita ciptakan bersama orang lain. (*)
Sumber: Kesunyian Pohon Cemara oleh St Sunardi
KISAH 1000 KELERENG
Makin tua, aku makin menikmati Sabtu pagi. Mungkin karena adanya keheningan sunyi senyap sebab aku yang pertama bangun pagi, atau mungkin juga karena tak terkira gembiraku sebab tak  usah masuk kerja. Apapun alasannya, beberapa jam pertama Sabtu pagi amat menyenangkan.
Beberapa minggu yang lalu, aku agak memaksa diriku ke dapur dengan membawa secangkir kopi hangat di satu tangan dan koran pagi itu di tangan lainnya. Apa yang biasa saya lakukan di Sabtu pagi, berubah menjadi saat yang  tak terlupakan dalam hidup ini. Begini kisahnya.

Aku keraskan suara radioku untuk mendengarkan suatu acara  Bincang-bincang Sabtu Pagi. Aku dengar seseorang agak tua dengan suara emasnya. Ia sedang berbicara mengenai seribu kelereng kepada seseorang di telpon yang dipanggil “Tom”. Aku tergelitik dan duduk ingin mendengarkan apa  obrolannya.
“Dengar Tom, kedengarannya kau memang sibuk dengan pekerjamu. Aku yakin mereka menggajimu cukup banyak, tapi kan sangat sayang sekali kau harus meninggalkan rumah dan keluargamu terlalu sering. Sulit kupercaya kok  ada anak muda yang harus bekerja 60 atau 70 jam seminggunya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Untuk menonton pertunjukan tarian putrimu pun  kau tak sempat”.
Ia melanjutkan : “Biar kuceritakan ini, Tom, sesuatu yang membantuku mengatur dan menjaga prioritas apa yang yang harus kulakukan dalam hidupku”.
Lalu mulailah ia menerangkan teori “seribu kelereng” nya.” Begini Tom, suatu hari aku duduk-duduk dan mulai menghiitung-hitung. Kan umumnya orang rata-rata hidup 75 tahun. Ya aku tahu, ada yang lebih dan ada yang kurang, tapi secara rata-rata umumnya kan sekitar 75 tahun. Lalu, aku kalikan 75 ini dengan 52 dan mendapatkan angka 3900 yang merupakan jumlah semua hari Sabtu yang rata-rata dimiliki seseorang  selama hidupnya.  Sekarang perhatikan benar-benar Tom, aku mau beranjak ke hal  yang lebih penting”.
“Tahu tidak, setelah aku berumur 55 tahun baru terpikir olehku semua detail ini”, sambungnya, “dan pada saat itu aku kan sudah melewatkan 2800 hari Sabtu. Aku terbiasa memikirkan, andaikata aku bisa hidup sampai 75 tahun, maka buatku cuma tersisa sekitar 1000 hari Sabtu yang masih bisa kunikmati”.
“Lalu aku pergi ketoko mainan dan membeli tiap butir kelereng yang ada. Aku butuh mengunjungi tiga toko, baru bisa mendapatkan 1000 kelereng  itu. Kubawa pulang, kumasukkan dalam sebuah kotak plastik bening besar yang kuletakkan di tempat kerjaku, di samping radio. Setiap Sabtu sejak itu, aku selalu ambil sebutir kelereng dan membuangnya”.
“Aku alami, bahwa dengan mengawasi kelereng-kelereng itu menghilang, aku lebih memfokuskan diri pada hal-hal yang betul-betul penting dalam hidupku. Sungguh, tak ada yang lebih berharga daripada mengamati  waktumu di dunia ini menghilang dan berkurang, untuk menolongmu membenahi dan meluruskan segala prioritas hidupmu”.
“Sekarang aku ingin memberikan pesan terakhir sebelum kuputuskan teleponmu dan mengajak keluar istriku tersayang untuk sarapan pagi. Pagi ini, kelereng terakhirku telah kuambil, kukeluarkan dari kotaknya. Aku  berfikir, kalau aku sampai bertahan hingga Sabtu yang akan datang, maka Allah  telah meberi aku dengan sedikit waktu tambahan ekstra untuk kuhabiskan dengan orang-orang yang kusayangi”.
“Senang sekali bisa berbicara denganmu, Tom. Aku harap kau bisa melewatkan lebih banyak waktu dengan orang-orang yang kau kasihi, dan aku berharap suatu saat bisa berjumpa denganmu. Selamat pagi!”
Saat dia berhenti, begitu sunyi hening, jatuhnya satu jarumpun bisa terdengar ! Untuk sejenak, bahkan moderator acara itupun membisu. Mungkin  ia mau memberi para pendengarnya, kesempatan untuk memikirkan  segalanya. Sebenarnya aku sudah merencanakan mau bekerja pagi itu, tetapi aku  ganti acara, aku naik ke atas dan membangunkan istriku dengan sebuah kecupan.
“Ayo sayang, kuajak kau dan anak-anak ke luar, pergi sarapan”. “Lho, ada apa ini…?”, tanyanya tersenyum.  “Ah, tidak ada apa-apa, tidak ada yang spesial”, jawabku, “Kan sudah  cukup lama kita tidak melewatkan hari Sabtu dengan anak-anak ? Oh ya,  nanti kita berhenti juga di toko mainan ya? Aku butuh beli kelereng.”
Sumber: Unknown (Tidak Diketahui)
Dikutip dari Indonesian groups
Dari setiap satu kelereng yang telah terbuang, apakah yang telah anda dapatkan ?
Apakah ……..
kesedihan
keraguan
kebosanan
rasa marah
putus asa
hambatan
permusuhan
pesimis
kegagalan ?

ataukah …….
kebahagiaan
kepercayaan
antusias
cinta kasih
motivasi
peluang
persahabatan
optimis
kesuksesan ?

Waktu akan berlalu dengan cepat. Tidak banyak kelereng yang tersisa dalam kantong anda saat ini. Gunakan secara bijak untuk memberikan kebahagiaan yang lebih baik bagi anda sendiri, keluarga, dan lingkungan anda.
APAKAH ANDA BERPOTENSI MENJADI PEMIMPIN
Mari sejenak kita merenung sambil mencoba menjawab lima buah pertanyaan yang diajukan oleh Donald A. Laird, seorang psikolog, berikut ini;
1. Apakah Anda mampu menegur tanpa menimbulkan kemarahan?
2. Apakah Anda mampu menolak tanpa mengecilkan arti?
3. Apakah Anda mampu tertawa bersama bila kelucuan itu menyangkut
diri Anda sendiri?
4. Apakah Anda mampu memelihara semangat jika menghadapi suatu
kegagalan?
5. Apakah Anda mampu tenang jika harus menghadapi situasi darurat?

Pertanyaan di atas merupakan cara pengukuran yang sederhana untuk menilai apakah seseorang berpotensi untuk menjadi pemimpin. Apabila jawaban anda adalah “mampu” untuk semua pertanyaan di atas, maka anda mempunyai potensi untuk menjadi seorang pemimpin. Selamat!
GRATIS SEPANJANG MASA
Suatu sore, seorang anak menghampiri ibunya di dapur. Ia menyerahkan selembar kertas yang telah ditulisinya. Setelah sang ibu mengeringkan tangannya dengan celemek. Ia pun membaca tulisan itu dan inilah isinya:
Untuk memotong rumput Rp. 5000
Untuk membersihkan kamar tidur minggu ini Rp. 5000
Untuk pergi ke toko disuruh ibu Rp. 3000
Untuk menjaga adik waktu ibu belanja Rp. 5000
Untuk membuang sampah Rp. 1000
Untuk nilai yang bagus Rp. 3000
Untuk membersihkan dan menyapu halaman Rp. 3000
Jadi jumlah utang ibu adalah Rp. 25000

Sang ibu memandangi anaknya dengan penuh harap. Berbagai kenangan terlintas dalam benak sang ibu. Lalu ia mengambil pulpen, membalikkan kertasnya. Dan inilah yang ia tuliskan:

Untuk sembilan bulan ibu mengandung kamu, gratis
Untuk semua malam ibu menemani kamu, gratis
Untuk membawamu ke dokter dan mengobati saat kamu sakit, serta mendoakan kamu, gratis
Untuk semua saat susah dan air mata dalam mengurus kamu, gratis
Kalau dijumlahkan semua, harga cinta ibu adalah gratis
Untuk semua mainan, makanan, dan baju, gratis
Anakku… dan kalau kamu menjumlahkan semuanya,
Akan kau dapati bahwa harga cinta ibu adalah GRATIS
Seusai membaca apa yang ditulis ibunya, sang anak pun berlinang air mata dan menatap wajah ibunya, dan berkata: “Bu, aku sayang sekali sama ibu” ia kemudian mendekap ibunya. Sang ibu tersenyum sambil mencium rambut buah hatinya.”Ibupun sayang kamu nak” kata sang ibu.
Kemudian sang anak mengambil pulpen dan menulis sebuah kata dengan huruf-huruf besar sambil diperhatikan sang ibu: “LUNAS”
======
sahabat, seberapapun jasa yang tlah kita berikan kepada ibu, seberapapun uang yang kita dapatkan dan kita berikan kepada ibu, atau seberapapun liter keringat kerja yang kita kumpulkan untuk ibu, tidak akan dapat mengganti kasih sayang seorang ibu.Kasih ibu sepanjang masa. dapatkah kita menukar kasih sayang ibu itu dengan materi? menukar dengan bilangan angka?atau menukar dengan rangkaian kata terima kasih  sepanjang Salatiga – Roma? Tidak sahabat, sama sekali tidak bisa. Oleh karenanya sahabatqu, Berbuat baiklah kepadanya, sayangilah beliau, cintailah beliau, dan doakanlah beliau….
Sahabat, kita beruntung masih diberi kesempatan untuk mencium tangannya, mencium pipinya, memijit kakinya, membuatkan minuman untuknya dan menunjukkan sayang kita kepadanya.  semoga kita dapat terus melayani beliau, di dunia ini, maupun di surga nanti. amin…
Ingin membaca cerita-cerita penuh hikmah? kunjungi websitenya orang Salatiga. www.resensi.net
PERANGKAP MONYET

Sahabat, saya pernah membaca suatu hal yang menarik tentang perangkap. Suatu sistem yang unik, telah dipakai di hutan-hutan Afrika untuk menangkap monyet yang ada disana. Sistem itu memungkinkan untuk menangkap monyet dalam keadaan hidup, tak cedera, agar bisa dijadikan hewan percobaan atau binatang sirkus di Amerika.
Caranya sangat manusiawi (*umm…atau mungkin hewani kali ye..hehehe*). Sang pemburu monyet, akan menggunakan sebuah toples berleher panjang dan sempit, dan menanamnya di tanah. Toples kaca yang berat itu berisi kacang, ditambah dengan aroma yang kuat dari bahan-bahan yang disukai monyet-monyet Afrika. Mereka meletakkannya di sore hari, dan mengikat/menanam toples itu erat-erat ke dalam tanah. Keesokan harinya, mereka akan menemukan beberapa monyet yang terperangkap, dengan tangan yang terjulur, dalam setiap botol yang dijadikan jebakan.

