Popular Posts

Selasa, 15 Mei 2012

Tantangan bagi Entreprener

Seringkali kita ditanya: problem apa yang paling banyak dijumpai dalam
perusahaan tempat kita bekerja? Jawabannya mungkin sangat mencengangkan
anda.
Pada umumnya jawaban yang diberikan adalah: persoalan keuangan, atau
kurangnya dana untuk menjalankan usaha. Memang benar, kas seringkali
merupakan tantangan besar bagi manajemen, terutama bagi perusahaan yang
sedang dalam perubahan yang dinamis, baik itu pertumbuhan atau penurunan
usaha.
Tapi sebenarnya kita tak selalu mempunyai masalah dalam hal pendanaan untuk
perusahaan. Setiap orang tahu bahwa ada banyak bank yang senantiasa mencari
“debitur yang baik”. Bila toh tidak ada bank masih ada ribuan investor yang
bersedia memasok dana. Dengan demikian, ketersediaan dana bukanlah persoalan
yang sesungguhnya.
Persoalan yang paling banyak kita lihat, yang menghambat keberhasilan
pertumbuhan perusahaan, adalah tiadanya FOKUS manajemen. Anda mungkin
bertanya: bukankah ini hanya merupakan pepatah tua manajemen? Benar sekali,
namun dengan penekanan yang berbeda: bahwa, penentuan fokus yang jelas atas
setiap strategi, tujuan atau tugas adalah tantangan yang paling banyak
dijumpai dan menjadi batu sandungan bagi banyak enterpreneur. Dan, batu
sandungan itu biasanya menyakitkan bahkan berakibat fatal.

Biasanya, para pendiri memulai usahanya dengan memfokuskan diri pada satu
dari tiga hal berikut: produk yang baik dan inovatif, misi yang
menggairahkan, atau memasuki pangsa pasar yang belum terlayani. Kemudian
para pendiri memasok dana dan investasi. Dan perusahaan pun berjalan,
karyawan direkrut, sistem dan prosedur disusun dan diawasi, kemudian muncul
berbagai persoalan dan resiko yang membutuhkan lebih banyak perhatian
manajemen serta keuangan.
Semua hal itu muncul beruntun dan mungkin tidak terpikirkan pertama kali.
Seringkali para pendiri bukanlah orang yang cukup ahli untuk menangani semua
itu. Mereka butuh orang lain yang mampu mengatasinya. Tapi, persoalan yang
lebih buruk muncul, karena para pendiri tidak mempercayai orang lain untuk
melakukan pekerjaan itu. Ketika mereka tidak mampu merekrut orang yang
tepat, mereka mungkin punya alasan kuat untuk tidak mempercayai siapa pun.
Kebanyakan hal ini timbul karena para pendiri merasa bahwa perusahaan ini
adalah perusahaan mereka yang harus dijalankan sesuai kemauan mereka. Lalu
diangkatlah seorang CEO yang akan mengawasi setiap detil, bahkan pada
bidang-bidang yang bukan merupakan keahlian mereka. Semua itu hanya akan
mencekik karyawan yang sebenarnya mereka rekrut untuk melakukan
pekerjaan-pekerjaan manajemen.
Akibatnya, para pendiri itu mengalihkan perhatian CEO dari tugas terbesar
mereka untuk melakukan pengembangan, menaikkan penjualan, atau membangun
jejaring yang bisa menyediakan berbagai sumber daya dan keuangan untuk
investasi-investasi baru dan kemitraan. Kini tidak ada orang lagi yang
mempunyai komitmen, intensitas dan gairah untuk membangun perusahaan. Maka
impian besar yang dicanangkan para pendiri ketika pertama kali mereka
membuka perusahaan pun pudar. Lalu banyak orang yang keheranan, bagaimana
perusahaan yang dimulai dengan luar biasa itu bisa jatuh dalam persoalan
yang berlarut-larut.
Jawabannya adalah fokus manajemen yang diterapkan pada seluruh sumber daya
perusahaan untuk mencapai tujuan terpenting perusahaan. Pertanyaannya, apa
yang menjadi tujuan perusahaan yang paling penting? Mungkin jawabannya bisa
berbeda antar satu perusahaan dengan perusahaan lain. Namun, cara untuk
menemukan jawaban yang tepat bagi anda tidaklah terlalu berbeda. Tak peduli
apakah anda sedang membangun General Electric, Microsoft atau lain-lain,
anda bisa menggunakan teknik yang sama untuk mengetahui apa tujuan
terpenting perusahaan. Kami membaginya menjadi lima alat dasar bagi
manajemen:
1–Visi.
Harus ada visi yang jelas yang menuntun perusahan akan dibawa kemana. Visi
ini harus secara aktif tercerminkan pada misi dan aktivitas harian dari
bisnis anda. Jika fokus utama anda adalah untuk mendapatkan uang
sebanyak-banyaknya, maka perhatian anda akan selalu tertuju pada setiap
kesempatan yang sesaat dapat menaikkan keuntungan anda. Dan, anda pun akan
melompat dari satu kesempatan pada kesempatan yang lain. Ini seperti
memperhatikan pergerakan harga saham setiap hari. Anda menghabiskan waktu
untuk mengejar trend bukan membangun trend. Selalulah mempunyai pandangan
yang jelas, akan kemana anda sedang menuju, dan pastikan setiap orang di
perusahaan anda melihat tujuan itu.
2–Rencana.
Pondasi enterpreneur yang sukses adalah rencana. Pikirkan masak-masak, bila
perlu tulislah sejelas-jelasnya, rencana bisnis sesuai visi anda, dan
tentukan apa yang ingin anda capai, apa goal dan tujuan anda, apa yang harus
anda lakukan untuk mencapai itu, produk dan pasar apa yang ingin anda
layani, seberapa banyak dan seberapa cepat, sumber daya apa yang anda
butuhkan (terutama orang dan dana), dan apa strategi yang anda gunakan untuk
mencapai tujuan itu. Kalau anda bisa menuliskannya di atas kertas, maka anda
akan tahu apa yang menarik perhatian dan menjadi fokus manajemen anda.
3–Anggaran.
Anggaran adalah rencana anda yang diwujudkan dalam angka-angka keuangan.
Setiap CEO selalu mempunyai anggaran, tetapi kebanyakan mereka menyimpannya
di dalam benar saja, ketimbang menuliskannya sehingga bisa digunakan oleh
setiap orang dalam manajemen untuk membantu meraih tujuan. Anggaran yang
tidak digunakan secara aktif oleh orang-orang dalam manajemen adalah lebih
buruk ketimbang sesuatu yang tidak berguna. Setiap CEO semestinya memberikan
pemahaman pada orang-orang dalam organisasinya, dan mengarahkan mereka untuk
selalu berada dalam jalur anggaran yang benar. Dengan demikian, kita selalu
mencari jawaban atas tiga pertanyaan berikut: bagaimana performa kita
dibanding anggaran? Apa yang harus dilakukan untuk mengecilkan variance? Apa
yang sudah kita pelajari untuk menyusun anggaran yang lebih baik tahun
depan?
4–Rekuitmen.
Rekrutlah orang-orang terbaik yang bisa anda dapatkan. Tentukan dengan jelas
tugas yang harus diselesaikan, lalu cari orang yang mampu melakukannya, tak
peduli apakah itu untuk pekerjaan CFO, tenaga penjual atau hanya seorang
clerk saja. Lalu beri mereka gaji / imbalan yang layak dan tuntutlah
performa yang luar biasa dari mereka. Anda akan mendapatkan bahwa uang yang
anda bayarkan untuk mereka memberikan imbalan yang jauh lebih banyak. Anda
pun hanya butuh sedikit orang untuk menjalankan perusahaan. Jika anda
mempekerjakan orang berdasarkan berapa gaji yang bersedia anda bayarkan,
maka anda takkan pernah mendapatkan lebih dari besar gaji itu, dan itu bukan
cara membangun perusahaan yang besar. Pekerjakan orang-orang yang terbaik.
5–Manajemen.
Berikan kesempatan bagi karyawan anda untuk melakukan apa yang semestinya
mereka lakukan. Beri mereka visi, petunjuk dan arahan yang jelas lalu
menjauhlah anda dari setiap detil. Mereka takkan pernah melakukan apa yang
mungkin anda lakukan, namun seringkali mereka melakukannya lebih baik dari
anda. Jika performa mereka tidak sesuai dengan standar perusahaan, maka
ganti saja pekerjaan mereka atau ganti mereka. Jangan menghabiskan waktu
untuk menutup-nutupi kelemahan mereka. Ini hanya akan menambah kelemahan
diri anda sendiri, dan pekerjaan pun takkan pernah selesai dengan baik.
Fokus manajemen dicapai melalui pencanangan visi yang jelas, rencana
tindakan dan mempekerjakan karyawan yang berbakat, berdedikasi untuk
melakukan apa pun demi mencapai tujuan. Keberhasilan bsnis dicapai dengan
menguasai proses tersebut, atau bila tidak, mungkin anda hanya sedang
beruntung saja. Maka, sebenarnya mana yang anda pilih? (07052002)
(Disadur dari: Gene Siciliano, CMC, CMA, The Greatest Management Challenge)