Tentu, kita tahu mengapa ini terjadi. Monyet-monyet itu tak melepaskan tangannya sebelum mendapatkan kacang-kacang yang menjadi jebakan. Mereka tertarik pada aroma yang keluar dari setiap toples, lalu mengamati, menjulurkan tangan, dan terjebak. Monyet itu, tak akan dapat terlepas dari toples, sebelum ia melepaskan kacang yang di gengamnya. Selama ia tetap mempertahankan kacang-kacang itu, selama itu pula ia terjebak. Toples itu terlalu berat untuk diangkat, sebab tertanam di tanah. Monyet tak akan dapat pergi kemana-mana.
Sahabat, kita mungkin tertawa dengan tingkah monyet itu. Kita bisa jadi terbahak saat melihat kebodohan monyet yang terperangkap dalam toples. Tapi, mungkin, sesungguhnya, kita sedang menertawakan diri kita sendiri. Betapa sering, kita mengengam setiap permasalahan yang kita miliki, layaknya monyet yang mengenggam kacang. Kita sering mendendam, tak mudah memberikan maaf, tak mudah melepaskan maaf, memendam setiap amarah dalam dada, seakan tak mau melepaskan selamanya.
Seringkali, kita, yang bodoh ini, membawa “toples-toples” itu kemana pun kita pergi. Dengan beban yang berat, kita berusaha untuk terus berjalan. Tanpa sadar, kita sebenarnya sedang terperangkap dengan persoalan pribadi yang kita alami.
Sahabat, bukankah lebih mudah jika kita melepaskan setiap masalah yang lalu, dan menatap hari esok dengan lebih cerah? Bukankah lebih menyenangkan, untuk memberikan maaf bagi setiap orang yang pernah berbuat salah kepada kita? Karena, kita pun bisa jadi juga bisa berbuat kesalahan yang sama. Bukankah lebih terasa nyaman, saat kita membagikan setiap masalah kepada orang lain, kepada sahabat, agar di cari penyelesaiannya, daripada terus dipendam?
5 EKOR MONYET

Dalam suatu penelitian yang dilakukan oleh para profesor di USA, ada 2 ekor monyet yang dimasukkan ke dalam satu ruangan kosong secara bersama-2. Kita sebut saja monyet tersebut Monyet A dan B. Di dalam ruangan tersebut terdapat sebuah tiang, dan diatas tiang tersebut nampak beberapa pisang yang sudah matang. Apa yang akan dilakukan oleh 2 monyet tersebut menurut anda ?
Setelah membiasakan diri dengan keadaan lingkungan di dalam ruangan tersebut, mereka mulai mencoba meraih pisang-2 tersebut. Monyet A yang mula-2 mencoba mendaki tiang. Begitu monyet A berada di tengah tiang, sang profesor menyemprotkan air kepadanya, sehingga terpleset dan jatuh. Monyet A mencoba lagi, dan disemprot, jatuh lagi, demikian berkali-2 sampai akhirnya monyet A menyerah. Giliran berikutnya monyet B yang mencoba, mengalami kejadian serupa, dan akhirnya menyerah pula.

Berikutnya ke dalam ruangan dimasukkan monyet C. Yang menarik adalah, para profesor tidak akan lagi menyemprot para monyet jika mereka naik. Begitu si monyet C mulai menyentuh tiang, dia langsung ditarik oleh monyet A dan B. Mereka berusaha mencegah, agar monyet C tidak mengalami `kesialan’ seperti mereka. Karena dicegah terus dan diberi nasehat tentang bahayanya bila mencoba memanjat keatas, monyet C akhirnya takut juga dan tidak pernah memanjat lagi.

Langkah selanjutnya yang dilakukan oleh para profesor adalah mengeluarkan monyet A dan B, serta memasukkan monyet D dan E. Sama seperti monyet-2 sebelumnya, monyet D dan E juga tertarik dengan pisang diatas tiang dan mencoba memanjatnya. Monyet C secara spontan langsung mencegah keduanya agar tidak naik. “Hai, mengapa kami tidak boleh naik ?” protes keduanya”.
Ada teman-2 yang memberitahu saya, bahwa naik ke atas itu berbahaya. Saya juga tidak tahu, ada apa di atas, tapi lebih baik cari aman saja, jangan keatas deh” jelas monyet C.
Monyet D percaya dan tidak berani naik, tapi tidak demikian dengan monyet E yang memang bandel. “Saya ingin tahu, bahaya seperti apa sih, yang ada di atas … Dan kalau ada bahaya, masak iya saya tidak bisa menghindarinya ?” tegas monyet E. Walaupun sudah dicegah oleh monyet C dan D, monyet E nekad naik …
Dan karena memang sudah tidak disemprot lagi, monyet E bisa meraih pisang yang d iinginkannya…..
Artikel diadaptasi dari KL 348
Renungan
===================
Rekan Resensinet,
Manakah diantara karakter diatas yang menggambarkan tingkah laku anda saat ini ?

Karakter A dan B adalah orang yang pernah melakukan sesuatu, dan gagal. Karena itu mereka kapok, tidak akan mengulanginya lagi, dan berusaha mengajarkan ke orang lain tentang kegagalan tersebut. Mereka tidak ingin orang lain juga gagal seperti mereka. Karakter C dan D, adalah orang yang menerima petunjuk dari orang lain, hal-2 apa yang tidak boleh dilakukan, dan mereka mematuhinya tanpa berani mencobanya sendiri. Karakter E adalah type orang yang tidak mudah percaya dengan sesuatu, sebelum mereka mencobanya sendiri. Mereka juga berani menentang arus dan menanggung resiko asalkan bisa mencapai keinginan mereka.
Pisang dalam cerita diatas menggambarkan impian kita. Setiap orang dalam hidup ini mempunyai impian yang tinggi tentang masa depannya. Namun sayangnya, banyak sekali hal-hal yang terjadi di sekitar kita, yang menyebabkan impian kita terkubur. Orang-2 dengan karakter ABCD akan mengatakan kepada kita hal-2 seperti ini”,Sudahlah, jangan melakukan pekerjaan yang sia-2 seperti itu. Percuma. Saya dulu sudah pernah melakukannya berkali-2 dan gagal. Sebagai seorang teman yang baik, saya tidak mau kamu gagal seperti saya” atau mungkin kalimat “Kamu mau gagal kayak si X … lebih baik lakukan sesuatu yang pasti-pasti saja deh”. Bukankah hal-2 seperti itu yang sering kita dengar sehari-2 ?
Orang dengan karakter E akan selalu berpikir optimis dalam menjalankan sesuatu. “Kalaupun orang lain gagal melakukan sesuatu, belum tentu saya juga akan gagal” adalah kekuatan yang selalu memompa motivasinya.
Dan kegagalan orang lain dapat dipelajari dan dijadikan batu loncatan untuk melangkah lebih baik, bukannya dijadikan suatu ketakutan.
Nah, saya akan memberikan satu ilustrasi lagi. Saya akan membawa anda ke tahun 70-an. Apa yang akan anda lakukan, bila suatu hari ada seorang mahasiswa bercelana jeans, kacamata tebal, bertampang culun, bajunya lusuh, datang menemui anda dan berkata “Saya punya suatu produk yang bagus, tapi saya tidak punya modal. Mau gak pinjamin saya modal 100 dollar ? Kalau produk ini sukses, kita berdua bakal jadi orang paling kaya di dunia lho”.
Hampir semua akan menghina dan mentertawakan mahasiswa tsb, bahkan mungkin menganggapnya gila.
Berapa orang yang akan menjawab “Wow, bagus sekali, coba jelaskan apa rencana anda, agar kita bisa sama-2 kaya ?” Mungkin satu orang diantara sejuta, mungkin juga tidak ada.
Bagaimana kalau saya katakan bahwa mahasiswa tersebut adalah Bill Gates, yang kini sudah mencapai impiannya menjadi orang terkaya di dunia ?
Bukankah itu dulu yang dilakukan Bill Gates pada awal karirnya . Dikelilingi orang type ABCD, ditolak, dilecehkan, dan berbagai macam hinaan lainnya. Untungnya, Bill Gates termasuk orang dengan karakter E. Dan dengan pengorbanan dan kerja keras, dia berhasil meraih impiannya.
Rekan-2 Resensinet Resensinet, saya yakin anda semua adalah orang type E. Setidaknya karena anda mau bergabung disini untuk belajar bersama, berbagi bersama, dan maju serta sukses bersama. Jangan biarkan orang lain membunuh impian anda. Maju terus, hadapi semua rintangan dan raih impian anda.
JANGAN PERNAH KEHILANGAN HARAPAN