Sayap Yang Kerdil

Ini adalah kisah yang dialami oleh sebuah keluarga burung. Si induk menetaskan beberapa telor menjadi burung-burung kecil yang indah dan sehat. Si induk pun sangat bahagia dan merawat mereka semua dengan penuh kasih sayang.
Hari berganti hari, bulan berganti bulan. Burung-burung kecil inipun mulai dapat bergerak lincah. Mereka mulai belajar mengepakkan sayap, mencari-cari makanan untuk kemudian mematuknya.

Dari beberapa anak burung ini tampaklah seekor burung kecil yang berbeda dengan saudaranya yang lain. Ia tampak pendiam dan tidak selincah saudara-saudaranya. Ketika saudara-saudaranya belajar terbang, ia memilih diam di sarang daripada lelah dan terjatuh, ketika saudara-saudaranya berkejaran mencari makan, ia memilih diam dan menantikan belas kasihan saudaranya. Demikian hal ini terjadi seterusnya.
Saat sang induk mulai menjadi tua dan tak sanggup lagi berjuang untuk menghidupi anak-anaknya, si anak burung ini mulai merasa sedih. Seringkali ia melihat dari bawah saudara-saudaranya terbang tinggi di langit. Ketika saudara-saudarnya dengan lincah berpindah dari dahan satu ke dahan yang lain di pohon yang tinggi, ia harus puas hanya dengan berada di satu dahan yang rendah. Ia pun merasa sangat sedih.
Dalam kesedihannya, ia menemui induknya yang sudah tua dan berkata, “Ibu, aku merasa sangat sedih, mengapa aku tidak bisa terbang setinggi saudara-saudaraku yang lain, mengapa akau tidak bisa melompat-lompat di dahan yang tinggi aku hanya bisa berdiam di dahan yang rendah?”
Si induk pun merasa sedih dan dengan air mata ia berkata, “Anakku, engkau dilahirkan dengan sayap yang sempurna seperti saudaramu, tapi engkau memilih merangkak menjalani hidup ini sehingga sayapmu menjadi kerdil.”
Hidup adalah kumpulan dari setiap pilihan yang kita buat. Pilihan kita hari ini menentukan bagaimana hidup kita di masa depan.Kita memiliki kebebasan memilih tetapi setelah itu kita akan dikendalikan oleh pilihan kita, jadi berpikirlah sebelum berbuat, sadari setiap konsekuensi dari pilihan yang kita buat.
Semoga bermanfaat
Dikirimkan oleh Tari
Terima kasih sahabat Tari

Qu Kangen Ayah

Seperti biasa Rudi, Kepala Cabang di sebuah perusahaan swasta terkemuka di Jakarta, tiba di rumahnya pada pukul 9 malam. Tidak seperti biasanya, Imron, putra pertamanya yang baru duduk di kelas dua SD yang membukakan pintu. Ia nampaknya sudah menunggu cukup lama.
“Kok, belum tidur?” sapa Rudi sambil mencium anaknya. Biasanya, Imron memang sudah lelap ketika ia pulang dan baru terjaga ketika ia akan berangkat ke kantor pagi hari. Sambil membuntuti sang ayah menuju ruang keluarga, Imron menjawab, “Aku nunggu Ayah pulang. Sebab aku mau tanya berapa sih gaji Ayah?”