KRISIS ekonomi berkepanjangan yang diikuti dengan kegagalan sejumlah aspek dari gerakan reformasi tampaknya mulai membuahkan pesimisme rakyat Indonesia akan masa depan bangsa. Orang menjadi kehilangan harapan, bahkan khawatir mengenai eksistensi Indonesia sebagai sebuah negara bangsa.
Deretan pertanyaan bisa terus bertambah dan rasa lelah itu akan semakin menjadi jika yang terbentang di depan mata hanyalah sisi gelap bangsa. Di saat itulah keputusasaan akan muncul, yang berarti berakhirlah sudah makna kita sebagai bangsa.
Mungkin ada baiknya kita mulai menengok ke sekeliling, mencoba mencari sinar pelita seredup apa pun. Banyak orang tak menyadari kehadiran pelita-pelita kecil itu karena yang didambakan adalah sinar terang gemerlap yang tak kunjung menyala.
DI sekeliling kita sebetulnya masih banyak individu-individu yang diam-diam berbuat sesuatu, menelurkan karyanya tanpa harapan pujian atau imbalan. Boleh jadi nama mereka hanya dikenal di komunitas kecilnya. Tak ada lomba atau kompetisi yang mempertarungkan kemampuan mereka.
Kita tengok Trisno Suwito, pria berusia 60 tahun, warga Dusun Plarung, Desa Sawahan, Kecamatan Ponjong, Gunung Kidul, DI Yogyakarta, yang begitu telaten mengumpulkan berbagai umbi langka untuk dikembangbiakkan. Umbi-umbian-yang pada tahun 1960-an menjadi penolong rakyat saat musibah kekeringan dan kelaparan datang-kini memang mulai dilupakan orang, bersamaan dengan diperkenalkannya penanaman padi.
“Padahal, bapak saya bilang, ‘Kalau kamu tetap menanam umbi, ketika ada kelaparan lagi, kamu tidak akan mati’,” kata Trisno, anak Noyo Semito, petani miskin di dusun itu. Menjelang akhir hayatnya tahun 2000, Noyo memintanya untuk menyelamatkan umbi-umbian langka dan menanamnya kembali di ladang.
Untuk mendapatkan umbi- kini Trisno dapat mengumpulkan sekitar 150 jenis umbi-setiap hari ia harus meniti bukit cadas tajam di sekitar desanya. Kadang kala ia temukan bibit di sela batu cadas, tinggal sebatang dan hampir mati.
Koleksi Trisno saat ini antara lain adalah gembili jempina (Dioscorea sp), gembili wulung/ungu (Dioscorea sp), umbi senggani ulo yang bentuknya mirip ular melingkar, umbi legi, compleng (Amorphopallus sp), coklok, katak (Dioscorea pentafolia), dan beberapa jenis ganyong (Kanna edulif).
Tentang koleksinya itu, Trisno yang tidak tamat pendidikan sekolah dasar (SD) hafal betul cirinya masing-masing, mulai dari bentuk daun, batang, duri, sampai bagaimana cara mengolahnya-terutama untuk umbi beracun-agar aman dikonsumsi. Bagi Trisno, mengumpulkan umbi-umbian seperti mengumpulkan harta karun.
“Untuk generasi sekarang dan yang akan datang,” kata Trisno yang sangat senang jika ada mahasiswa, kandidat doktor, atau peneliti datang bertanya atau bahkan meneliti koleksinya. “Saya merasa usaha keras saya dihargai,” ungkapnya.
SERUPA dengan Trisno, Hadi Jatmiko juga bisa dibilang pelestari alam kecil-kecilan. Kakek berusia 72 tahun ini gemar menanam bibit jati di tanah kosong yang berjarak 500 meter dari rumahnya. Warga Dusun Jetis Kaliurang, Desa Sumber Agung, Kecamatan Moyudan, Kabupaten Sleman, ini sampai rela menjual kolam lele dan hasilnya habis dibelikan bibit jati. Ia pun rela “didiamkan” sang istri, yang menganggapnya sudah gila.
Tak kurang dari 4.000 bibit jati yang dibeli di Ngawi ditanam di tanah kosong tak produktif seluas 4.000 meter persegi. Padahal, untuk memperoleh tanah itu, ia harus membeli dengan pinjaman bank sebesar Rp 6 juta. Jaminannya hanya surat keterangan pensiunan pegawai negeri golongan II B.
Filosofi Hadi sederhana. Menanam jati sama saja belajar tentang kesejatian hidup karena hasilnya tak akan bisa dinikmati si penanam melainkan keturunannya. “Kalau tanah dibiarkan penuh semak belukar, sampai 20 tahun pun tetap jadi semak. Tetapi, kalau ditanami jati, 20 tahun lagi akan bernilai tinggi,” katanya.
Apa yang dirintis Hadi ternyata menular pada tetangganya. Mereka pun kini rajin menanam lahan kosong tak produktif dengan pokok jati sehingga di dusunnya terbentuk Kelompok Tani Jati Lestari. Dalam waktu empat tahun, kelompok ini beranggotakan 20 orang dan telah menanam 49.000 batang jati. Hadi pun kini makin kerap diminta menanam jadi di wilayah lain di Jawa Tengah, Jawa Timur, bahkan sampai Sumatera Utara. Total tanah yang ditanami jati olehnya sampai 50 hektar.
SEMENTARA itu, di Karimunjawa, Jawa Tengah, nama Ismarjoko Budi Santoso (38) dikenal sebagai orang bersungguh-sungguh yang melestarikan penyu. Untuk urusan penyu yang sangat dilindungi ini sekurangnya telah ada tiga peraturan hukum yang memayunginya. Undang-Undang (UU) Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam mengancam penangkap penyu dengan hukuman lima tahun penjara dan denda Rp 100 juta. UU ini lantas diterjemahkan dalam Peraturan Pemerintah (PP) No 7/1999 tentang Penyu Hijau sebagai Satwa Dilindungi dan Surat Keputusan Menteri Kehutan No 882 /Kpts/II/92 yang mengatur perlindungan penyu pipih dan penyu sisik.
Namun, aturan hukum hanyalah urusan hitam di atas putih. Yang terjadi di lapangan sendiri adalah persoalan hukum pasar. Daging dan telur penyu dicari orang untuk dikonsumsi, begitu juga karapas alias batok yang biasa dipakai sebagai suvenir. Hati Ismarjoko-yang sehari- hari berprofesi sebagai nelayan sekaligus pengumpul ikan- pun belakangan tergerak. Di satu sisi, ia ingin menyelamatkan penyu dari kepunahan, tetapi di sisi lain ia berniat membantu sesama nelayan. Dengan modal pas-pasan, ia pun membangun bak pembesaran tukik (anak penyu) berukuran 1,5 meter x 1 meter yang diisi air laut.
Supaya para nelayan bersedia melepas telur penyu yang dimiliki, Ismarjoko membelinya dengan harga dua kali lipat dari harga pasar. Meski tidak mudah menetaskannya di alam bebas- “Pernah tahun 2000 saya membeli 260 telur, sebanyak 124 butir di antaranya gagal menetas,” ujarnya pasrah-Ismarjoko tak patah semangat. Padahal, ia juga tahu, daya hidup tukik sangat rendah. Dari 1.000 tukik, paling hanya satu atau dua ekor yang bisa terus menjadi dewasa, suatu perjalanan yang membutuhkan waktu sampai 30 tahunan.
Tukik yang berusia 6-12 bulan itu kemudian harus dilepaskan ke laut. Sejak tahun 2000, tak kurang dari 700 tukik dikembalikan Ismarjoko ke habitatnya kendati ia menargetkan bisa meningkat sampai 300-500 anak penyu setiap tahunnya. “Pelepasan penyu seharusnya bisa menarik wisatawan karena artinya kita ikut terlibat dalam pelestarian penyu,” ujarnya menambahkan.
BETAPA besar pengabdian pelita-pelita kecil pada umat manusia bisa dilihat dari kesederhanaan dan sikap tanpa pamrih mereka. Tangan menghadap ke bawah, bukan menengadah ke atas. Artinya, menyumbangkan kemampuan diri lebih penting daripada meminta-minta bantuan orang.
Hermawati (48), misalnya, selama sepuluh tahun terakhir mendirikan sekolah, SD Tunas Nelayan, sekaligus menjadi guru bagi murid-muridnya tanpa bayaran sepeser pun. Di sebuah pulau kecil berukuran empat kilometer persegi, Pulau Burung-terletak 10 menit perjalanan dengan speedboat dari Batulicin, Kabupaten Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan- ia membangun “kandang sekolah” berukuran 3 meter x 6 meter. Dengan dinding papan, atap rumbia berlubang-lubang, dan lantai tanah yang setiap saat siap ambruk, sekolah yang dipimpin Hermawati ini lebih mirip kandang ternak daripada kelas belajar.
Ruangan itu disekat menjadi tiga kelas kecil yang menampung murid dari kelas 1 hingga kelas 5 sebanyak 35 orang. Tak heran jika jam belajar pun digilir masing-masing satu jam. Maklum, gurunya hanya satu, Hermawati sendiri.
“Saya sebenarnya bukan guru, saya hanya sekolah sampai sekolah rakyat. Setelah membangun sekolah ini, saya memang sempat ikut Kejar Paket B,” ujar Hermawati. Adapun yang mendorongnya membangun sekolah tak lain karena kasihan melihat nasib anak- anak nelayan yang tidak bisa membaca dan menulis. “Zaman sudah maju, tetapi kami semakin terbelakang,” katanya.
Sementara tak mungkin untuk menarik uang SPP apalagi uang “gedung”, Hermawati pun kelabakan membantu belajar anak-anaknya dalam soal buku pelajaran. Suatu kali ia pernah mengajukan proposal ke berbagai kantor pemerintah agar mereka dibantu dengan buku- buku pelajaran, tetapi tak sedikit pun tanggapan datang. Yang lebih memusingkan, murid-muridnya yang hendak melanjutkan ke kelas 6 SD ternyata mengalami kesulitan untuk pindah sekolah karena kualitasnya dianggap tak memadai. Kenyataan ini sungguh menyakitkan anak-anak Pulau Burung. Mereka hanya bisa melanjutkan pelajaran di sekolah madrasah.
MIRIP dengan kisah Hermawati, apa yang dilakukan Ibe Karyanto (41) di pinggiran Kali Malang, Jakarta Timur, secara total hanya diperuntukkan bagi anak-anak jalanan. Begitu totalnya hingga nyaris tak ada harta benda pribadi yang layak untuk dirinya sendiri. Ibe tinggal bersama sekitar 80 anak jalanan selama 24 jam. Ruang pribadinya hanya kamar di barak berdinding kayu bekas. Ranjangnya dilapisi selembar kasur tipis. Harta “termewah” hanya kendaraan jip Toyota Hardtop butut keluaran tahun 1974.
Bersama dengan Sanggar Akar, ia menggerakkan dukungan banyak orang-termasuk pemusik, pematung, pembuat film, guru, dan mahasiswa-untuk kelangsungan hidup anak-anak termarjinalkan ini. Mereka membantu Ibe untuk mengajar musik, teater, menyablon, membuat patung, dan lain-lain. Sehari-hari Ibe mendampingi anak-anak itu hingga pukul 03.00 tanpa hari libur.
Sejak awal Ibe memang menggunakan pendekatan kesenian untuk mendidik anak- anak jalanan itu. Hasilnya lumayan, generasi pertama mereka kini sudah bisa menjadi andalan aktivitas sanggar. Bahkan, ada tujuh anak didik Ibe yang melanjutkan studi ke perguruan tinggi dan mengambil bidang seni rupa, musik, desain, serta bahasa Inggris.
Dari orang-orang semacam Ibe, Hermawati, Hadi, Trisno, atau Ismarjoko sebenarnya Indonesia bisa berharap masih ada masa depan yang cerah di depan kita. Jangan pernah kita kehilangan harapan itu. (j10/aik/bsw/wis/amr/fit)
Sumber: Kompas – Kamis, 30 Desember 2004
ANAK CACAT PERANG VIETNAM

KRISIS ekonomi berkepanjangan yang diikuti dengan kegagalan sejumlah aspek dari gerakan reformasi tampaknya mulai membuahkan pesimisme rakyat Indonesia akan masa depan bangsa. Orang menjadi kehilangan harapan, bahkan khawatir mengenai eksistensi Indonesia sebagai sebuah negara bangsa.
Deretan pertanyaan bisa terus bertambah dan rasa lelah itu akan semakin menjadi jika yang terbentang di depan mata hanyalah sisi gelap bangsa. Di saat itulah keputusasaan akan muncul, yang berarti berakhirlah sudah makna kita sebagai bangsa.
Mungkin ada baiknya kita mulai menengok ke sekeliling, mencoba mencari sinar pelita seredup apa pun. Banyak orang tak menyadari kehadiran pelita-pelita kecil itu karena yang didambakan adalah sinar terang gemerlap yang tak kunjung menyala.
DI sekeliling kita sebetulnya masih banyak individu-individu yang diam-diam berbuat sesuatu, menelurkan karyanya tanpa harapan pujian atau imbalan. Boleh jadi nama mereka hanya dikenal di komunitas kecilnya. Tak ada lomba atau kompetisi yang mempertarungkan kemampuan mereka.
Kita tengok Trisno Suwito, pria berusia 60 tahun, warga Dusun Plarung, Desa Sawahan, Kecamatan Ponjong, Gunung Kidul, DI Yogyakarta, yang begitu telaten mengumpulkan berbagai umbi langka untuk dikembangbiakkan. Umbi-umbian-yang pada tahun 1960-an menjadi penolong rakyat saat musibah kekeringan dan kelaparan datang-kini memang mulai dilupakan orang, bersamaan dengan diperkenalkannya penanaman padi.
“Padahal, bapak saya bilang, ‘Kalau kamu tetap menanam umbi, ketika ada kelaparan lagi, kamu tidak akan mati’,” kata Trisno, anak Noyo Semito, petani miskin di dusun itu. Menjelang akhir hayatnya tahun 2000, Noyo memintanya untuk menyelamatkan umbi-umbian langka dan menanamnya kembali di ladang.
Untuk mendapatkan umbi- kini Trisno dapat mengumpulkan sekitar 150 jenis umbi-setiap hari ia harus meniti bukit cadas tajam di sekitar desanya. Kadang kala ia temukan bibit di sela batu cadas, tinggal sebatang dan hampir mati.
Koleksi Trisno saat ini antara lain adalah gembili jempina (Dioscorea sp), gembili wulung/ungu (Dioscorea sp), umbi senggani ulo yang bentuknya mirip ular melingkar, umbi legi, compleng (Amorphopallus sp), coklok, katak (Dioscorea pentafolia), dan beberapa jenis ganyong (Kanna edulif).
Tentang koleksinya itu, Trisno yang tidak tamat pendidikan sekolah dasar (SD) hafal betul cirinya masing-masing, mulai dari bentuk daun, batang, duri, sampai bagaimana cara mengolahnya-terutama untuk umbi beracun-agar aman dikonsumsi. Bagi Trisno, mengumpulkan umbi-umbian seperti mengumpulkan harta karun.
“Untuk generasi sekarang dan yang akan datang,” kata Trisno yang sangat senang jika ada mahasiswa, kandidat doktor, atau peneliti datang bertanya atau bahkan meneliti koleksinya. “Saya merasa usaha keras saya dihargai,” ungkapnya.
SERUPA dengan Trisno, Hadi Jatmiko juga bisa dibilang pelestari alam kecil-kecilan. Kakek berusia 72 tahun ini gemar menanam bibit jati di tanah kosong yang berjarak 500 meter dari rumahnya. Warga Dusun Jetis Kaliurang, Desa Sumber Agung, Kecamatan Moyudan, Kabupaten Sleman, ini sampai rela menjual kolam lele dan hasilnya habis dibelikan bibit jati. Ia pun rela “didiamkan” sang istri, yang menganggapnya sudah gila.
Tak kurang dari 4.000 bibit jati yang dibeli di Ngawi ditanam di tanah kosong tak produktif seluas 4.000 meter persegi. Padahal, untuk memperoleh tanah itu, ia harus membeli dengan pinjaman bank sebesar Rp 6 juta. Jaminannya hanya surat keterangan pensiunan pegawai negeri golongan II B.
Filosofi Hadi sederhana. Menanam jati sama saja belajar tentang kesejatian hidup karena hasilnya tak akan bisa dinikmati si penanam melainkan keturunannya. “Kalau tanah dibiarkan penuh semak belukar, sampai 20 tahun pun tetap jadi semak. Tetapi, kalau ditanami jati, 20 tahun lagi akan bernilai tinggi,” katanya.
Apa yang dirintis Hadi ternyata menular pada tetangganya. Mereka pun kini rajin menanam lahan kosong tak produktif dengan pokok jati sehingga di dusunnya terbentuk Kelompok Tani Jati Lestari. Dalam waktu empat tahun, kelompok ini beranggotakan 20 orang dan telah menanam 49.000 batang jati. Hadi pun kini makin kerap diminta menanam jadi di wilayah lain di Jawa Tengah, Jawa Timur, bahkan sampai Sumatera Utara. Total tanah yang ditanami jati olehnya sampai 50 hektar.
SEMENTARA itu, di Karimunjawa, Jawa Tengah, nama Ismarjoko Budi Santoso (38) dikenal sebagai orang bersungguh-sungguh yang melestarikan penyu. Untuk urusan penyu yang sangat dilindungi ini sekurangnya telah ada tiga peraturan hukum yang memayunginya. Undang-Undang (UU) Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam mengancam penangkap penyu dengan hukuman lima tahun penjara dan denda Rp 100 juta. UU ini lantas diterjemahkan dalam Peraturan Pemerintah (PP) No 7/1999 tentang Penyu Hijau sebagai Satwa Dilindungi dan Surat Keputusan Menteri Kehutan No 882 /Kpts/II/92 yang mengatur perlindungan penyu pipih dan penyu sisik.
Namun, aturan hukum hanyalah urusan hitam di atas putih. Yang terjadi di lapangan sendiri adalah persoalan hukum pasar. Daging dan telur penyu dicari orang untuk dikonsumsi, begitu juga karapas alias batok yang biasa dipakai sebagai suvenir. Hati Ismarjoko-yang sehari- hari berprofesi sebagai nelayan sekaligus pengumpul ikan- pun belakangan tergerak. Di satu sisi, ia ingin menyelamatkan penyu dari kepunahan, tetapi di sisi lain ia berniat membantu sesama nelayan. Dengan modal pas-pasan, ia pun membangun bak pembesaran tukik (anak penyu) berukuran 1,5 meter x 1 meter yang diisi air laut.
Supaya para nelayan bersedia melepas telur penyu yang dimiliki, Ismarjoko membelinya dengan harga dua kali lipat dari harga pasar. Meski tidak mudah menetaskannya di alam bebas- “Pernah tahun 2000 saya membeli 260 telur, sebanyak 124 butir di antaranya gagal menetas,” ujarnya pasrah-Ismarjoko tak patah semangat. Padahal, ia juga tahu, daya hidup tukik sangat rendah. Dari 1.000 tukik, paling hanya satu atau dua ekor yang bisa terus menjadi dewasa, suatu perjalanan yang membutuhkan waktu sampai 30 tahunan.
Tukik yang berusia 6-12 bulan itu kemudian harus dilepaskan ke laut. Sejak tahun 2000, tak kurang dari 700 tukik dikembalikan Ismarjoko ke habitatnya kendati ia menargetkan bisa meningkat sampai 300-500 anak penyu setiap tahunnya. “Pelepasan penyu seharusnya bisa menarik wisatawan karena artinya kita ikut terlibat dalam pelestarian penyu,” ujarnya menambahkan.
BETAPA besar pengabdian pelita-pelita kecil pada umat manusia bisa dilihat dari kesederhanaan dan sikap tanpa pamrih mereka. Tangan menghadap ke bawah, bukan menengadah ke atas. Artinya, menyumbangkan kemampuan diri lebih penting daripada meminta-minta bantuan orang.
Hermawati (48), misalnya, selama sepuluh tahun terakhir mendirikan sekolah, SD Tunas Nelayan, sekaligus menjadi guru bagi murid-muridnya tanpa bayaran sepeser pun. Di sebuah pulau kecil berukuran empat kilometer persegi, Pulau Burung-terletak 10 menit perjalanan dengan speedboat dari Batulicin, Kabupaten Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan- ia membangun “kandang sekolah” berukuran 3 meter x 6 meter. Dengan dinding papan, atap rumbia berlubang-lubang, dan lantai tanah yang setiap saat siap ambruk, sekolah yang dipimpin Hermawati ini lebih mirip kandang ternak daripada kelas belajar.
Ruangan itu disekat menjadi tiga kelas kecil yang menampung murid dari kelas 1 hingga kelas 5 sebanyak 35 orang. Tak heran jika jam belajar pun digilir masing-masing satu jam. Maklum, gurunya hanya satu, Hermawati sendiri.
“Saya sebenarnya bukan guru, saya hanya sekolah sampai sekolah rakyat. Setelah membangun sekolah ini, saya memang sempat ikut Kejar Paket B,” ujar Hermawati. Adapun yang mendorongnya membangun sekolah tak lain karena kasihan melihat nasib anak- anak nelayan yang tidak bisa membaca dan menulis. “Zaman sudah maju, tetapi kami semakin terbelakang,” katanya.
Sementara tak mungkin untuk menarik uang SPP apalagi uang “gedung”, Hermawati pun kelabakan membantu belajar anak-anaknya dalam soal buku pelajaran. Suatu kali ia pernah mengajukan proposal ke berbagai kantor pemerintah agar mereka dibantu dengan buku- buku pelajaran, tetapi tak sedikit pun tanggapan datang. Yang lebih memusingkan, murid-muridnya yang hendak melanjutkan ke kelas 6 SD ternyata mengalami kesulitan untuk pindah sekolah karena kualitasnya dianggap tak memadai. Kenyataan ini sungguh menyakitkan anak-anak Pulau Burung. Mereka hanya bisa melanjutkan pelajaran di sekolah madrasah.
MIRIP dengan kisah Hermawati, apa yang dilakukan Ibe Karyanto (41) di pinggiran Kali Malang, Jakarta Timur, secara total hanya diperuntukkan bagi anak-anak jalanan. Begitu totalnya hingga nyaris tak ada harta benda pribadi yang layak untuk dirinya sendiri. Ibe tinggal bersama sekitar 80 anak jalanan selama 24 jam. Ruang pribadinya hanya kamar di barak berdinding kayu bekas. Ranjangnya dilapisi selembar kasur tipis. Harta “termewah” hanya kendaraan jip Toyota Hardtop butut keluaran tahun 1974.
Bersama dengan Sanggar Akar, ia menggerakkan dukungan banyak orang-termasuk pemusik, pematung, pembuat film, guru, dan mahasiswa-untuk kelangsungan hidup anak-anak termarjinalkan ini. Mereka membantu Ibe untuk mengajar musik, teater, menyablon, membuat patung, dan lain-lain. Sehari-hari Ibe mendampingi anak-anak itu hingga pukul 03.00 tanpa hari libur.
Sejak awal Ibe memang menggunakan pendekatan kesenian untuk mendidik anak- anak jalanan itu. Hasilnya lumayan, generasi pertama mereka kini sudah bisa menjadi andalan aktivitas sanggar. Bahkan, ada tujuh anak didik Ibe yang melanjutkan studi ke perguruan tinggi dan mengambil bidang seni rupa, musik, desain, serta bahasa Inggris.
Dari orang-orang semacam Ibe, Hermawati, Hadi, Trisno, atau Ismarjoko sebenarnya Indonesia bisa berharap masih ada masa depan yang cerah di depan kita. Jangan pernah kita kehilangan harapan itu. (j10/aik/bsw/wis/amr/fit)
Sumber: Kompas – Kamis, 30 Desember 2004
SUARA SEORANG KAKEK
ebagian besar orang memperoleh inspirasi dalam hidup mereka. Mungkin dari percakapan dengan seseorang yang kau hormati atau sebuah pengalaman. Apa pun bentuknya, inspirasi cenderung membuatmu memandang kehidupan dari sudut pandang yang baru. Inspirasiku berasal dari adikku Vicki, seseorang yang baik hati dan penuh perhatian. Ia tidak peduli akan penghargaan atau masuk dalam surat kabar. Yang diinginkannya hanyalah berbagi cinta dengan orang yang dikasihinya, keluarga dan teman-temannya.
Pada musim panas sebelum aku mulai kuliah tingkat tiga, aku menerima telepon dari ayahku yang memberitakan bahwa Vicki masuk rumah sakit. Ia pingsan dan bagian kanan tubuhnya lumpuh. Indikasi awal adalah ia menderita stroke. Namun, hasil tes memastikan bahwa penyakitnya lebih serius. Ada sebuah tumor otak ganas yang menyebabkannya lumpuh. Dokter hanya memberinya waktu kurang dari tiga bulan. Aku ingat aku bertanya-tanya, bagaimana mungkin ini terjadi? Sehari sebelumnya Vicki baik-baik saja.
Sekarang, hidupnya akan berakhir pada usia begitu muda. Setelah mengatasi rasa kaget dan perasaan hampa pada awalnya, aku memutuskan bahwa Vicki membutuhkan harapan dan semangat.
Ia memerlukan seseorang yang membuatnya percaya bahwa ia dapat mengatasi rintangan ini. Aku menjadi pelatih Vicki. Setiap hari kami membayangkan bahwa tumornya menyusut dan semua yang kami bicarakan bersifat positif. Aku bahkan memasang poster di pintu kamar rumah sakitnya yang bertulisan, “Kalau kau memiliki pikiran negatif, tinggalkan pikiran itu di pintu.”
Aku sudah berbulat hati untuk membantu Vicki mengalahkan tumor itu. Kami berdua membuat perjanjian yang disebut 50-50. Aku berjuang 50% dan Vicki akan memperjuangkan 50% sisanya.
Bulan Agustus tiba dan kuliah tingkat tiga akan dimulai di universitas yang jaraknya 3000 mil dari rumah. Aku bingung, apakah aku harus pergi atau tetap menemani Vicki. Aku salah bicara, menyebutkan bahwa aku mungkin tak akan pergi kuliah. Ia menjadi marah dan menyuruhku untuk tidak khawatir karena dia akan baik-baik saja. Jadi, malah Vicki, yang berbaring sakit di tempat
tidur di rumah sakit, yang menyuruhku agar jangan khawatir. Aku sadar bahwa kalau aku tetap bersamanya, aku
mungkin akan menyiratkan bahwa dia sedang sekarat dan aku tak mau ia berpikir begitu.
Vicki harus yakin bahwa ia dapat menang melawan tumor itu.
Kepergianku malam itu, merasakan bahwa ini mungkin terakhir kalinya aku melihat Vicki dalam keadaan hidup, adalah hal yang tersulit yang pernah kulakukan. Selama kuliah, aku tak pernah berhenti memperjuangkan 50% bagianku untuknya. Setiap malam sebelum tidur, aku berbicara dengan Vicki, berharap ia dapat mendengarku. Aku berkata, “Vicki, aku sedang berjuang untukmu dan aku tak akan menyerah. Asalkan kau tak pernah berhenti berjuang, kita dapat mengalahkan tumor ini.”
Beberapa bulan berlalu dan dia masih bertahan. Aku sedang berbicara dengan seorang teman yang lebih tua dan ia menanyakan keadaan Vicki. Aku bercerita bahwa kondisinya makin buruk, tapi dia tak menyerah.
Temanku melontarkan suatu pertanyaan yang benar-benar membuatku berpikir. Katanya, “Menurutmu, apakah dia bertahan itu karena dia tak mau mengecewakanmu?” Mungkin perkataannya benar? Mungkin aku egois, menyemangati Vicki untuk terus berjuang? Malam itu sebelum tidur, aku berkata padanya, “Vicki, aku mengerti kau sangat menderita dan mungkin kau ingin menyerah. Kalau memang begitu, aku mendukungmu. Kita tidak akan kalah karena kau tak pernah berhenti berjuang. Kalau kau ingin pergi ke tempat yang lebih baik, aku mengerti. Kita pasti bersama lagi. Aku menyayangimu dan aku akan terus bersamamu di mana pun kau berada.”
Keesokan paginya, ibuku menelepon, memberi tahu bahwa Vicki telah meninggal.
Sumber: Chicken Soup for the Teenage Soul, by James Malinchak
SUSUNAN KEHIDUPAN