“Lho, tumben, kok nanya gaji Ayah? Mau minta uang lagi, ya?”
“Ah, enggak. Pengen tahu aja.”
“Oke. Kamu boleh hitung sendiri. Setiap hari Ayah bekerja sekitar 10 jam dan dibayar Rp 400.000,-. Dan setiap bulan rata-rata dihitung 25 hari kerja. Jadi, gaji Ayah dalam satu bulan berapa, hayo?”
Imron berlari mengambil kertas dan pensilnya dari meja belajar, sementara ayahnya melepas sepatu dan menyalakan televisi. Ketika Rudi beranjak menuju kamar untuk berganti pakaian, Imron berlari mengikutinya.
“Kalau satu hari ayah dibayar Rp 400.000,- untuk 10 jam, berarti satu jam ayah digaji Rp 40.000,- dong,” katanya.
“Wah, pinter kamu. Sudah, sekarang cuci kaki, bobok,” perintah Rudi. Tetapi Imron tak beranjak. Sambil menyaksikan ayahnya berganti pakaian, Imron kembali bertanya, “Ayah, aku boleh pinjam uang Rp 5.000,- nggak?” “Sudah, nggak usah macam-macam lagi. Buat apa minta uang malam-malam begini?
Ayah capek. Dan mau mandi dulu. Tidurlah.”
“Tapi, Ayah…” Kesabaran Rudi habis.
“Ayah bilang tidur!” hardiknya mengejutkan Imron. Anak kecil itu pun berbalik menuju kamarnya. Usai mandi, Rudi nampak menyesali hardikannya. Ia pun menengok Imron di kamar tidurnya. Anak kesayangannya itu belum tidur. Imron didapatinya sedang terisak-isak pelan sambil memegang uang Rp 15.000,- di tangannya.
Sambil berbaring dan mengelus kepala bocah kecil itu, Rudi berkata, “Maafkan Ayah, Nak. Ayah sayang sama Imron. Buat apa sih minta uang malam-malam begini? Kalau mau beli mainan, besok’ kan bisa. Jangankan Rp 5.000,- lebih dari itu pun ayah kasih.”
“Ayah, aku nggak minta uang. Aku pinjam. Nanti aku kembalikan kalau sudah menabung lagi dari uang jajan selama minggu ini.”
“Iya,iya, tapi buat apa?” tanya Rudi lembut.
“Aku menunggu Ayah dari jam 8. Aku mau ajak Ayah main ular tangga. Tiga puluh menit saja. Ibu sering bilang kalau waktu Ayah itu sangat berharga. Jadi, aku mau beli waktu ayah. Aku buka tabunganku, ada Rp 15.000,-. Tapi karena Ayah bilang satu jam Ayah dibayar Rp 40.000,-, maka setengah jam harus Rp 20.000,-. Duit tabunganku kurang Rp 5.000,-. Makanya aku mau pinjam dari Ayah,” kata Imron polos.
Rudi terdiam. Ia kehilangan kata-kata. Dipeluknya bocah kecil itu erat-erat.

Perangkap Monyet

Sahabat, saya pernah membaca suatu hal yang menarik tentang perangkap. Suatu sistem yang unik, telah dipakai di hutan-hutan Afrika untuk menangkap monyet yang ada disana. Sistem itu memungkinkan untuk menangkap monyet dalam keadaan hidup, tak cedera, agar bisa dijadikan hewan percobaan atau binatang sirkus di Amerika.
Caranya sangat manusiawi (*umm…atau mungkin hewani kali ye..hehehe*). Sang pemburu monyet, akan menggunakan sebuah toples berleher panjang dan sempit, dan menanamnya di tanah. Toples kaca yang berat itu berisi kacang, ditambah dengan aroma yang kuat dari bahan-bahan yang disukai monyet-monyet Afrika. Mereka meletakkannya di sore hari, dan mengikat/menanam toples itu erat-erat ke dalam tanah. Keesokan harinya, mereka akan menemukan beberapa monyet yang terperangkap, dengan tangan yang terjulur, dalam setiap botol yang dijadikan jebakan.

Tentu, kita tahu mengapa ini terjadi. Monyet-monyet itu tak melepaskan tangannya sebelum mendapatkan kacang-kacang yang menjadi jebakan. Mereka tertarik pada aroma yang keluar dari setiap toples, lalu mengamati, menjulurkan tangan, dan terjebak. Monyet itu, tak akan dapat terlepas dari toples, sebelum ia melepaskan kacang yang di gengamnya. Selama ia tetap mempertahankan kacang-kacang itu, selama itu pula ia terjebak. Toples itu terlalu berat untuk diangkat, sebab tertanam di tanah. Monyet tak akan dapat pergi kemana-mana.
Sahabat, kita mungkin tertawa dengan tingkah monyet itu. Kita bisa jadi terbahak saat melihat kebodohan monyet yang terperangkap dalam toples. Tapi, mungkin, sesungguhnya, kita sedang menertawakan diri kita sendiri. Betapa sering, kita mengengam setiap permasalahan yang kita miliki, layaknya monyet yang mengenggam kacang. Kita sering mendendam, tak mudah memberikan maaf, tak mudah melepaskan maaf, memendam setiap amarah dalam dada, seakan tak mau melepaskan selamanya.
Seringkali, kita, yang bodoh ini, membawa “toples-toples” itu kemana pun kita pergi. Dengan beban yang berat, kita berusaha untuk terus berjalan. Tanpa sadar, kita sebenarnya sedang terperangkap dengan persoalan pribadi yang kita alami.
Sahabat, bukankah lebih mudah jika kita melepaskan setiap masalah yang lalu, dan menatap hari esok dengan lebih cerah? Bukankah lebih menyenangkan, untuk memberikan maaf bagi setiap orang yang pernah berbuat salah kepada kita? Karena, kita pun bisa jadi juga bisa berbuat kesalahan yang sama. Bukankah lebih terasa nyaman, saat kita membagikan setiap masalah kepada orang lain, kepada sahabat, agar di cari penyelesaiannya, daripada terus dipendam?

Pay It Forward

Saat terlintas keraguan apakah mungkin perbuatan baik yang kecil dan sederhana yang kita lakukan kepada orang lain akan mampu mempengaruhi kehidupan mereka, mungkin Film “PAY IT FORWARD” bisa menjadi pendorong yang memberikan kita semangat untuk selalu tidak jemu-jemu berbuat baik Editkepada orang lain.
Kisahnya bercerita tentang seorang anak umur delapan tahun bernama Trevor yang berpikir jika dia melakukan kebaikan kepada tiga orang disekitarnya, lalu jika ke tiga orang tersebut meneruskan kebaikan yang mereka terima itu dengan melakukan kepada tiga orang lainnya dan begitu seterusnya, maka dia yakin bahwa suatu saat nanti dunia ini akan dipenuhi oleh orang-orang yang saling mengasihi. Dia menamakan ide tersebut: “PAY IT FORWARD”
Singkat cerita, Trevor memutuskan bahwa tiga orang yang akan menjadi bahan eksperimen adalah mamanya sendiri (yang menjadi single parent), seorang pemuda gembel yang selalu dilihatnya dipinggir jalan dan seorang teman sekelas yang selalu diganggu oleh sekelompok anak-anak nakal.
Percobaanpun dimulai : Trevor melihat bahwa mamanya yang sangat kesepian, tidak punya teman untuk berbagi rasa, telah menjadi pecandu minuman
keras. Trevor berusaha menghentikan kecanduan mamanya dengan cara rajin mengosongkan isi botol minuman keras yang ada dirumah mereka, dia juga mengatur rencana supaya mamanya bisa berkencan dengan guru sekolah Trevor.
Sang mama yang melihat perhatian si anak yang begitu besar menjadi terharu, saat sang mama mengucapkan terima kasih, Trevor berpesan kepada mamanya “PAY IT FORWARD, MOM”