Suatu sore, Zahra sedang duduk bersama ayahnya di ruang keluarga. Keduanya sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Zahra, gadis kecil berumur 5 tahun itu sedang bermain dengan buku gambarnya. Sedang sang ayah, tampak tekun membaca majalah.

Sesaat kemudian, Zahra mendekati ayahnya. Ia lalu bertanya, “Ayah, ini gambar apa? Belum selesai ayahnya menjawab, Zahra kembali bertanya, “Kok, hewan ini ada buntutnya? Sang Ayah, dengan sabar menjelaskan semuanya. Disisihkannya majalah di tangannya dan dipeluknya Zahra.
Beberapa lama berselang, Ayah lalu berkata, “Baik, kalau sudah selesai, ayo teruskan saja sendiri ya, sayang. Ayah sibuk. Zahra pun kembali ke tempatnya semula.
Namun, belum lima menit usai, Zahra kembali datang dan bertanya banyak hal. Dia mengoceh tentang hewan, hingga hal-hal yang diluar khayalan. Ayah pun mulai tampak segan dengan semua pertanyaan itu. Sebab, ia ingin sekali menyelesaikan bacaannya. “Ah, kalau saja aku bisa menyibukkan anak ini dengan pekerjaan lain, ” gumam Ayah,” tentu, ia tak akan membuatku repot. Begitu pikirnya dalam hati.
Aha, Ayah pun menemukan ide. Diambilnya gambar rumah dari sebuah majalah lama. Dan diguntingnya gambar itu menjadi beberapa bagian. Ia ingin membuat puzzle!. Tentu, anak umur 5 tahun, akan sulit sekali menyusun puzzle yang bergambar rumah. Ia lalu berkata pada Zahra yang sejak tadi memperhatikannya.
” Zahra, sekarang Ayah punya permainan. Ayo, coba susun kembali kertas ini jadi gambar rumah. Nanti, kalau sudah selesai, baru kamu boleh kembali ke sini. (–Hmm..tenanglah aku sekarang. Aku akan bisa menyelesaikan bacaanku, dan ia pasti akan sibuk sekali dengan pekerjaan ini, begitu gumam ayah.–)
Tiba-tiba. “Aku sudah selesai!” Belum 5 menit berlalu, kini, Zahra sudah kembali dengan susunan gambar rumah itu. Ayah pun bingung, bagaimana bisa ia menyelesaikan tugas yang sulit itu? Ayah lalu bertanya, “Bagaimana caranya kamu menyusun gambar rumah ini? Pasti kamu minta tolong Bunda deh.”
Mata bulat gadis itu berbinar, “Nggak kok. Aku membuatnya sendiri. Sebab, dibalik gambar ini, ada gambar boneka kesukaanku. Jadi, aku menyusun gambar itu saja. Ini, gambar bonekaku, aku senang sekali dengannya.
Sang Ayah pun terdiam. Ia kalah, dan harus siap kembali menerima semua ocehan gadis kecilnya ini.
***
Sahabat, seringkali, kita menganggap anak-anak dengan naif. Kita kerap meremehkan pola pikir yang mereka miliki. Kita, yang sok dewasa, sering berpendapat, anak kecil, bukanlah guru yang terbaik buat kehidupan. Mereka semua hanyalah penganggu, dan sesuatu yang selalu mengusik setiap ketenangan.