Sang mama yang terkesan dengan yang dilakukan Trevor, terdorong untuk meneruskan kebaikan yang telah diterimanya itu dengan pergi ke rumah ibunya (nenek si Trevor), hubungan mereka telah rusak selama bertahun-tahun dan mereka tidak pernah bertegur sapa, kehadiran sang putri untuk meminta maaf dan memperbaiki hubungan diantara mereka membuat nenek Trevor begitu terharu, saat nenek Trevor mengucapkan terima kasih, si anak berpesan :”PAY IT FORWARD, MOM”
Sang nenek yang begitu bahagia karena putrinya mau memaafkan dan menerima dirinya kembali, meneruskan kebaikan tersebut dengan menolong seorang pemuda yang sedang ketakutan karena dikejar segerombolan orang untuk bersembunyi di mobil si nenek, ketika para pengejarnya sudah pergi, si pemuda mengucapkan terima kasih, si nenek berpesan : “PAY IT FORWARD, SON”.
Si pemuda yang terkesan dengan kebaikan si nenek, terdorong meneruskan kebaikan tersebut dengan memberikan nomor antriannya di rumah sakit kepada seorang gadis kecil yang sakit parah untuk lebih dulu mendapatkan perawatan, ayah si gadis kecil begitu berterima kasih kepada si pemuda ini, si pemuda berpesan kepada ayah si gadis kecil : “PAY IT FORWARD, SIR”
Ayah si gadis kecil yang terkesan dengan kebaikan si pemuda, terdorong meneruskan kebaikan tersebut dengan memberikan mobilnya kepada seorang wartawan TV yang mobilnya terkena kecelakaan pada saat sedang meliput suatu acara, saat si wartawan berterima kasih, ayah si gadis berpesan:”PAY IT FORWARD”
Sang wartawan yang begitu terkesan terhadap kebaikan ayah si gadis, bertekad untuk mencari tau dari mana asal muasalnya istilah “PAY IT FORWARD” tersebut, jiwa kewartawanannya mengajak dia untuk menelusuri mundur untuk mencari informasi mulai dari ayah si gadis, pemuda yang memberi antrian nomor rumah sakit, nenek yang memberikan tempat persembunyian, putri si nenek yang mengampuni, sampai kepada si Trevor yang mempunyai ide tersebut.
Terkesan dengan apa yang dilakukan oleh Trevor, Si wartawan mengatur agar Trevor bisa tampil di Televisi supaya banyak orang yang tergugah dengan apa yang telah dilakukan oleh anak kecil ini. Saat kesempatan untuk tampil di Televisi terlaksana, Trevor mengajak semua pemirsa yang sedang melihat acara tersebut untuk BERSEDIA MEMULAI DARI DIRI MEREKA SENDIRI UNTUK MELAKUKAN KEBAIKAN KEPADA ORANG-ORANG DISEKITAR MEREKA agar dunia ini menjadi dunia yang penuh kasih.
Namun umur Trevor sangat singkat, dia ditusuk pisau saat akan menolong teman sekolahnya yang selalu diganggu oleh para berandalan, selesai penguburan Trevor, betapa terkejutnya sang Mama melihat ribuan orang tidak henti-hentinya datang dan berkumpul di halaman rumahnya sambil meletakkan bunga dan menyalakan lilin tanda ikut berduka cita terhadap kematian Trevor. Trevor sendiripun sampai akhir hayatnya tidak pernah menyadari dampak yang diberikan kepada banyak orang hanya dengan melakukan kebaikan penuh kasih kepada orang lain.
Mungkinkah saat kita terkagum-kagum menikmati kebaikan Tuhan di dalam hidup kita, dan kita bertanya-tanya kepada Tuhan bagaimana cara untuk mengungkapkan rasa terima kasih kepadaNya, jawaban Tuhan hanya sesederhana ini: “PAY IT FORWARD to OTHERS around YOU (Teruskanlah itu kepada orang lain yang ada disekitarmu)”