Namun sayang, kita kerap salah. Dan Zahra, bisa jadi membuktikannya. Kita, seringkali menganggap dunia ini sebagai sesuatu yang sulit. Dunia, dalam pikiran kita, adalah potongan gambar-gambar yang tak runut. Potongan-potongan itu pulalah yang kita susun dengan perasaan takut. Dunia, bagi kita, adalah tempat segala masalah bersatu. Dan kita merangkainya dengan hati penuh pilu.
Dengan kata lain, dunia, bagi kita, adalah layaknya benang kusut, yang penuh dengan keruwetan, ketakteraturan, dan kesumpekan. Dunia, bagi kita yang mengaku dewasa, adalah amarah, angkara, dengki, dan dendam, iri dan maki serta tangis dan nestapa.
Padahal, kalau kita mau menjenguk sisi lain dunia, ada banyak keindahan yang hadir disana. Ada banyak kenyamanan dan kesenangan yang mampu diwujudkannya. Ya, asalkan kita mau menjenguknya, melihat dengan lebih tekun dan jeli. Mencermati setiap bagian dari dunia yang kita sukai.
Jalin-jemalin kenyamanan yang dapat dirangkai dalam dunia, adalah sesuatu yang indah. Disana akan kita temukan kesejukan, ketenangan, kesunyian, keteraturan, keterpaduan dan segalanya, asalkan kita mau menjenguknya.
Jadi, mana potongan gambar dunia mana yang akan Anda susun? Dunia yang penuh angkara, atau dunia yang penuh cinta? Dunia yang penuh duri, atau dunia yang penuh peduli? Anda sendirilah yang akan menyusun potongan-potongan gambar itu. Susunan yang Anda pilih, akan membentuk kehidupan Anda.
Selamat menyusun potongan hidup Anda!!
By Irfan
HIDUP UNTUK MEMBERI

Disuatu sore hari pada saat aku pulang kantor dengan mengendarai sepeda motor, aku disuguhkan suatu drama kecil yang sangat menarik, seorang anak kecil berumur lebih kurang sepuluh tahun dengan sangat sigapnya menyalip disela-sela kepadatan kendaraan disebuah lampu merah perempatan jalan di Jakarta .
Dengan membawa bungkusan yang cukup banyak diayunkannya sepeda berwarna biru muda, sambil membagikan bungkusan tersebut ,ia menyapa akrab setiap orang, dari Tukang koran , Penyapu jalan, Tuna wisma sampai Pak polisi.
Pemandangan ini membuatku tertarik, pikiran ku langsung melayang membayangkan apa yang diberikan si anak kecil tersebut dengan bungkusannya, apakah dia berjualan ? “kalau dia berjualan apa mungkin seorang tuna wisma menjadi langganan tetapnya atau…??, untuk membunuh rasa penasaran ku, aku pun membuntuti si anak kecil tersebut sampai disebrang jalan , setelah itu aku langsung menyapa anak tersebut untuk aku ajak berbincang-bincang. De, “boleh kakak bertanya” ? silahkan kak, kalau boleh tahu yang barusan adik bagikan ketukang koran, tukang sapu, peminta-minta bahkan pak polisi, itu apa ?, oh… itu bungkusan nasi dan sedikit lauk kak, memang kenapa kak!, dengan sedikit heran , sambil ia balik bertanya. Oh.. tidak! , kakak Cuma tertarik cara kamu membagikan bungkusan itu, kelihatan kamu sudah terbiasa dan cukup akrab dengan mereka. Apa kamu sudah lama kenal dengan mereka? Lalu ,
Adik kecil ini mulai bercerita, “Dulu ! aku dan ibuku sama seperti mereka hanya seorang tuna wisma ”,setiap hari bekerja hanya mengharapkan belaskasihan banyak orang, dan seperti kakak ketahui hidup di Jakarta begitu sulit, sampai kami sering tidak makan, waktu siang hari kami kepanasan dan waktu malam hari kami kedinginan ditambah lagi pada musim hujan kami sering kehujanan, apabila kami mengingat waktu dulu, kami sangat-sangat sedih , namun setelah ibu ku membuka warung nasi, kehidupan keluarga kami mulai membaik.
Maka dari itu ibu selalu mengingatkanku, bahwa masih banyak orang yang susah seperti kita dulu , jadi kalau saat ini kita diberi rejeki yang cukup , kenapa kita tidak dapat berbagi kepada mereka.
Yang ibu ku selalu katakan “ hidup harus berarti buat banyak orang “, karena pada saat kita kembali kepada Sang Pencipta tidak ada yang kita bawa, hanya satu yang kita bawa yaitu Kasih kepada sesama serta Amal dan Perbuatan baik kita , kalau hari ini kita bisa mengamalkan sesuatu yang baik buat banyak orang , kenapa kita harus tunda.
Karena menurut ibuku umur manusia terlalu singkat , hari ini kita memiliki segalanya, namun satu jam kemudian atau besok kita dipanggil Sang Pencipta,” Apa yang kita bawa”?. Kata-kata adik kecil ini sangat menusuk hati ku, saat itu juga aku merasa menjadi orang yang tidak berguna, bahkan aku merasa tidak lebih dari seonggok sampah yang tidak ada gunanya,dibandingkan adik kecil ini.
Aku yang selama ini merasa menjadi orang hebat dengan pendidikan dan jabatan tinggi, namun untuk hal seperti ini, aku merasa lebih bodoh dari anak kecil ini, aku malu dan sangat malu. Yah.. Tuhan, Ampuni aku, ternyata kekayaan, kehebatan dan jabatan tidak mengantarku kepada Mu.
Hanya Kasih yang sempurna serta Iman dan Pengharapan kepada Mu lah yang dapat mengiringiku masuk keSurga. Terima kasih adik kecil, kamu adalah malaikat ku yang menyadarkan aku dari tidur nyenyak ku.
(Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersuka cita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu. Kasih tidak berkesudahan.)
Lakukanlah perkara-perkara kecil, dengan membagikan cerita ini kepada semua orang, semoga hasil yang didapat dari hal yang kecil ini berdampak besar buat banyak orang.
Thomas – 26/7/08
APOTEKER DAN NASEHAT

Seorang wanita baru pindah ke sebuah kota kecil. Setelah berada di sana beberapa waktu, ia mengeluh kepada tetangganya tentang pelayanan buruk yang dialaminya di apotek setempat. Ia meminta pada tetangganya agar mau menyampaikan kritiknya pada pemilik apotek itu.
Beberapa hari kemudian wanita pendatang tersebut pergi lagi ke apotek itu. Pemilik apotek menyambutnya dengan senyum lebar sambil mengatakan betapa senangnya ia melihat wanita itu berkenan datang kembali ke apoteknya, dan berharap wanita dan suaminya menyukai kota mereka. Bukan hanya itu, pemilik apotek itu bahkan menawarkan diri membantu wanita dan suaminya menguruskan berbagai hal agar mereka bisa menetap di kota itu dengan nyaman. Lalu, ia pun mengirimkan apa yang dipesan wanita itu dengan cepat dan baik.
Wanita itu merasa senang dengan perubahan luar biasa yang ditunjukkan oleh pemilik apotek. Kemudian, ia melaporkan hal itu pada tetangganya. Katanya, “Anda tentu sudah menyampaikan kritik saya mengenai betapa buruk pelayanannya waktu itu.”
“Oh, tidak,” jawab tetangganya. “Sebenarnya saya tidak menyampaikan kritik anda pada mereka. Saya harap anda tidak keberatan. Saya katakan pada pemilik apotek itu betapa anda terkagum-kagum melihat caranya mendirikan apotek di kota kecil ini. Dan, anda merasa apoteknya adalah salah satu apotek dengan pelayanan terbaik yang pernah anda temui.”
~Sumber-Editor Rekan Kantor
Sahabat, seperti inilah kita akan dihargai oleh orang lain. Inilah gambaran tentang perilaku yang kita dapat dari perlakuan yang kita berikan pada orang lain. Sebuah penghargaan, dan juga penghormatan, akan lebih baik, dari sekedar kritik yang tak beralasan.
Ini adalah sebuah cermin, tentang siapa kita, tentang siapa sebenarnya berhak untuk mendapatkan harapan perbaikan. Kritik yang disampaikan dengan cara yang keliru, seringkali hanya menghancurkan harapan perbaikan. Sedangkan sebuah apresiasi (penghargaan) selalu mendorong orang lain untuk melakukan lebih baik lagi.
Jadi, sahabat, sampaikanlah kritik dengan lebih bijak. Selamat mencoba.
Terima kasih telah membaca.


1 DOLAR 11 SEN


Sally baru berumur delapan tahun ketika dia mendengar ibu dan ayahnya sedang berbicara mengenai adik lelakinya, Georgi. Ia sedang menderita sakit yang parah dan mereka telah melakukan apapun yang bisa mereka lakukan untuk menyelamatkan jiwanya. Hanya operasi yang sangat mahal yang sekarang bias menyelamatkan jiwa Georgi… tapi mereka tidak punya biaya untuk itu. Sally mendengar ayahnya berbisik, “Hanya keajaiban yang bisa menyelamatkannya sekarang.”
Sally pergi ke tempat tidur dan mengambil celengan dari tempat persembunyiannya. Lalu dikeluarkannya semua isi celengan tersebut ke lantai dan menghitung secara cermat…tiga kali. Nilainya harus benar- benar tepat.

Dengan membawa uang tersebut, Sally menyelinap keluar dan pergi ke toko obat di sudut jalan. Ia menunggu dengan sabar sampai sang apoteker memberi perhatian… tapi dia terlalu sibuk dengan orang lain untuk diganggu oleh seorang anak berusia delapan tahun. Sally berusaha menarik perhatian dengan menggoyang-goyangkan kakinya, tapi gagal. Akhirnya dia mengambil uang koin dan melemparkannya ke kaca etalase. Berhasil!
“Apa yang kamu perlukan?” tanya apoteker tersebut dengan
Doctorsuara marah. “Saya sedang berbicara dengan saudara saya.”
“Tapi, saya ingin berbicara kepadamu mengenai adik saya,” Sally menjawab dengan nada yang sama. “Dia sakit…dan saya ingin membeli keajaiban.”
“Apa yang kamu katakan?,” tanya sang apoteker.
“Ayah saya mengatakan hanya keajaiban yang bias menyelamatkan jiwanya sekarang… jadi berapa harga keajaiban itu ?”
“Kami tidak menjual keajaiban, adik kecil. Saya tidak bisa menolongmu.”
“Dengar, saya mempunyai uang untuk membelinya. Katakan saja berapa harganya.”

Seorang pria berpakaian rapi berhenti dan bertanya, “Keajaiban jenis apa yang dibutuhkan oleh adikmu?”
“Saya tidak tahu,” jawab Sally. Air mata mulai menetes di pipinya. “Saya hanya tahu dia sakit parah dan mama mengatakan bahwa ia membutuhkan operasi. Tapi kedua orang tua saya tidak mampu membayarnya… tapi saya juga mempunyai uang.”
“Berapa uang yang kamu punya ?” tanya pria itu lagi.
“Satu dollar dan sebelas sen,” jawab Sally dengan bangga.
“dan itulah seluruh uang yang saya miliki di dunia ini.”
“Wah, kebetulan sekali,” kata pria itu sambil tersenyum. “Satu dollar dan sebelas sen… harga yang tepat untuk membeli keajaiban yang dapat menolong adikmu”. Dia Mengambil uang tersebut dan kemudian memegang tangan Sally sambil berkata : “Bawalah saya kepada adikmu. Saya ingin bertemu dengannya dan juga orang tuamu.”
Pria itu adalah Dr. Carlton Armstrong, seorang ahli bedah terkenal…. Operasi dilakukannya tanpa biaya dan membutuhkan waktu yang tidak lama sebelum Georgi dapat kembali ke rumah dalam keadaan sehat. Kedua orang tuanya sangat bahagia mendapatkan keajaiban tersebut. “Operasi itu,” bisik ibunya, “adalah seperti keajaiban.
Saya tidak dapat membayangkan berapa harganya”. Sally tersenyum. Dia tahu secara pasti berapa harga keajaiban tersebut…satu dollar dan sebelas sen… ditambah dengan keyakinan.
Hadiah Terbaik
Kepada kawan – Kesetiaan
Kepada musuh – Kemaafan
Kepada ketua – Khidmat
Kepada yang muda – Contoh terbaik
Kepada yang tua – Hargai budi mereka dan kesetiaan.
Kepada pasangan – Cinta dan ketaatan
Kepada manusia – Kebebasan

Sumber: Unknown (Tidak Diketahui)

Menganalisis Itu Penting Tapi....

image
Di sebuah kebun ,tumbuh pohon anggur yang buahnya lebat dan manis.Seluruh warga desa mengagumi pohon tersebut.Ada seseorang pintar di desa itu,dia selalu  menjelaskan kepada warga desa bahwa buah anggur itu tidak bisa di makan,sehingga waarga desa tidak ada satupun yang berani memakan buah anggur itu.
Suatu hari ada seorang petani melewati kebun itu dan melihat pohon anggur yang berbuah lebat,karena lapar petani itu lalu memakan buah anggur yang tersa nikmat sekali,pada saat itu lewat si orang pintar dan melihat petani sedang mamakan buah anggur itu dan berkata" Hei pak petani ,kenapa kamu memakan buah anggur itu? sayakan belum mempelajari asal-usul buah  itu,apakah berbahaya atau tidak.Nanti kalau sakit baru tahu rasa! "
secara spontan petani itu menjawab " ini jelas-jelas anggur kelas terbaik.Kalau menunggu orang pintar seperti kamu meneliti,mengalasis mungkin anggurnya keburu busuk".Petani itu terus memakan anggur dengan lahap,tanpa menghiraukan si pintar yang termenung.
Si orang pintar itu sadar bahwa menganalisis itu penting,tetapi kesempatan hanya berbuah pada orang yang berani mencoba dengan melakukan tindakan.

Resiko Besar , Hasil ?

image
Di kota california ada dua orang yang satu bernama Peter dan satunya lagi namanya simon.Suatu hari si Peter mengajak si Simon untuk membangun sebuah usaha sendiri,
Peter " Mon saya ada rencana usaha yg memiliki prospek sangat bagus,pokoknya usaha ini sangat potensial,kamu mau ikut nga..?" ajak si Peter.
Simon "Usaha apa dulu nih...tolong di jelaskan apa usahanya? "Simon mulai penasaran.
Peter " Baiklah...usaha kita adalah membangun perusahaan listrik yg menyalurkan listrik ke seluruh pelosok desa ,ya usaha ini membutuhkan kerja sangat keras agar berhasil,bayangkan berapa desa di yg kan menikmati listrik bika kita berhasil " papar Peter
Simon " Waha renca usaha kamu risikonya terlalu besar,saya tidak mau ikut,terlalu besar resikonya" tolak Simon
Peter " Baiklah kalau kamu tidk ikut tidak apa-apa ,saya akan membangun perusahaan ini ,waalupun memerlukan waktu seumur hidup" ucap si Peter dg yakin.
Singkatnya setelah 10 tahun kemudian perusahaan Peter sangat sukses.
Pesannya adalah " Jika kita tidak mau mengambil resiko yg besar,kita harus puas dengan yg biasa-biasa saja"
Mari teman mulai hari ini kita bertekad untuk menjadi orang yg luar biasa...

Ide Menjadikan Anda Sukses bila Anda Berani Mewujudkanya...

image
Di suatu desa ada 3 orang pemuda sedang membicarakan impian masing-masing.

Pemuda 1;" Saya punya ide akan membuat perusahaan jasa penerbangan"
Pemuda 2 :"wah hebat benar ide lu....kalau aku punya ide menjadi manager bank internasional "
Pemuda 3 tidak mau ketinggalan : " wah..hebat-hebat semuanya ide kalian ,kalau gue sih idenya membuat Mall terbesar di indonesia"
Ketika 3 pemuda ini lagi asyik membicarakan ide-ide nya yg hebat lewatlah seorang kakek "Nak kalian lagi ngapain? " sapa sang kakek,lalu pemuda itu menjawab " ini lho kek..kami sedang membahas idi-ide kami unutk sukses" jawab sang pemuda ,lalu sang kakek bertanya " Memangnya ide kalian apa saja?" pemuda itu menyebutkan ide nya masing-masing," wah hebat benar ide kalian" jawab sang kakek,"apa yang sudah kalian lakukan unutk memwujudkan ide itu" tanya kakek ,ketiga pemuda itu semuanya teridam tidak ada satupun sudah yg meklaksanakan ide yang hebat itu ,lalau sang kakek memberi nasehat" Nak ide-ide kalian hebat tapi kalau ide itu tidak di wujudkan kalian tidak akan kemana-mana,kalain tidak akan sukses kalau hanya membicarakan ide sebaiknya mulailah dari sekarang jangan di tunda -tunda"

Kebaikan Kecil Anda Berdampak Besar Bagi Orang Lain...


Suatu hari Danu dan anaknya berdiri mengantre unutk membeli karcis pertunjukan sirkus,Ketika mereka menunggu,mereka memperhatikan keluarga yg tepat berada di depan antrian mereka.Orang tuanya berpegangan tangan dan mereka memiliki delapan anak berderet,semuanya bertingkah laku baik dan kemingkinan semuanya berumur di bawah 12 tahun.Berdasarkan pakaian mereka yg sederhana namun bersih ,Danu dan anaknya menduga bahwa mungkin mereka tidak kaya.Anak-anaknya asik berceloteh tentang hal-hal yang menarik yg ingin mereka lihat dan Danu bisa melihat bahwa sirkus merupakan pengalaman baru bagi anak-anak ini.
Ketika pasangan ini mendekati loket ,seorang penjaga bertanyaberapa tiketyg nereka mau beli.Si pria menjawab dengan bangga: "saya mau beli delapan tiket anak-anak dan dua tiket orang dewasa supaya saya bisa membawa seluruh keluarga saya melihat pertunjukan sirkus" Ucap Si pria ini dg bangga.
Ketika pengjaga menyebutkan harganya,istri pria itu melepaskan tangganya dan kepalanya terkulai .Pria itu mendekati loketdan bertanya,"Berapa kamu tadi bilang?"Si penjaga menyebutkan lagi jumlahnya.Jelaslah pria itu tidak punya cukup uang.Ia kelihatan terpukul.
Danu melihat semua kejadian ini,memasukan tangang ke kantongnya,mengambil selembar uang 100 ribuan dan menjatuhkannya di tanah,lalu danu menunduk ke bawah,mengambil uang itu,lalu menepuk bahu pria itu dan berkata," Maafkan saya,uang ini terjatuh dari dompet Anda "
Pria itu thu apa yg sedang terjadi.Ia melihat langsung ke mata Danu,memegang tanganya ,dan menyalaminya ,dam dengan air mata mengalir di pipinya ,ia berkata"Terimakasih,terimakasih .ini sungguh berarti bagi saya dan keluarga saya,sekali terimakasih..."

Danu dan anaknya kembali ke mobil mereka dan pulang.Lalu anaknya Danu berkata " Saya bangga punya Ayah seperti Ayah ,perbuatan ayah akan selalu menjadi contoh dalam perjalan hidup ku..."