Nilai Diri Kita

Pada suatu ketika, di sebuah taman kecil ada seorang kakek. Di dekat kaket tersebut terdapat beberapa anak yang sedang asyik bermain pasir, membentuk lingkaran. Kakek itu lalu menghampiri mereka, dan berkata:
“Siapa diantara kalian yang mau uang Rp. 50.000!!” Semua anak itu terhenti bermain dan serempak mengacungkan tangan sambil memasang muka manis penuh senyum dan harap. Kakek lalu berkata, “Kakek akan memberikan uang ini, setelah kalian semua melihat ini dulu.”

Kakek tersebut lalu meremas-remas uang itu hingga lusuh. Di remasnya terus hingga beberapa saat. Ia lalu kembali bertanya “Siapa yang masih mau dengan uang ini lusuh ini?” Anak-anak itu tetap bersemangat mengacungkan tangan.
“Tapi,, kalau kakek injak bagaimana? “. Lalu, kakek itu menjatuhkan uang itu ke pasir dan menginjaknya dengan sepatu. Di pijak dan di tekannya dengan keras uang itu hingga kotor. Beberapa saat, Ia lalu mengambil kembali uang itu. Dan kakek kembali bertanya: “Siapa yang masih mau uang ini?”
Tetap saja. Anak-anak itu mengacungkan jari mereka. Bahkan hingga mengundang perhatian setiap orang. Kini hampir semua yang ada di taman itu mengacungkan tangan. :)
***
Sahabat Resensinet, cerita diatas sangatlah sederhana. Namun kita dapat belajar sesuatu yang sangat berharga dari cerita itu. Apapun yang dilakukan oleh si Kakek, semua anak akan tetap menginginkan uang itu, Kenapa? karena tindakan kakek itu tak akan mengurangi nilai dari uang yang di hadiahkan. Uang itu tetap berharga Rp. 50.000
Sahabat resensinet, seringkali, dalam hidup ini, kita merasa lusuh, kotor, tertekan, tidak berarti, terinjak, tak kuasa atas apa yang terjadi pada sekeliling kita, atas segala keputusan yang telah kita ambil, kita merasa rapuh. Kita juga kerap mengeluh atas semua ujian yang di berikan-Nya. Kita seringkali merasa tak berguna, tak berharga di mata orang lain. Kita merasa di sepelekan, di acuhkan dan tak dipedulikan oleh keluarga, teman, bahkan oleh lingkungan kita.
Namun, percayalah, apapun yang terjadi, atau *bakal terjadi*, kita tak akan pernah kehilangan nilai kita di mata Allah. Bagi-Nya, lusuh, kotor, tertekan, ternoda, selalu ada saat untuk ampunan dan maaf.
Kita tetap tak ternilai di mata Allah.
Nilai dari diri kita, tidak timbul dari apa yang kita sandang, atau dari apa yang kita dapat. Nilai diri kita, akan dinilai dari akhlak dan perangai kita. Tingkah laku kita. seberapapun kita diinjak oleh ketidak adilan, kita akan tetap diperebutkan, kalau kita tetap konsisten menjaga sikap kita.
Sahabat, akhlak ialah bunga kehidupan kita. Merupakan seberapa bernilainya manusia. Dengan akhlak, rasa sayang dan senang akan selalu mengikuti kita, dan merupakan modal hidup.
Orang yang tidak mempunyai akhlak, meskipun ia berharta, tidak ada nilainya. Meskipun dia cantik, tapi jika sikapnya buruk dan tiada berakhlak, maka kecantikannya tiada berguna baginya. Begitu pula dengan orang yang berpangkat tinggi, tanpa akhlak, dia menjadi orang yang dibenci.
Guys, thanks for reading. Hope u r well and please do take care. Wassalamualaikum wr wb. Salam hangat!!!
Oleh Irfan dan diedit dan ditambah seperlunya oleh Resensinet

Paku dan Kemarahan

Suatu ketika, ada seorang anak laki-laki yang bersifat pemarah. Untuk mengurangi kebiasaan marah sang anak, ayahnya memberikan sekantong paku dan mengatakan pada anak itu untuk memakukan sebuah paku di pagar belakang setiap kali dia marah …
Hari pertama anak itu telah memakukan 48 paku ke pagar setiap kali dia marah … Lalu secara bertahap jumlah itu berkurang. Dia mendapati bahwa ternyata lebih mudah menahan amarahnya daripada memakukan paku ke pagar.
Akhirnya tibalah hari dimana anak tersebut merasa sama sekali bisa mengendalikan amarahnya dan tidak cepat kehilangan kesabarannya. Dia memberitahukan hal ini kepada ayahnya, yang kemudian mengusulkan agar dia mencabut satu paku untuk setiap hari dimana dia tidak marah.

Hari-hari berlalu dan anak laki-laki itu akhirnya memberitahu ayahnya bahwa semua paku telah tercabut olehnya. Lalu sang ayah menuntun anaknya ke pagar. “Hmm, kamu telah berhasil dengan baik anakku, tapi, lihatlah lubang-lubang di pagar ini. Pagar ini tidak akan pernah bisa sama seperti sebelumnya. “Ketika kamu mengatakan sesuatu dalam kemarahan. Kata-katamu meninggalkan bekas seperti lubang ini … di hati orang lain.
Kamu dapat menusukkan pisau pada seseorang, lalu mencabut pisau itu … Tetapi tidak peduli beberapa kali kamu minta maaf, luka itu akan tetap ada … DAN luka karena kata-kata adalah sama buruknya dengan luka fisik …”
~Author Unknown
***
Sahabat Resensi.net, Situs cerita motivasi
memang, sebuah permintaan maaf bisa mengobati banyak hal. Namun, agaknya kita juga harus mengingat, bahwa semua itu tak akan ada artinya, saat kita mengulangi kesalahan itu kembali.
Cerita ini, adalah sebuah tamsil, sebuah amsal, sebuah ibarat dan sebuah wira-kisah. Tentang, berbuat kesalahan memang wajar, namun, ia juga mengajarkan, menghindarinya adalah hal lain yang bisa kita lakukan.