Tokoh Inspirasi : Joko Susilo Pendiri FormulaBisnis.com

image
                             
Joko Susilo lahir di semarang ,28 juli 1975 ,lulusan Arsitektur Universitas Diponegoro Semarang tahun 1999.Di awali dengan minat besar terhadap dunia Internet ,tanpa memiliki latar belakang teknologi informasi sedikitpun,hanya bisa mengetik dan mengakses Internet bahkan belum bisa membuat email ,berani memulai bisnis intenet marketing .
Pada awal memulai bisnis di Internet, Joko Susilo hanya menggunakan warnet
dan pada bulan awal bisnis Joko Susilo hanya menghasilkan 50 rupiah/hari,walaupun begitu dia berani bercerita kepada teman-teman dan orang tuanya bahwa akan mengahilskan uang berlimpah dari internet,reaksi teman-temannya menertawakan,orang tuanya malah sedih mendengar ceritanya ,kebanyakan dari mereka mencoba melemahkan semangatnya. Banyak yang kaget,ada yang tertawa malah ada yang mengelus dada.
Di tengah lingkungan yang tidak mendukung,Joko Susilo tetap menjalankan bisnisnya.Selama 10 bulan menekuni internet,akhirnya menemukan satu metode sederhana yang mengubah kehidupan bisnis Internet miliiknya yang di beri nama metode Sistem Mesin Uang Otomatis atau SMUO.
Setelah menerapkan metode SMUO, pada tahun pertama Joko Susilo memiliki penghasilan rata-rata 10 juta per bulan, tahun kedua 20 juta, tahun ke empat 25 juta, dan tahun-tahun sekarang memiliki penghasilan paling tidak Rp 75 juta per
bulan,baik kerja ataupun tidak.
Sistem Mesin Uang Otomatis (SMUO) di jual melaui website FormulaBisnis.com Website ini sudah di bangunnya sejak tahun 2001 dan menghasilkan profit tanpa henti, terus menerus,ramainya bisnis online di Indonesia saat ini merupakan sumbangan besar dari FormulaBisnis.com. Sudah ribuan orang yang dibimbing selangkah demi selangkah
bagaimana mereka bisa membangun bisnis di Internet dengan menjual
informasi. Sudah ratusan website baru muncul, dengan topik informasi mereka
masing-masing, mengikuti panduan Joko Suslio.
Menurut Joko Susilo bisnis di internet memiliki keunggulan tersendiri, seperti:
• Modal yang anda perlukan sangat kecil. Relatif kecil dibandingkan bisnis
konvensional apapun.
• Anda tidak membutuhkan inventaris mahal, cukup dengan satu
komputer yang terkoneksi Internet, meja, kursi, dan sebuah buku tulis.
Dengan komputer yang anda miliki sekarang, dengan beberapa aplikasi
dasar, anda sudah bisa menjalankan bisnis ini.
• Produk informasi mudah diproduksi dan diperbanyak. Sebanyak apapun
anda ingin menggandakan produk ini, bisa dilakukan dalam hitungan
detik.
• Profit bersih mencapai 100%. Anda tidak membutuhkan biaya untuk
produksi, pengiriman produk ataupun membayar pegawai. Semua nilai
pemasukan adalah keuntungan anda.
• Pengiriman produk ke konsumen secepat kilat. Tidak membutuhkan
waktu berhari-hari untuk menunggu pengiriman.
• Waktu operasional jauh lebih sedikit. Anda tidak perlu menggunakan 8
jam dalam sehari jika anda tidak suka. Cukup gunakan 1-2 jam per hari
untuk mengurusi bisnis ini.
• Bisnis anda bisa berjalan dengan otomatis. Dari melakukan pemasaran,
sampai anda harus mengirim pemesanan, hampir seluruhnya bisa
dilakukan secara otomatis.
• Bisa anda operasikan sendiri. Karena seluruh sistem telah dipersiapkan
untuk berjalan secara otomatis, tugas kerja anda menjadi semakin
sedikit. Artinya, anda bisa lakukan bisnis ini tanpa perlu merekrut
pegawai.
• Anda memegang kontrol sepenuhnya. Anda bisa mengendalikan bisnis
ini tanpa campur tangan birokrasi dan gangguan dari orang lain.
• Bisa dioperasikan dari mana saja. Di manapun anda berada, yang
dibutuhkan hanyalah akses Internet untuk menjalankan bisnis anda.
• Bisa anda jalankan kapan saja.


Sekarang Jokon Susilo memiliki sebuah kantor eksklusif 2 lantai di Ruko Villa Durian no 7, kawasan Banyumanik Semarang. Sebuah kantor full AC bernilai 1 milyar .Anda bisa mengunjunginya webnya di
www.JokoSusilo.com atau www.formulabisnis.com

Apakah Anda Sudah Bersyukur Hari Ini ...?

image
Kita sering lupa mensyukuri nikmat yang di karuniakan Tuhan ,seperti air minum ,nasi yang kita makan,udara yang kita hirup,rumah yang kita tinggali,mata kita.Padahal dengan memiliki sikap bersyukur kita akan mendapatkan nikmat yang lebih banyak ,dan keajaiban syukur, hal ini seperti yang di ceritakan Lee Brower dalam buku The Secret :
Saya kira setiap orang menglami saat-saat ketika mereka berkata "Segala sesuatunya tidak berjalan dengan baik atau segala sesuatunya berjalan dengan buruk" .Suatu saat ,ketika terjadi masalah dalam keluarga saya,saya menemukan sebuah batu,dan saya hanya duduk mengenggamnya.Saya ambil batu itu ,menyimpanya dalam saku,dan berkata " Setiap kali saya menyentuh batu ini saya akan memeikirkansesutau yang saya syukuri,jadi setip pagi ketika bangun tidur ,saya mengambilny dari laci,memasukanya dalam saku,dan saya memikirkan hal-hal yang sasya syukuri.Di malam hari ,apa yang saya lakukan?saya mengosongkan isi saku.dan itu ada lagi di sana.
Saya telah mengalami pengalaman-pengalaman menajubkan dengan ide ini.Seorang pria dari Afrika Selatan melihat saya menjatuhkanya.Ia berkata " Apa itu?Saya menjelaskan padanya ,dan ia mulai menyebutnya batu syukur.Dua minmggu kemudian saya mendapat e-mail darinya,dari Afrika Selatan.Dan ia berkata,"Putra saya sedang menjelang ajal karena penyakit yang jarang ada.Sejenis penyakit peradangan hati.Bersediakah Anda mengirim tiga batu syukur kepada saya?"Sebenarnya itu adalah batu biasa yang saya temukan di jalanan,jadi saya berkata "Tentu saja".Saya harus memastikan bahwa batu-batu ini sangat khusus,jadi saya pergi ke sungai,mengambil tiga batu yang tepat,dan mengirimkanya padanya.
Empat atau lima bulan kemudian,saya mendapat e-mail lagi darinya.Ia berkata"Putra saya membaik,kemajuanya sangat pesat." Dan ia melanjutkan,"Tetapi Anda perlu tahu sesuatu.Kami telah menjual lebih dari seribu batu masing-masing dengan harga sepuluh dolar sebagai batu syukur,dan kami mengumpulkan uang ini unutk dana sosial.Terima kasih banyak."
Jadi sangat penting untuk memliki "sikap syukur"

Tak Perlu Malu,Jadilah Diri Sendiri

image
seorang putri sopir kendaraan umum ingin sekali menjadi penyanyi.Tapi memiliki wajah buruk,mulutnya besar dan giginya mrongos.Ketika pertama kalinya menyanyi di depan umum di sebuah klub malam ,ia mencoba menarik bibir atasnya ke bawah unutuk menutupi giginya yang mrongos.Ia mencoba tampil percaya diri dan bergaya.Hasilnya ,ia ditertawakan.
Tapi ada seseorang lelaki yang mendengarkan suara nyayianya dan tahu bahwa ia memliki bakat yang hebat dalam menyanyi,lalu lelaki ini mendekati putri sopir itu dan berkata "Saya tadi menyaksikan penampilan kamu,dan saya tahu apa yang kamu ingin sembunyikan,kamu malu atas gigimu!" Gadis itu menjadi malu sekali,Lelaki itu melanjutkan,"Kenapa malu?Apa yang salah mempunyai gigi mrongos?Jangan coba menyembunyikannya !Bukalah mulutmu,dan pendengar akan senag kalau melihat kau tidak malu.Bahkan gigi yang kau coba sembunyikan itu mugkin bisa mendatangkan kemujuran"
Dia adalah Cass Daley .Semenjak itu ,ia  hanya memikirkan pendengarnya .Ia membuka mulutnya lebar-lebar dan beryanyi penuh suka cita dan semangat sampi menjadi tenar sebai artis film dan radio.

Kisah Laron Maharaja

Laron maharaja adalah laron paling hebat dari segala jenis laron,ketika terbang sayapnya yang hebat mengepak lebar,penuh wibawa.
Untuk bisa terbang laron maharaja melalui proses,pertama lahir sebagai ulat dan menjadi kepompong yang tinggal dalam selaput yang memliki lubang sangat sempit.
Dalam proses keluar dari selaput ,kepompong laron ini meronta-ronta kesakitan ,kebetulan ada orang yang melihatnya,karena kasihan ia membantu laron keluar dari kepompong dengan menyobek lubang selaput yang sempit.Kepompong keluar dengan mudah tanpa banyak meronta,tapi laron tersebut tidak berdaya untuk terbang,sebailknya ia jatuh,dan hanya bisa merayap-rayap di tanah saja,setelah beberapa lama ia mati di atas tanah dan tidak dapat hidup berterbangan di udara dengan sayapnya yang hebat itu.
Lalu orang yang menolong kepompong itu membawanya ke ahli serangga," Saya melihat kepompong ini meronta kesakitan ,saat berusaha keluar dari selaput yang sempit,karena kasihan saya membantunya keluar,tapi laron ini malah tidak bisa tebang dan mati,kenapa bisa begitu?" tanya orang ini kepada ahli serangga, " Untuk membuat laron ini bisa terbang ia harus menjalani proses meronta dan kelaur dari kepompongnya ,dengan memlalaui  proses "meronta dan lolos" inilah  benda cair di pompa masuk ke urat-urat sayap yang memungkinkannya menjadi bisa terbang.Seperti manusia bila ia ingin kesuksesan ia harus melewati proses kegagalan yang menyakitkan,tidak ada jalan lain " kata sang ahli serangga.

 8 Angin Kehidupan

Di sebuah desa ada seorang pemuda  yang sangat sukses sebagai pengusaha,bernama Cen. Cen memiliki sifat arogan,sombong,angkuh karena kesuksesanya.Suatu hari karena krisis global semua usaha Cen bangkrut.
Cen menjadi depresi,mengurung diri di rumah , mengucilkan diri.Para tetangganya tidak pernah melihat Cen lagi.
Cen Mendapat surat dari seseorang  yang di kenalnya di pantai, waktu liburan.Surat itu berisi ucapaan dukungan untuk bangkit kembali ,memulai lagi memmbangun usaha dan di akhir surat itu terdpat kata-kata yang membuat Cen terpaku ,kata itu adalah:

8 angin kehidupan yang akan bertuiap kearah Anda
Pujian dan Makian
Kemasyhuran dan  Fitnah
Keuntunghan dan Kerugian
Kegembiraan dan Kedukaan

Ketika anda sukses akan ada suatu sisi 4 jenis angin bertiup ke arah anda yaitu :
Pujian
Kemasyhuran
Keuntunghan
Kegembiraan
dan sebaliknya ketika anda gagal 4 arah angin lagi bertiup  ke arah anda :
Makian
Fitnah
Kerugian
Kedukaan
Yang poerlu kita coba adalah jangan mudah terpengaruh oleh 8 jenis angin baik saat sukses maupun gagal.
8 angin ini dapat menyebabkan orang sukses menjadi angkuh dan orang yang gagal mengucilkan diri.
Cen menjadi sadar setelah membaca surat itu.
Beberapa tahun kemudian Cen bangkit kembali ,memiliki bermacam Bisnis ,tapi sekarang Cen tidak lagi angkuh.



0 komentar:

Posting Komentar